Masukkan kata kunci Anda

Kebangkitan Generasi Baru: Penerbitan Buku Islam dan Masyarakat Islam di Indonesia

Kebangkitan Generasi Baru: Penerbitan Buku Islam dan Masyarakat Islam di Indonesia

*Artikel di buku Milad Mizan ke-20 tahun 2003

Kebangkitan Generasi Baru: Penerbitan Buku Islam dan Masyarakat Islam di Indonesia

Putut Widjanarko*

Kaum Muda Islam pada Dasawarsa 1980-an

Pada akhir 1970-an, lebih-lebih lagi pada dasawarsa 1980-an, di kalangan masyarakat Islam Indonesia muncul sebuah fenomena yang melahirkan sebuah generasi baru Islam di Indonesia. Pada saat itu, kita menyaksikan berbagai aktivitas yang dinamis dan penuh semangat dari para mahasiswa Muslim di masjid-masjid kampus, terutama di sejumlah universitas “sekuler” seperti Salman (ITB), Arief Rahman Hakim (UI), Al-Ghifari (IPB), dan Jamaah Shalahuddin (UGM). Intensitas, kreativitas, dan jumlah mahasiswa Muslim di masjid-masjid kampus sebelumnya tidak pernah sebesar ini. Ada beberapa faktor yang, dengan satu dan lain cara, memunculkan dinamika ini.

Pertama, pergeseran demografis dalam masyarakat Indonesia. Pertumbuhan ekonomi di bawah pemerintahan Orde Baru dan meningkatnya kesempatan pendidikan me­mungkinkan peningkatan mobilitas masyarakat, dan karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, dengan sendirinya keluarga Muslim yang mampu mengirim putra-putri mereka ke universitas pun meningkat (Ali-Fauzi dan Bagir, 1989).

Kedua, depolitisasi kampus-kampus di Indonesia. Me­nyusul kerusuhan mahasiswa 1978, pemerintahan Orde Baru mengeluarkan kebijakan NKK/BKK (Normalisasi Kehi­dupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) yang tidak populer untuk mengebiri kegiatan politik mahasiswa di kampus. Sejak itu, sejumlah mahasiswa masih berusaha mempertahankan dan meneruskan nuansa politik dari kegiatan-kegiatan mereka di kampus dan mengubah agenda mereka ke dalam isu-isu lokal (korupsi di kampus, pem­belaan sengketa tanah, dsb.) dan membentuk kelompok-kelompok studi untuk membahas masalah-masalah masya­rakat, mengikuti contoh sejumlah tokoh bangsa yang ber­ada di bawah tekanan penjajah Belanda (Denny, 1989; Zakir, 1989; Aspinall, 1993). Bagaimanapun, kegiatan-kegiatan ini tidak pernah mampu menarik minat para mahasiswa seba­­gai­mana sebelumnya. Malahan, lebih banyak lagi maha­siswa Muslim yang mengabdikan energi dan waktu mereka untuk kegiatan masjid dan memusatkan perhatian pada ke­giatan-kegiatan budaya dan pendidikan, alih-alih kegiatan politik (Ali-Fauzi dan Bagir, 1998). Sebagaimana dicatat Rizal Ramli, pada 1970-an kegiatan politik mendominasi pusat-pusat kegiatan mahasiswa, sedangkan pada 1980-an “seluruh kegiatan disalurkan ke masjid” (Schwartz 1994, h. 174).

Ketiga, depolitisasi Islam. Pemerintahan Orde Baru telah menekan artikulasi Islam politik dengan mengeluarkan se­jum­lah kebijakan, di antaranya kebijakan asas tunggal yang memaksa seluruh ormas menerima Pancasila sebagai asas mereka. Lebih-lebih lagi, gerakan modernisme yang dipim­pin Nurcholish Madjid dengan slogannya yang terkenal Islam Yes, Partai Islam No telah melegakan pihak-pihak yang sebe­lumnya khawatir dituduh tidak islami karena ingin menunjukkan keislaman mereka tanpa perlu bergabung dengan partai Islam. Pemisahan Islam dari politik ini me­mungkinkan sejumlah sumber daya Islam untuk disalurkan ke berbagai kegiatan nonpolitik, seperti kebudayaan, pendidikan, dan kegiatan dakwah. Hasilnya adalah pertum­buhan minat yang demikian pesat terhadap Islam, baik di kalangan menengah maupun masyarakat urban (Ali-Fauzi dan Bagir, 1989; Hefner, 1993; Mahasin, 1995) serta di dae­rah pedesaan (Hefner, 1987).

