Masukkan kata kunci Anda

Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (1)

Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (1)

Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (1)

Oleh: Ilham DS

Ya, Abdul Aziz ibn Saud—ayahanda Raja Salman yang pada awal Maret 2017 diajak ber-Vlog oleh Presiden Jokowi—mengundang wartawan berdarah Yahudi menjadi tamu kehormatan, sahabat, sekaligus informan kepercayaannya! Hampir setiap hari mereka mengobrol akrab di istana. Tapi, bagaimana bisa? Simaklah kisahnya ….

***

Leopold Weiss namanya. Ia lahir pada 1900 di wilayah Kerajaan Austria. Dari garis ayahnya, ia cucu seorang rabi ortodoks. Ya, rabi Yahudi berjubah hitam dan berjenggot amat panjang sampai ke dada. Walhasil, sejak kecil,Leopold sudah fasih membaca kitab-kitab suci Ibrani beserta tafsir-tafsirnya dalam huruf dan bahasa aslinya.

Picture1

Rabi Benjamin Weiss, kakek Leopold Weiss. Foto: dari buku Guenther Windhager, Leopold Weiss alias Muhammad Asad: Von Galizien nach Arabien, Boehlau, 2008.

Dari garis ibunya, ia cucu seorang bankir Yahudi kaya. Maka, andai mau, dengan kekayaan keluarganya itu, Leopold bisa saja hidup enak dan nyaman di kota-kota besar Eropa; ia bisa saja menjadi bankir sukses pula seperti kakeknya.

Namun, siapa sangka, di usia 20 tahun, anak elite Yahudi Eropa itu akhirnya justru minggat meninggalkan kuliah filsafat dan sejarah seni di Universitas Wina. Ia tinggalkan seluruh kekayaan dan keluarganya. Berbekal cincin peninggalan almarhumah ibunya, ia kabur ke Berlin, Jerman, untuk bekerja serabutan di sana-sini, sampai akhirnya berhasil mendapat posisi yang menjanjikan di United Telegraph, sebuah kantor berita di Jerman.

Namun, karier yang baik itu tidak mampu menolong jiwanya yang selalu resah. Karya Nietzsche, Also Sprach Zarathustra (Thus Spoke Zarathustra), atau sajak-sajak Rainer Maria Rilke yang amat digemarinya,tidak banyak menolong hatinya. Demikian pula terjemahan Jerman dari Tao Te Tching: walau ia sempat tersihir kitab itu selama beberapa waktu, efeknya tidak berbekas lama.

Sebelum itu, sejak masih remaja, Leopold sudah dilanda skeptisisme akan iman Yudaisme-nya. Baginya, Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Talmud terlalu disibukkan dengan urusan-urusan ritual. Di samping itu, seperti diakuinya sendiri: “Tampak jelas pula bagiku bahwa Tuhan ini secara ajaib terlalu mementingkan nasib satu bangsa tertentu saja, bangsa Ibrani …. Tuhan tampaknya bukan sebagai pencipta dan pemelihara seluruh manusia, melainkan lebih mirip dewa suku bangsa yang menyesuaikan seluruh ciptaan sesuai dengan kebutuhan ‘bangsa terpilih’.” Maka, seperti rata-rata remaja dan pemuda Eropa pada masanya yang terpengaruh lingkungan agnostik, Leopold menjauhkan diri dari semua agama terlembaga.

Diskusi-diskusi intelektual nan bergengsi di kafe-kafe Wina bersama para pelopor psikoanalisis awal, semacam Alfred Adler, Hermann Steckl, dan Otto Gross, walau mengasyikkan, tetap tidak memuaskan kalbunya. Baginya, filosofi Spengler hanya menawarkan kekecewaan nan getir; Nietzsche hanya menyuguhkan relativisme moral; dan psikoanalisis ala Freud—walau tidak diragukan lagi bermanfaat sampai batas tertentu, pada akhirnya justru—menyuburkan nihilisme jiwa. (Sedikit gambaran tentang atmosfer intelektual, sains, dan seni di Wina, Austria, digambarkan di sini: https://indonesiana.tempo.co/read/108321/2017/02/21/desibelkoe/wina-suatu-masa-dialog-sains-dan-seni.)

Maka, di tengah kariernya yang baik di United Telegraph—sebagai pembantu redaksi kantor berita untuk pers Skandinavia—ia tinggalkan gemerlapnya Berlin, permata di jantung Eropa itu. Leopold justru pergi ke Yerusalem, memenuhi undangan berlibur dari sang Paman, Dr. Dorian Feigenbaum, yang mengepalai Rumah Sakit Jiwa di sana. Dorian adalah psikiater sekaligus murid nomor wahid Sigmund Freud, tokoh pendiri psikoanalisis. Di dalam rumah batu sang Paman di Yerusalem inilah, Leopold asyik melanjutkan diskusi tentang ilmu jiwa. Tetapi, batinnya tetap saja resah.

Picture2

Leopold Weiss sewaktu berumur 21 tahun. Kira-kira setahun sebelum melanglang buana ke negeri-negeri Islam. Foto: dari buku Guenther Windhager, Leopold Weiss alias Muhammad Asad: Von Galizien nach Arabien, Boehlau, 2008.

Suatu ketika, dari jendela rumah sang Paman, untuk pertama kali dalam hidupnya, Leopold melihat tetangga-tetangga Arabnya bersembahyang sambil menempelkan dahi ke tanah. Pemandangan baru yang ganjil ini amat berbekas dalam hatinya. Inilah kesan yang ia tulis tentang para tetangga Arabnya itu:

“Mereka adalah orang-orang miskin dan compang-camping, penunggang dan pengiring-pengiring keledai. Namun, mereka berlaku bagaikan bangsawan-bangsawan agung. Bilamana mereka duduk bersama-sama makan siang di atas tanah, dan memakan keping-keping roti tipis yang terbuat dari gandum bersama sedikit keju atau minyak olif, tak ada lain kecuali kekaguman yang mengisi perasaanku atas keagungan, ketabahan, serta ketenangan batin mereka ….

