|
Spirit Iqra':
Hadirkanlah Teladan Membaca, Tampakkanlah Semangat dan Gairah Membaca, serta Sebarkanlah Manfaat-Langsung dan Nyata Membaca
Oleh Hernowo
Spirit Iqra' adalah judul buku ciptaan saya. Buku ini
merekam perjuangan saya, selama sebulan penuh, dalam upaya saya
membiasakan diri membaca dan menulis setiap hari. Saya menjalankan
kegiatan membaca dan menulis (dalam bahasa saya, dua kegiatan yang
saya padukan ini, saya namakan "mengikat makna") secara konsisten
dan kontinu tersebut pada bulan Ramadhan tahun 2001.
Spirit Iqra' adalah judul besarnya. Judul kecil buku saya
ini adalah "Menghimpun Samudra Makna Ramadhan". Jadi, lewat
kegiatan "mengikat makna" (memadukan iqra' dan qalam),
saya ingin membuktikan bahwa saya dapat meraih makna (sesuatu yang
sangat berharga) ibadah di bulan Ramadhan. Di setiap bulan Ramadhan
ada peristiwa "Lailatul Qadar" dan sebelum "Lailatul Qadar"
ada sebuah malam istimewa, yaitu malam turunnya Al-Quran
("Nuzulul-Qur'an").
Saya membayangkan, yang turun pertama kali pada saat 17 Ramadhan
itu adalah ayat-ayat iqra' yang tercantum dalam Surah
Al-'Alaq (ayat 1-5). Dan, sungguh, di dalam kelima ayat pertama Surah
Al-'Alaq, saya ingin fokus pada ayat ketiga yang berbunyi, "Iqra wa
rabbukal akram." Secara sangat menarik, Ustad Quraish Shihab, dalam
Tafsir Al-Mishbah, menguraikan makna "al-akram" demikian:
"Kata al-akram yang berbentuk superlatif (bentuk kata
yang menyatakan paling atau ter-) adalah satu-satunya ayat di dalam
Al-Quran yang menyifati Tuhan dalam bentuk tersebut. Ini mengandung
pengertian bahwa Tuhan dapat menganugerahkan puncak dari segala
yang terpuji bagi setiap hamba-Nya, terutama dalam kaitannya
dengan perintah membaca." (Lihat Muhammad Quraish Shihab,
Tafsir Al-Mishbah, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2003, h.
399). Betapa luar biasanya makna ayat ketiga Surah Al-'Alaq tersebut
menurut Ustad Quraish.
Itulah, bagi saya, spirit iqra'! Untuk membuat agar
"al-akram" dapat dirasakan oleh orang-orang yang menjalankan
perintah membaca, bukan teknik atau penguasaan atas teknik membaca
yang penting. Yang lebih penting, menurut saya, adalah keteladanan,
semangat-gairah membaca, dan bagaimana kegiatan membaca yang
dilakukan masyarakat itu benar-benar dapat menghasilkan manfaat
langsung dan nyata setiap kali mereka selesai menjalankan kegiatan
membaca.
"Aku tidak sabar menghadapi kemasabodohan beberapa guru tata bahasa yang menyia-nyiakan tahun-tahun berharga anak didik dengan menjejali aturan-aturan kebahasaan ke kepala mereka. Menurutku, anak-anak itu memperoleh kekuatan dan kemampuan berbicara dalam suatu bahasa bukan dikarenakan mereka mempelajari aturan-aturan kebahasaan. Mereka mampu memiliki kekuatan itu lantaran pergaulan mereka sehari-hari dan kebiasaan mereka mengekspresikan diri mereka dengan tepat, serta rasa ingin tahu mereka yang dipuaskan dengan banyak membaca karya-karya para penulis terbaik." (ERASMUS)
|
Apabila keteladanan, penampakan gairah-semangat, dan pemerolehan
sekaligus penyebaran manfaat konkret membaca dapat kita lakukan,
tentulah upaya-upaya pembangkitkan minat baca, pengaktifan gerakan
membaca, penyalaan perpustakaan-perpustakaan di sekolah, akan tidak
sia-sia. Namun, jika apa yang saya usulkan ini tidak tersentuh, ada
kemungkinan upaya-upaya yang sudah habis-habisan dilakukan dalam
upaya menggalakkan minat baca (seperti pendirian TBM, perpustakaan
keliling, dll.) akan tidak memberikan efek apa-apa.