Keempat, semangat kebangkitan peradaban Islam pada abad ke-15 H. Menurut penanggalan Hijriah, abad ke-15 H dimulai pada 1980. Salah satu hadis Rasulullah Saw. menye­butkan bahwa pada setiap pergantian abad, akan terjadi suatu perubahan mendasar di kalangan umat Muslim dan seorang pembaru (mujadid) akan lahir. Terjajah dan men­jadi negara belum berkembang selama berabad-abad, abad baru ini membawa harapan tentang suatu zaman Renaisans di kalangan umat Islam di seluruh dunia. Pertumbuhan eko­nomi yang dialami sejumlah negara Muslim, terutama yang berasal dari boom minyak, telah menimbulkan semangat akan masa depan cemerlang peradaban Islam, mencapai kejayaan yang pernah diraih Muslim pada Abad Perte­ngah­an. Berbagai seminar internasional, nasional, dan lokal diadakan dalam berbagai tema, semua berkaitan dengan kebangkitan peradaban Islam.

Kelima, keberhasilan revolusi Islam di Iran 1979 meng­gulingkan rezim Reza Pahlevi yang didukung Barat. Bagi sejumlah Muslim, peristiwa spektakuler ini membuktikan bahwa Barat bukannya “tidak bisa dikalahkan”, dan mem­berikan suatu keyakinan akan kekuatan umat Muslim, layaknya kemenangan Jepang terhadap Rusia. Gambar dan poster Ayatullah Khomeini umum ditemukan tertempel pada dinding-dinding kamar indekos mahasiswa dan rumah-rumah mereka pada 1980-an.

Sebagaimana kita saksikan, dua fenomena terakhir, isu kebangkitan peradaban Islam dan revolusi Islam Iran, merupakan isu umat Islam secara global. Terlepas dari pengaruh keduanya yang juga tampak pada dinamika Muslim di Indonesia pada 1980-an, saya yakin bahwa tiga faktor pertama lebih berpengaruh terhadap meningkatnya ghirah Islam di Indonesia.

Era Baru Penerbitan Islam

Berlawanan dengan kemunduran pada 1980-an ini, sejum­lah penerbit buku Islam lahir untuk menanggapi kebutuhan generasi baru Islam terhadap bacaan. Beberapa penerbit yang berfokus pada buku-buku Islam, seperti Al-Ma’arif dan Bulan Bintang, akhirnya tenggelam oleh para pendatang baru ini. Al-Ma’arif didirikan pada 1949 oleh H.M. Baharthah, seorang migran asal Hadrami yang tiba di Hindia Belanda pada 1930-an. Berakhirnya penjajahan Belanda, disusul dengan menyusutnya bahan-bahan terbitan dalam bahasa Belanda, menghantam bisnis penerbitan yang dimiliki pengusaha-pengusaha Belanda. Dengan Al-Ma’arifnya, yang didirikan dua pekan setelah perjanjian damai yang ditandatangani di Amsterdam, Baharthah memanfaatkan kesempatan dengan menerbitkan Al-Quran (Peeters, 1998). Belakangan, Al-Ma’arif menerbitkan buku Islam dalam berbagai topik. Penerbitan Al-Quran sendiri kini merupakan sumber utama—kalau bukan satu-satunya—penghasilan Al-Ma’arif, dan tanpanya penerbitan itu tak mungkin ber­jalan.