Haji itu …. Beberapa kali dalam sehari, ia mengumpulkan mereka untuk bersembahyang … di lapangan terbuka. Semua orang itu membentuk deretan panjang, sedangkan ia sebagai imam berdiri di depan mereka … semuanya membungkuk bersama-sama mengarah Makkah, bangkit lagi, dan kemudian bersujud serta menyentuh tanah dengan dahi mereka …. Matanya terpejam dan kedua tangannya tersedekap di dadanya, seraya bibirnya bergerak-gerak, mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar, dan sesungguhnya sedang tenggelam dalam kekhusyukannya. Kita akan menyaksikan bahwa ia bersembahyang dengan sepenuh jiwanya.”

Picture3

Foto kiri: Omar Mukhtar, pejuang kemerdekaan Aljazair, yang ditemui Leopold alias Asad di akhir-akhir perjuangannya. Kanan: Leopold alias Asad (berdiri) berfoto bersama Syaikh Akbar Sanusi (duduk), pemimpin Tarekat Sanusiyyah, orang yang paling dicintai di seluruh Arabia oleh sang wartawan Yahudi ini. Foto: dari pameran tentang Muhammad Asad/Leopold Weiss di Malaysia.

Pemandangan itu menarik Leopold untuk bertanya dan berkenalan lebih jauh dengan tetangga Arabnya itu. Ia penasaran, mengapa orang-orang Arab itu berlainan sekali karakter jiwanya dengan orang-orang Eropa seperti dirinya. Lalu, rasa penasarannya itu bahkan membawanya mengembara lebih jauh ke seluruh Jazirah Arab, lalu ke Turki, Mesir, Suriah, Iran, Afghanistan, Balkan, sampai Rusia. Bertahun-tahun ia mengembara memuaskan dahaga jiwanya di tengah panasnya padang pasir Rubal-Khali (Gurun Kosong) bersama suku Badui Arab.

Pekerjaan selanjutnya sebagai koresponden harian ternama Jerman, Frankfurter Allgemeine Zeitung, memudahkan Leopold (artinya: singa) bertemu tokoh-tokoh penting, mulai dari tokoh Zionis Dr. Chaim Weizman sampai rektor Universitas Al-Azhar, Syaikh Mushthafa Al-Maraghi. Di Transjordan, ia menemui Amir Abdullah dan kepala penasihatnya, Dr. Riza Tawfiq Bey. Di Hijaz, ia bersahabat dengan H. Agus Salim, ulama sekaligus tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Lewat Agus Salim, pemuda Yahudi ini lalu berkenalan dengan Sayyid Ahmad Sanusi dan pengikutnya yang terkenal, Omar Mukhtar. Sayyid Ahmad adalah tokoh pergerakan kemerdekaan Aljazair dan Libia, sekaligus imam Tarekat Sanusiyyah. Adapun Omar Mukhtar adalah pahlawan Libia yang gagah berani, yang akhirnya dieksekusi kolonialis Italia. Di samping rakyat biasa, berbagai amir, bangsawan, dan ulama di Jazirah Arab hingga Iran dan Afghanistan ia temui dan wawancarai.

Pengembaraannya selama bertahun-tahun itu dan perkenalannya dengan banyak manusia dari berbagai kalangan di negeri-negeri Islam memberikan kesan yang amat kuat dalam hatinya. Akhirnya, pada 1926—dalam usia 26 tahun—setelah melewati pergulatan batin dan pergolakan intelektual yang panjang dan melelahkan, ia pun mengucapkan kalimat syahadat di sebuah masjid di Berlin, Jerman.

Singa Yahudi ini pun berubah menjadi Singa Arab: ia berganti nama dari Leopold Weiss menjadi Muhammad Asad; sama dengan “Leopold”, “Asad” adalah kata Arab yang berarti singa. Pada tahun yang sama, sang Singa ini menikahi perempuan Eropa beranak satu dan memboyong mereka hijrah ke Makkah.

Di kota suci ini, sosok unik cucu rabi Yahudi ini pun akhirnya menarik perhatian penguasa Makkah dan Madinah saat itu, Abdul Aziz ibn Saud. Diawali sebuah undangan dari sang penguasa, akhirnya terjalinlah persahabatan akrab bertahun-tahun antara wartawan berdarah Yahudi itu dengan Ibn Saud, yang nantinya akan menjadi pendiri Kerajaan Saudi Arabia, sekaligus rajanya yang pertama. Ya, Abdul Aziz ibn Saud—ayahanda Raja Salman yang baru-baru ini diajak ber-Vlog di Istana Presiden oleh Jokowi—mengundang wartawan berdarah Yahudi menjadi tamu kehormatan, sahabat, sekaligus informan kepercayaannya!

Picture4

Cuplikan halaman dalam autobiografi Muhammad Asad, The Road to Mecca. Di halaman kanan, tampak foto pendiri Kerajaan Saudi Arabia, Raja Abdul Aziz ibn Saud, sahabat sang wartawan berdarah Yahudi, Muhammad Asad.

Namun sebelum itu, pada tahun awal keislaman sekaligus perkawinannya, sang mualaf ini diberi ujian mahaberat: sang istri tercinta, Elsa Aziza Schiemann, yang usianya belasan tahun lebih tua darinya, yang khusus ia boyong dari Eropa ke negeri Arab, terserang penyakit di Makkah dan wafat.[]

 

[Bersambung:“Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (2)”]