Saya akan mencoba menguraikan ketiga hal di atas secara ringkas.
Pentingnya Keteladanan Membaca
Coba kita renungkan sejenak hal ini: Ketika kita dan anak-anak
kita menonton televisi, apa yang kira-kira paling sering kita lihat?
Pertama, tentu, iklan. Betapa banyaknya iklan yang terus
menyerang diri kita. Bagaimana dengan iklan layanan masyarakat yang
kadang membawa-bawa buku dan ajakan untuk membaca? Mampukah iklan
layanan masyarakat tersebut mendorong diri kita untuk gigih membaca?
Kedua, pelbagai tayangan hiburan. Meskipun ada televisi
yang mengklaim sebagai televisi pendidikan, tayangan hiburan tetaplah
mendominasi tayangan yang lain. Tayangan hiburan yang saya maksud
adalah sinetron, film seri atau bioskop, pentas musik, "reality
show", dll. Dapatkah kita mendapatkan sedikit saja pesan, misalnya
dari sebuah sinetron yang paling banyak ditonton, tentang pentingnya
membaca?
Ketiga, berita dan siaran olahraga. Mungkin berita tetap
bermanfaat untuk kita karena tanpa mendengar berita, kita akan tidak
mengetahui perkembangan dan perubahan dunia. Juga tayangan olahraga.
Anak-anak kita bisa belajar banyak tentang sportivitas, kegigihan
mengejar prestasi, dan kehebatan manusia dari event-event
olahraga. Apa kira-kira kaitan tayangan ini dengan buku dan
pembangkitan minat baca?
Setelah televisi, marilah kita melihat lingkungan di sekitar kita.
Apakah anak-anak kita dapat dengan bebas melihat ada orang membaca di
taman? Apakah ketika anak-anak kita ikut menemani kita ke dokter atau
rumah sakit atau apotek, lantas di ruang tunggu yang disediakan
ditempat-tempat itu anak-anak kita dapat leluasa melihat orang-orang
yang sedang menghabiskan waktunya dengan membaca? Apakah ketika naik
kereta api, anak-anak kita juga melihat orang-orang yang sedang asyik
membaca?
Kita kekurangan (atau bahkan sama sekali sulit menemukan) teladan
membaca. Banyak sekali orang yang mungkin gemar membaca, namun
kegiatan membacanya disembunyikan di ruang yang tertutup. Anak-anak
perlu melihat secara langsung keasyikan membaca. Anak-anak perlu
contoh yang konkret tentang bagaimana membaca dapat dijalankan secara
menyenangkan dan menghadirkan banyak manfaat. Sayangnya, kita lupa
menghadirkan teladan membaca. Kita hanya mampu mencetak duta baca….
Penampakan Semangat dan Gairah Membaca
Membaca itu tidak gampang, apalagi menulis. Benar, penularan
teknik-teknik membaca itu penting. Namun, agar kita bisa dan,
terutama, suka membaca, teknik-teknik secanggih apa pun tidak cukup.
Agar kegiatan membaca dapat dijalankan oleh anak-anak kita dan
masyarakat umum lainnya secara kontinu dan konsisten, diperlukan
sebuah suntikan baru yang tidak sekadar teknik.
Clarence mengalami kesulitan dengan tata bahasa. Meskipun dia berupaya keras, jenis-jenis kata (khususnya kata kerja) tetap menjadi misteri baginya. Para guru dan orangtuanya terus berkata-kata kepadanya bahwa dia takkan bisa menulis atau berbicara kecuali mempelajari tata bahasa. Semula, dengan setengah putus asa, dia mempercayai saja apa yang dikatakan mereka. Tetapi, secara bertahap, kecurigaan muncul: mungkin pernyataan itu salah. Akhirnya, di tengah-tengah ceramah yang pedas tentang pelbagai kesalahan yang dibuatnya, dia menyela sang guru dan berkata seraya menangis, "Apabila aku mempunyai sesuatu yang ingin kukatakan, aku selalu bisa mengatakan."
(MIRIAM GURKO)
|
Kita perlu menciptakan semacam kegairahan dalam kaitannya dengan
membaca. Bagaimana caranya agar perpustakaan tidak sepi seperti
kuburan? Bagaimana caranya agar para pengurus perpustakaan
benar-benar tampak bergairah membaca? Bagaimana caranya agar
perpustakaan benar-benar menyediakan buku-buku yang membuat para
pengunjungnya gembira dan membuat mereka berlomba-lomba untuk
senantiasa mengunjungi perpustakaan?