Sementara itu, Bulan Bintang didirikan pada 1951 oleh wartawan dan politisi Abdul Manaf Zamzami, yang lebih dikenal dengan Amelz. Buku pertamanya adalah Islam dan Socialisme, ditulis oleh H.O.S. Tjokroaminoto, Pemimpin Sarekat Islam, disusul dengan dua buku Tjokroaminoto yang lain. Amelz memang menjadi salah seorang wakil Sarekat Islam di parlemen. Belakangan, Bulan Bintang menjadi dekat dengan Partai Masjumi, partai Muslim terbesar pada 1950-an, berawal dengan kemitraan antara Amelz dan Muhammad Natsir, Pemimpin Masjumi, men­dirikan toko buku yang dinamai Tamaddun, yang secara cepat menjadi salah satu lembaga Islam terkemuka di Jakarta (Peeters, 1998). Tak diragukan lagi, Bulan Bintang kemudian tampil sebagai penerbit Islam paling penting pada 1960-an dan 1970-an, baru kemudian menurun pada 1980-an. Di samping buku-buku terjemahan yang ditulis oleh penulis-penulis Muslim asing, Bulan Bintang juga mener­bitkan banyak karya para tokoh Muslim senior, seperti Hasbi Ash-Shiddieqy, A. Hasjmy, Hamka, Zainal Abidin Ahmad, dan Syafruddin Prawiranegara. Bulan Bintang mencapai puncak kejayaannya pada 1977-1978, ketika menerbitkan 10 judul buku baru per bulan, dan perlahan menurun pada 1980-an dengan hanya 3 sampai 5 judul buku baru per bulan. Pada 1982, Amelz meninggal dunia, meninggalkan Bulan Bintang dengan sejumlah persoalan manajerial yang tak teratasi (Dwi, 2001). Bersamaan dengan kemerosotan Al-Ma’arif dan Bulan Bintang itulah, sebagaimana dijelaskan di atas, lahir penerbit-penerbit baru yang dibangun oleh generasi yang lebih muda. Penerbit-penerbit ini menyun­tikkan suatu energi dan antusiasme baru dalam wacana keislaman. Pada 1980-an buku-buku Islam yang diterbitkan bertambah banyak, dan ini memberikan kepada masyarakat Muslim pasar buku dengan berbagai pilihan, sementara jelas sekali pasar tersebut merespons dengan sangat positif. Peningkatan ini diakui Tempo, majalah berita paling ter­ke­muka di Indonesia, sampai-sampai mereka mengadakan diskusi khusus tentang hal ini pada 1987 untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-16. Pada acara tersebut, Tempo menerbitkan indeks buku-buku agama yang dimiliki Bagian Perpustakaan dan Dokumentasi majalah tersebut sejak 1980 (Tempo, 1987). Mengakui bahwa indeks tersebut tidak­lah komprehensif, karena hanya didasarkan pada kiriman buku dari para penerbit, Tempo mencatat 809 judul baru buku Islam yang diterbitkan dari 1980 hingga pertengahan 1987. Riset lanjutan mengenai indeks ini semakin menarik jika kita membandingkan datanya dengan indeks lain yang diterbitkan pada 1987 dan 1988 oleh Pusat Informasi Islam Yayasan Masagung, yang mencatat buku-buku Islam yang dikoleksi Yayasan Idayu sejak 1945 (Pusat Informasi Islam, 1987, 1988).

