Masukkan kata kunci Anda

Kenali Para Tokoh Ini Dibalik Sejarah Pers Indonesia

Kenali Para Tokoh Ini Dibalik Sejarah Pers Indonesia

Salam, sahabat Mizan tahukah kalian kalau tanggal 9 Februari  juga diperingati sebagai  Hari Pers Nasional?

Peringatan ini juga merujuk pada hari berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sebagai organiasasi resmi yang menaungi  kegiatan pers di Indonesia.

Dalam peringatan Hari Pers Nasional di tahun 2019, yuk kenali beberapa tokoh pers Indonesia yang terkenal dan berpengaruh dalam perjalan pers di Indonesia.

Tirto Adhi Soerjo (1880-1918)

Tirto Adhi Soerjo
Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Tirto_Adhi_Soerjo

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo sangat berpengaruh bagi perjalanan pers di Indonesia, beliau dikenal sebagai bapak pers Indonesia dan juga perintis Pers Nasional. Pada tahun 1973 beliau dianguerahi gelar Bapak Pers Nasional oleh Dewan Pers RI.

Tirto Adhi Soerjo menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907) dan Putri Hindia (1908). Surat–surat kabar tersebut menjadi tonggak hadirnya surat-surat kabar bumiputera, yakni surat kabar yang menggunakan bahasa Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan, penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli.

Pria Kelahiraan tahun 1880 ini juga mendirikan Sarikat Dagang Islam dan pemrakarsa Sarikat Islam. Tepat pada tanggal 7 Desember 1918 beliau meninggal dunia.

 

 

Mochtar Lubis (1922—2004)

Mochtar Lubis Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Mochtar_Lubis

Mochtar Lubis dikenal sebagai seorang jurnalis dan sastrawan ternama di Indonesia, beliau lahir pada tanggal 7 Maret 1922 di Padang, Sumatera Barat. Sebagai seorang wartawan, Mochtar Lubis dikenal dengan pemikiran yang tajam dan kritis. Pada pemerintahan Soekarno ia pernah dijebloskan dalam penjara selama Sembilan tahun. Selain itu, ia juga mendirikan Kantor Berita Antara, dan juga mendirikan serta memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit.

Selain dikenal sebagai wartawan, Mochtar Lubis juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Beberapa novel yang ia karang masih terbit  hingga saat ini, di antaranya  Harimau-Harimau (1975), Senja di Jakarta (1963), dan Jalan Tak ada Ujung (1952). Penerima penghargaan Magsaysay Journalism and Literature Award ini,  meninggal dunia di RS Medistra, Jakarta pada Jumat 2 Juli 2004.

 

BM Diah  (1917- 1996)

B.M. Diah Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/B.M._Diah

Burhanuddin Mohammad Diah atau yang akrab disapa BM Diah adalah wartawan senior yang menjadi saksi perumusan naskah proklamasi di kediaman Laksamana Maeda. Ia juga terlibat langsung dalam menyebarkan berita proklamasi kemerdekaan dengan mencetak surat kabar dan selebaran lalu menyebarkannya ke pelosok Indonesia.

Pada awal Oktober 1945 BM diah mendirikan Harian Merdeka dan menjadi pemimpin redaksi. Selain menjadi seorang wartawan, BM diah juga pernah menjabat sebagai duta besar untuk beberapa negara, seperti  Chekoslovakia, Inggris, dan Thailand. Pria yang juga pernah menjabat sebagai menteri penerangan ini, meninggal pada tanggal 10 Juni 1996 di umur 79 tahun.

 

 

 

Rosihan Anwar (1922-2011)

Rosihan Anwar Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Rosihan_Anwar

Rosihan Anwar bukanlah nama asing dalam dunia pers atau jurnalistik Indonesia, Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (1968-1974). Rosihan Anwar adalah orang yang sangat konsisten dengan profesinya sebagai  wartawan, hingga usia senja pun ia masih aktif dalam menulis di media massa dan membuat buku. Ia bahkan dijuluki sebagai wartawan lintas Zaman.

Selain sebagai seroang wartawan, Rosihan Anwar juga aktif terlibat dalam dunia perfilman. Ia pernah mendirikan Perfini (Perusahaan Film Nasional) bersama Usmar Ismail, serta terlibat langsung sebagai seorang aktor dalam sejumlah judul film. Rosihan Anwar meninggal dunia di di Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta Selatan, pada tanggal 14 April 2011.

Peringatan Hari Pers Nasional sejatinya mengingatkan kepada kita  betapa pentingnya peranan pers dalam penyampaian informasi kepada masyarakat. Kebebasan pers di Indonesia harus terus digaungkan, dan tentunya harus sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik yang sesuai dalam menyampaikan informasi.