Masukkan kata kunci Anda

Kata Mereka Tentang Hernowo Hasim

Kata Mereka Tentang Hernowo Hasim

Kamis, 24 Mei 2018 sekitar pukul 20:30, saudara, rekan kerja, sekaligus guru kita di Mizan telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Almarhum adalah Hernowo Hasim, seorang senior editor di Mizan.

Dunia tulis menulis sudah almarhum geluti bertahun-tahun. Kiprahnya dibuktikan dengan karya-karyanya yang mencapai 38 judul buku. Karya terakhirnya yang telah terbit berjudul “Free Writing”.

Sebagai saudara, rekan kerja,  sekaligus guru, beginilah kata mereka – orang-orang yang ditinggalkan – tentang almarhum.

 

WhatsApp Image 2018-05-25 at 08.24.17

 

Hernowo Adalah Monumen

Haidar Bagir

 

Saya biasa sesekali dalam beberapa kunjungan ke Bandung, mampir ke rumah almarhum. Saya ke rumahnya terakhir kali beberapa waktu setelah saya dengar kabar bahwa almarhum terjatuh dan mengalami cedera tulang. Masih bersemangat seperti biasa. Suaranya selalu meninggi jika pembicaraan menyentuh topik membaca buku dan menulis. Kami ngobrol asyik sampai isteri saya menjemput karena kepulangan kami ke Jakarta sudah tertunda lama.

Pertemuan terakhir adalah waktu beliau hadir di acara sharing saya tentang kebahagiaan di MOrocCO Resto di bilangan Cinere. Saya sudah dengar sebelumnya bahwa almarhum akan hadir. Jadi, sejak sebelum ketemu saya sudah bersemangat untuk mengajaknya mampir makan siang di rumah saya, yang berlokasi tak jauh dari tempat acara. Sayang, ternyata almarhum harus segera mengajar di STFI Sadra siang itu.

Almarhum memang sudah sejak sebelum itu tampaknya mengapresiasi serial video saya tentang kebahagiaan di Youtube. Pernah juga meminta episode tertentu untuk diajarkan ke siswa-siswanya.
Waktu itu almarhum masih bersemangat dan terus melempar senyum-senyum lebarnya sambill kami terus mengobrol.

Mas Hernowo bukan saja sudah banyak melahirkan al-baqiyat ash-shalihah (amal2 salih yang terus tinggal) – bahkan sekaligus semuanya itu menjadi amal jariahnya: ilmu yang bermanfaat besar, yang telah menginspirasi ratusan atau ribuan murid-muridnya untuk menulis sebagai upaya iqra’ , mengikat makna, menebarkan ilmu dan kebijaksanaan.

“Hernowo adalah sehuah monumen,” pernah sekali waktu saya tulis ungkapan itu tentangnya. Dia monumen tentang keharusan manusia tak berhenti belajar, dia monumen tentang ketakterbatasan potensi manusia, dan dia monumen passion(cinta) kepada ilmu kebijaksanaan, dan gairah untuk menolong sesama.

Ya, Arhamar-Rahimiin, terangi jalan almarhum untuk kembali kepada-Mu, curahi dia dengan air segar untuk menawarkan dahaganya akan pertemuan dengan-Mu. Karena saya tahu, sejak almarhum mahasiswa, dia telah menetapkan hatinya untuk bermujahadah mencari-Mu, sedang kecintaan kepada membaca, menulis, dan menebarkan ilmu adalah bunga yang berkembang dari situ.
Wa asyhadu annahu min ahlil khayr. Dan aku bersaksi bahwa beliau adalah di antara para pemilik kebaikan

 

 

Mas Hernowo: Mengeja kehidupan lewat huruf-huruf

Putut Widjanarko

 

Innalillahi wainailaihi rajiuun. Mas Hernowo–seorang guru, sahabat, dan rekan kerja yang luar biasa–ke hadirat Allah SWT.

Mas Hernowo bergabung di Mizan sejak awal tahun kedua. Sejak itu, ribuan judul buku telah ia tangani, sunting, dan kemas. Ia tak pernah merasa lelah menata huruf dan kata untuk memastikan buku-buku yang diterbitkan Mizan seprima mungkin.

Tak jarang dulu saya lihat Mas Her, demikian biasanya ia kami panggil di Mizan, membawa film negatif hasil lay out ke rumah untuk ia baca di bawah lampu malam itu, karena masih khawatir ada kesalahan yang terlewat. Mas Her juga sering memaksa diri, dan ini pun ia anjurkan kepada terutama awak redaksi di bawahnya, untuk menerapkan teknik yang disebutnya “mengeja dengan jari”.

Untuk kata-kata yang sulit, judul, anak judul, misalnya, gunakanlah jarimu menyusuri kata itu huruf demi huruf. Dengan begitu kecepatan membacamu memelan, dan terhindarlah kesalahan sebanyak mungkin. Milyaran huruf telah ia tata agar nyaman dibaca, insya Allah menjadi amalnya yang tak putus-putus mengalir karena telah memberi manfaat bagi sesiapapun yang membaca buku-buku itu.

Mas Her sering mengatakan ia terpukau benar dengan hadis “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Begitu passionate ia, hingga lahirlah 37 buku karyanya: semuanya berhubungan dengan literasi, dunia kata. Bukan tak mungkin Mas Her adalah penulis soal literasi terproduktif di Indonesia. Mas Her kemudian merumuskan apa yang ia sebut “mengikat makna” (yang menjadi judul bukunya yang best seller itu– yaitu bagaimana mengikat pengalaman hidup dengan menuliskannya.

Kini Mas Her telah pulang ke tempatnya berasal. Kami di Mizan sangat berduka kehilangan salah satu pilar utama, salah satu assabiqunal awwalun yang ikut membentuk Mizan hingga seperti sekarang ini. Tapi kami yakin Mas Her akan lapang jalannya: wafat dengan proses yang cepat, di malam Jumat, di bulan penuh rahmat Ramadhan. Saya bersaksi bahwa Mas Her adalah orang yang baik. Bermilyar huruf penuh pahala yang telah ia tata akan menemaninya menghadap Sang Khalik. Kepada-Nya kita semua akan kembali.