Di antara sekian banyak penerbit yang didirikan pada 1980-an, ada empat penerbit yang secara khusus menarik untuk dibahas lebih jauh. Mereka adalah Pustaka Salman (1980), Shalahuddin Press (1983), Mizan (1983), dan Gema Insani Press (1986). Pustaka Salman, sebagaimana terlihat namanya, adalah bagian dari Masjid Salman, masjid terke­muka Institut Teknologi Bandung. Pustaka telah mener­jemahkan berbagai karya penting Fazlur Rahman, tokoh neomodernis Islam asal Pakistan yang kontroversial, juga karya-karya lain seperti karya populer Edward Said, Orien­talisme. Pustaka Salman, meskipun masih aktif hingga saat ini, telah merosot dan gagal mendapatkan peran serta pang­sa pasar yang berarti sejak 1990-an. Keadaan yang lebih buruk dihadapi Shalahuddin Press, ketika penerbit itu ber­henti menerbitkan buku sekitar 1988-1989, tampaknya karena beberapa masalah manajerial. Shalahuddin Press me­ru­pakan bagian dari Jamaah Shalahuddin, organisasi maha­siswa Islam Universitas Gajah Mada yang sangat aktif dan dinamis. Pada masanya Shalahuddin Press menghasil­kan buku-buku dengan sampul yang artistik. Bahkan kalau diru­nut, sampul buku “gaya Yogyakarta” saat ini pun ter­inspi­­rasi oleh gaya sampul buku Shalahuddin Press. Bagai­manapun, di samping sampul buku, kontribusi Shalahuddin yang paling penting adalah upayanya menerbitkan karya-karya cendekiawan Muslim Indonesia, terutama yang ber­mukim di Yogyakarta. Meskipun sebagian besar ber­ukuran tipis dan kecil, karena tampaknya diambil dari makalah seminar atau diskusi, buku-buku itu memperkenal­kan generasi muda cendekiawan Muslim, seperti Syafii Maarif, Syahirul Alim, Kuntowijoyo, dan Amien Rais, kepada kha­layak Muslim yang lebih luas di Indonesia.

Mizan dan Gema Insani Press telah tumbuh dan me­rebut pangsa pasar yang besar di kalangan Muslim hingga saat ini, tampak terutama dari produktivitas keduanya dalam menerbitkan buku-buku baru. Gema Insani Press didirikan pada 1986 oleh Umar Basyarahil, seorang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti dan pernah menjadi Ketua Pemuda Al-Irsyad, kelompok muda dari organisasi warga Indonesia-Arab Al-Irsyad (Assad, 1994). Buku pertama Gema Insani Press mengangkat perjuangan Mujahidin mela­wan Rusia dalam Perang Afghanistan. Buku tersebut lang­sung melesat sukses, dan mendorong Basyarahil mengem­bangkan usahanya dengan menerbitkan lebih banyak buku. Sejak saat itu, Gema Insani Press telah memfokuskan diri pada penerjemahan buku-buku karya penulis Timur Tengah, serta penulis-penulis yang memiliki kaitan dengan Ikhwanul Muslimin, seperti Yusuf Qardhawi, Muhammad Quthb, Sayyid Quthb, Muhammad Al-Ghazali, dll. Dengan bebe­rapa perkecualian, Gema Insani Press memilih tema-tema ajaran Islam “normatif”: keluarga, wanita, buku-buku Islam praktis, dan semacamnya. Meskipun berusaha menerbitkan juga buku-buku dengan kadar “akademik” yang lebih tinggi, Gema Insani Press masih tampak lekat dengan citra awal­nya. Selama beberapa tahun terakhir, Gema Insani Press telah berhasil memasarkan buku-buku rujukan berjilid-jilid (voluminous), seperti Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Fi Zhilalil-Quran yang ditulis oleh Sayyid Quthb.

Gambaran lain mengenai penerbit yang lahir pada era 1980-an adalah Mizan. Didirikan pada 1983 oleh Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin, dengan dukungan keuangan dan manajemen dari Abdillah Toha dan Anis Hadi, Mizan dengan cepat menyedot perhatian pembaca Muslim dengan buku pertamanya, Dialog Sunnah-Syi‘ah yang lang­sung menjadi best seller dan sempat berperan dalam mem­berikan citra Mizan sebagai penerbit Syi‘ah (untuk latar bela­kang pendirian Mizan, lihat Peeters, 1998). Mizan mener­bitkan 6 judul baru pada 1983, dan melonjak menjadi 22 judul pada tahun kedua.