Apakah mungkin para guru di sekolah, terutama dari jenjang TK
hingga SMP, menyediakan waktu sedikit (sekitar 10-15 menit), sebelum
memulai mengajar, untuk mengisahkan buku-buku yang menarik perhatian
dunia? Apakah mungkin kegiatan itu dilakukan secara kontinu dan
konsisten, setiap hari, ketika para guru itu menjalankan tugas
resminya mengajar? Apakah mungkin juga buku-buku yang dikenalkan
kepada anak didik berganti-ganti terus setiap hari?
Saya khawatir (semoga kekhawatiran saya ini salah), para pengurus
perpustakaan dan juga para penggiat pendidikan (salah satunya adalah
guru) enggan (untuk tidak mengatakan malas) menjalankan kegiatan
membaca secara kontinu dan konsisten. Saya lebih khawatir lagi
(semoga kekhawatiran saya ini juga salah) apabila keengganan para
pengurus perpustakaan dan guru itu untuk membaca dikarenakan kegiatan
membaca buku benar-benar membebani dan menyiksa mereka.
Apakah benar, pada saat ini sulit sekali menghadirkan semangat dan
kegairahan membaca buku baik di perpustakaan maupun di
sekolah-sekolah? Apakah benar antusiasme terhadap kegiatan membaca
hanya terbatas pada komik atau buku-buku cerita yang sangat ringan?
Apakah benar, dunia cyberspace, 3G, pertelevisian, multimedia,
dan kawan-kawannya telah membuat membaca buku itu kuno dan tidak
menyenangkan?
Bagaimana agar kita (siapa pun diri kita) dapat menunjukkan
semangat dan gairah membaca buku kepada anak-anak kita yang akan
hidup di masa depan?
Penyebaran Manfaat Langsung dan Konkret Membaca
Akhirnya, kesimpulan saya sederhana saja. Apabila anak-anak membaca untuk kesenangan, mereka akan memperoleh, secara tidak sengaja dan tanpa usaha yang dilakukan dengan sadar, hampir semua hal yang disebut "keterampilan berbahasa". Mereka akan menjadi pembaca andal, mendapatkan banyak kosakata, mampu meningkatkan kemampuan untuk memahami dan menggunakan susunan kalimat majemuk, mampu mengembangkan gaya penulisan yang bagus, dan menjadi pengeja yang hebat (walau tak sempurna).
(DR. STEPHEN D. KRASHEN)
|
Ihwal keteladanan membaca dan bagaimana memunculkan
semangat-gairah membaca, kadang-kadang, memang bergantung pada apakah
membaca buku itu mendatangkan manfaat besar. Lho membaca itu
dapat memperluas wawasan? Lho membaca buku itu akan dapat
mengefektifkan kegiatan belajar? Lho membaca buku itu jelas
sangat bermanfaat bagi pengembangan diri dan karier? Manfaat membaca
buku sudah sangat jelas. Namun, apakah manfaat yang kita tahu itu
benar-benar mampu meggerakkan diri kita untuk membaca buku secara
kontinu dan konsisten?
Mungkin manfaat yang kita tahu itu masih abstrak, masih berada di
dalam pikiran kita, sehingga manfaat tersebut tidak mampu
menggerakkan diri kita untuk membaca buku dan langsung memetik
manfaatnya. Kita mungkin sudah membaca buku, tetapi setiap kali usai
membaca, sesungguhnya kita tidak pernah mendapatkan manfaat konkret
atau nyata dari membaca. Yang lebih parah lagi adalah, kita bahkan
sudah menjalankan kegiatan membaca tetapi kegiatan membaca itu
menyiksa diri kita dan kita tidak pernah mendapatkan manfaat-langsung
dari membaca.
Jika ini yang terjadi, salah satu kampanye membaca yang harus kita
lakukan adalah dengan menunjukkan manfaat langsung dan konkret
membaca. Dan itu tidak cukup jika hanya berbentuk slogan atau
kata-kata. Harus ada orang yang memang dapat menunjukkan secara nyata
bahwa ketika dia selesai membaca, dia benar-benar mendapatkan manfaat
membaca yang nilainya tiada tara. Bagaimana membentuk sebanyak
mungkin orang yang dapat menunjukkan dan menyebarkan manfaat langsung
dan nyata membaca? []
Sumber foto: Gettyimages.com
|