Dari katalog serta kronologi penerbitannya sampai 1990-an, Mizan telah menerbitkan buku-buku dengan ber­bagai tema dan dari sejumlah penulis yang juga diterbit­kan penerbit lain seperti Gema Insani Press. Pada masa-masa awal Mizan aktif menerbitkan karya-karya yang termasuk dalam kategori yang disebut terakhir ini, yaitu buku-buku karangan para pemimpin Ikhwanul Muslimin, seperti Hasan Al-Banna, Muhammad Quthb, Sayyid Quthb, Muhammad Al-Ghazali, dan Yusuf Qardhawi; buku-buku karya Abul A’la Al-Maududi dari Jamaah Al-Islamiyah; buku-buku karya Imam Al-Ghazali, dll. Buku-buku tasawuf juga tergolong ke dalam kategori ini, seperti karya-karya Alammah Abdullah Al-Hadad, Abdul Qadir Jailani, Al Kalabadzi, dll. Pada masa-masa berikutnya, Mizan menerjemahkan buku-buku karya pemikir Muslim kontemporer dan “modernis”, seperti Ismail Raji Al-Faruqi, Muhammad Iqbal, Seyyed Hossein Nasr, Fazlur Rahman, Ziauddin Sardar, dan Munawar Ahmad Anees. Ini menandai pergeseran dari buku-buku yang “fun­damental” ke buku-buku yang lebih mengedepankan wa­cana pemikiran.

Bagaimanapun, ada setidaknya dua kategori besar yang menggolongkan buku-buku terbitan Mizan, yang mem­buat penerbit ini pada mulanya berbeda dengan penerbit lain.

Kategori pertama adalah buku-buku yang ditulis oleh para cendekiawan, ulama, dan pemikir Syi‘ah. Sebagaimana kita ketahui, sebuah perpecahan telah terjadi antara Sunni dan Syi‘ah, berpangkal pada masa awal sejarah Islam, hanya beberapa tahun setelah wafatnya Rasulullah Saw. Mengingat fakta bahwa mayoritas Muslim di Indonesia adalah Sunni, dan kecurigaan bahwa Republik Islam Iran akan meng­ekspor revolusinya, penerbitan karya-karya Syi‘ah ini jelas meng­undang keingintahuan sekaligus kecurigaan. Sebenar­nya­lah, buku pertama yang diterbitkan Mizan Dialog Sunnah-Syi‘ah yang langsung menjadi best seller, secara langsung pula menobatkan citra Mizan sebagai penerbit Syi‘ah. Buku pertama ini segera disusul oleh karya-karya seorang ideo­logis yang cerdas dan bersemangat, Ali Syariati, ulama dan filosof terkemuka, Murtadha Muthahari, dan Muhammad Husain Thabathabai, serta pemimpin revolusi Iran sendiri, Ayatullah Khomeini. Sejarahwan Azyumardi Azra (2001) menyatakan bahwa penerjemahan karya-karya Syi‘ah “lebih dramatis (dibanding dengan penerjemahan karya-karya pemikir Timur Tengah)…dan sangat tak terduga di tengah wacana keislaman yang didominasi oleh Muslim Sunni.” Harun Nasution, seorang reformer Islam terkemuka di Indonesia, menggarisbawahi bahwa sementara pemikiran filosofis telah mandeg di Dunia Muslim Sunni, tidak demi­kian halnya di Dunia Muslim Syi‘ah. Karena itu, bagi Nasution, teologi rasional yang dibangun oleh para pemikir Syi‘ah lebih menarik bagi kalangan intelektual Muslim di Indonesia (Tempo, 1987).

Meskipun terdapat sejumlah upaya menuntut pem­berangusan aliran Syi‘ah di Indonesia, para pemikir Syi‘ah kini telah diakui sebagai salah satu sumber wacana keislam­an di Indonesia. (Perlu dicatat bahwa Syi‘ah sempat dilarang di Malaysia dan Brunei oleh ulama-ulama setempat). Bebe­rapa tahun lalu, misalnya, sebuah seminar yang melibatkan beberapa organisasi Muslim diadakan, dan menghasilkan sebuah rekomendasi resmi untuk pemerintah agar melarang aliran Syi‘ah di Indonesia. Oleh karena itu, sungguh sesuatu yang menarik ketika antropolog Madrid (2001, hh. 64-65) mengungkapkan bahwa Ali Syariati merupakan nama pemikir kedua yang paling sering dikutip setelah Nurcholish Madjid oleh para subjek penelitiannya—mahasiswa Muslim di Yogyakarta, sebagian besar memiliki kecenderungan salafiyah, hingga hampir tidak mungkin menyukai pemikiran aliran Syi‘ah. Ali Syariati bahkan lebih sering dikutip ketim­bang Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna, dan Abul A’la Al-Maududi.

Kategori kedua yang menempatkan Mizan pada posisi penting serta berbeda dalam wacana keislaman di Indonesia adalah penerbitan Seri Cendekiawan Muslim. Pada 1987, Mizan mulai menerbitkan buku-buku karya cendekiawan Muslim yang tergolong generasi muda jika dibanding dengan para cendekiawan senior yang karyanya diterbitkan Bulan Bintang. Meskipun sebagian besar buku-buku ini merupa­kan kumpulan tulisan, kompilasi dari berbagai makalah dan artikel surat kabar dan majalah, seri ini mendapat sambutan hangat dari pembaca Muslim yang haus akan gagasan dan pandangan para cendekiawan Muslim Indonesia. Dalam seri ini, Mizan telah menerbitkan karya-karya cendekiawan Muslim Indonesia dari berbagai perspektif, seperti modernis Harun Nasution dan Nurcholish Madjid, tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Amien Rais, Ahmad Syafii Maarif, Ahmad Azhar Basyir, dan Kuntowijoyo, para ulama NU seperti Alie Yafie dan Masdar F. Ma’sudi, serta para tokoh senior yang kembali tampil seperti Hartono Mardjono dan Deliar Noer, dan tokoh yang sering kali dikaitkan dengan aliran Syi‘ah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat. Karya-karya penulis seperti Quraish Shihab, Azyumardi Azra, Fachry Ali, Bachtiar Effendi, H.A. Mukti Ali, M. Dawam Rahardjo, Emha Ainun Nadjib, Mohamad Sobary, Marwah Daud Ibrahim, Ahmad M. Saefuddin, serta penulis lainnya, juga telah diterbitkan Mizan. Dalam hal ini, Mizan tentu telah berhasil mendokumen­tasikan dan mencatat wacana ke­islaman yang terjadi di kalangan Muslim Indonesia.

Belakangan, pada 1990-an, arah wacana yang dipilih Mizan ini—yakni pemikiran-pemikiran Islam populer yang mengedepankan pemikiran rasional—kemudian diikuti oleh penerbit-penerbit lain. Bahkan dalam beberapa hal, mereka dapat menemukan pilihan-pilihan tema yang lebih menyedot perhatian publik dan melakukan pengemasan dengan sentuhan artistik yang lebih memikat. Menyikapi perkembangan baru ini, pada tahun-tahun belakangan, Mizan mencoba mencari ceruk-ceruk wacana yang memiliki bobot akademis yang tinggi. Wacana baru ini dikelompok­kan ke dalam tema-tema dengan nama Filsafat (misalnya: Pengantar Filsafat Islam dan Sejarah Filsafat Islam), Fenomena atau Kajian Agama (misalnya: Sejarah Tuhan dan Ajal Agama di Tengah Kedigdayaan Sains?), Peradaban (misalnya: History of the Arab People, Humanism in the Renaissance of Islam, dan Religion, Learning & Science in the Abbasid Period), dan Hubungan Sains-Agama (misalnya: Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu dan Juru Bicara Tuhan).

Akan tetapi, Mizan tidak meninggalkan sama sekali ceruk-ceruk lama yang pernah digarapnya, dengan cara membangun anak-anak penerbit yang menyasar tema-tema dan segmen-segmen khusus, yakni Al-Bayan (tema-tema keislaman praktis); Arasy (tema-tema pemikiran keislaman populer yang tidak terlalu akademis); Hikmah (tema-tema akhlak, kesalehan, dan spiritualitas); Harakah (tema-tema pergerakan Islam); dan Teraju (buku ajar dan hasil-hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi dengan penekanan khusus pada kajian filsafat).

Penutup

Wacana keislaman di Indonesia telah berkembang sangat dinamis sejak 1980-an. Toko-toko buku, seperti Gramedia dan Gunung Agung, menyediakan tempat bagi buku-buku Islam ini dalam jumlah besar. Penerbit-penerbit baru pun bermunculan, beberapa di antaranya dapat bertahan dan terus beroperasi hingga saat ini untuk turut menangguk bagian dari pasar yang terus berkembang. Salah satu kecen­derungan yang terus terlihat adalah kembalinya minat terhadap buku-buku harakah atau gerakan Islam, yang sedikit banyak memperkenalkan garis pemikiran funda­mentalisme Islam. Makin banyak buku-buku, terutama yang ditulis oleh tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin telah diterje­mahkan dan diterbitkan oleh penerbit-penerbit seperti Era Inter Media dan Asy-Syamil, dan mendapat sambutan yang baik di pasaran. Kecenderungan ini juga tampak pada penerimaan terhadap majalah-majalah Islam, seperti Sabili, di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Mizan, bagaimana­pun, mencoba konsisten untuk menawarkan buku-buku yang memiliki bobot intelektual kepada masyarakat. Sungguh akan sangat menarik mencermati bagaimana wacana Islam akan berkembang di negara Muslim terbesar ini pada tahun-tahun mendatang, di tengah masa yang sangat krusial ketika kecenderungan fundamentalisme agama semakin kuat.[]

Kepustakaan

Ali-Fauzi, I., Haidar Bagir, “Mencari Diri Sendiri, Mencari Islam”, dalam Ihsan Ali-Fauzi dan Haidar Bagir, Mencari Islam, Bandung: Mizan,1989.

Aspinall, E., Student Dissent in Indonesia in the 1980s, Clayton, Victoria, Australia: The Center of Southeast Asian Studies, Monash University, 1993.

Assad, A.S., “Tasyakur Gema Insani Press [Gema Insani Press’ Thankfullness],” 1994.

Media Dakwah, no. 237, hh. 65.

Azra, A., “Perbukuan Islam di Indonesia: Merambah Intelek­tualisme Baru”, Mimbar Ulama, vol. 23, no. 270, hh. 16-21, 2001.

Denny, J.A., Understanding the Indonesian Student Movement in the 1980s.

Prisma, no. 47, hh. 73-78, 1989.

Dwi, “Penerbit Bulan Bintang, Riwayatmu Kini”, Sabili, vol. 8, no. 25, hh. 26-27, 2001.

Hefner, R.W., “Islamizing Java? Religion and Politics in Rural East Java”, Journal of Asian Studies, vol. 46, no. 3, hh. 533-554, 1987.

Hefner, R.W., “Islam, State, and Civil Society: ICMI and the Struggle for the Indonesian Middle Class”, Indonesia, no. 56, hh. 1-37, 1993.

Madrid, R., Fundamentalist and Democracy: The Political Culture of Indonesian Islamist Students, Doctoral dissertation, Ann Arbor MI: UMI, 2001.

Mahasin, A., Akar Sosial ICMI, ed. Nasrullah Ali-Fauzi, ICMI: Antara Status Quo dan Demokrasi, Bandung: Mizan, hh. 57-61, 1995.

Mosaik Mizan, Katalog yang Diterbitkan untuk Merayakan Ulang Tahun Mizan yang ke-15, Bandung: Mizan, 1998.

Peeters, J., Islamic Book Publishers in Indonesia: A Social Network Analysis, dalam Paul van der Velde dan Alec McKay (eds.), New Development in Asian Studies, London: Keegan Paul International and International Institute for Asian Studies, hh. 209-222, 1998.

Pusat Informasi Islam, Yayasan Masagung, Buku Islam Sejak 1945, edisi pertama, Jakarta: CV Haji Masagung, 1987.

Pusat Informasi Islam, Yayasan Masagung, Buku Islam Sejak 1945, edisi kedua, Jakarta: CV Haji Masagung, 1988.

Schwartz, A., 1994, A Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s, Boulder CO: 1994.

Tempo, “Diskusi Buku Agama: Trend Bacaan 1980-an, Cermin Meningkatnya Telaah Keagamaan”, Jakarta: Tempo, 1987.

Zakir, B., “The Student Movement: Its Function and Prospect”, Prisma, no. 47, hh. 78-82, 1989.

* Tulisan ini diambil dari makalah yang ditulis untuk sebuah konferensi di New York, AS.