Hubungi Kami
Phone: (62-21) 75910212
Fax: (62-21) 75915759
Email: info@mizan.com

 

  Home About Us Ekuator E-Magazine Buku Laris Buku Baru Contact us
Cari:     pada     
 
bag_atas.html
       >>  Katalog
       >>  Newsletter
       >>  Audio Files
       >>  Video Files
       >>  E-books
       >>  Nukilan
 
Mizan Golden Globe Awards
  Edisi 1 Desember 2007
 Pemred: Hernowo
 >>  Artikel Lainnya

Penghargaan bagi 1000 Guru

Markplus Forum Berkunjung ke Mizan

Antara Laskar Pelangi dan Layar Kaca

Spirit Iqra'

Tentang "Writer's Block"

Mereka Bilang Aku Kafir

Pelatihan Shalat Tahajjud

Di Balik Sukses Laskar Pelangi

Laskar Pelangi yang Fenomenal

Rubrik Baca Tulis Hernowo

Rubrik Plong Hernowo

Kunjungan Imam Masjid Al-Farah New York-Feisal Abdul Rauf ke Indonesia
 >>  Newsletter
Masukkan email Anda guna mendapatkan berita terbaru Ekuator e-Magazine untuk setiap edisi terbarunya.

 
 >>  Arsip tahun 2007
Pilih Edisi:
 
 >>  Arsip per tahun:
2007 | 2008 | 2009 | 2010

Spirit Iqra':
Hadirkanlah Teladan Membaca, Tampakkanlah Semangat dan Gairah Membaca, serta Sebarkanlah Manfaat-Langsung dan Nyata Membaca

Oleh Hernowo

Spirit Iqra' adalah judul buku ciptaan saya. Buku ini merekam perjuangan saya, selama sebulan penuh, dalam upaya saya membiasakan diri membaca dan menulis setiap hari. Saya menjalankan kegiatan membaca dan menulis (dalam bahasa saya, dua kegiatan yang saya padukan ini, saya namakan "mengikat makna") secara konsisten dan kontinu tersebut pada bulan Ramadhan tahun 2001.

Spirit Iqra' adalah judul besarnya. Judul kecil buku saya ini adalah "Menghimpun Samudra Makna Ramadhan". Jadi, lewat kegiatan "mengikat makna" (memadukan iqra' dan qalam), saya ingin membuktikan bahwa saya dapat meraih makna (sesuatu yang sangat berharga) ibadah di bulan Ramadhan. Di setiap bulan Ramadhan ada peristiwa "Lailatul Qadar" dan sebelum "Lailatul Qadar" ada sebuah malam istimewa, yaitu malam turunnya Al-Quran ("Nuzulul-Qur'an").

Saya membayangkan, yang turun pertama kali pada saat 17 Ramadhan itu adalah ayat-ayat iqra' yang tercantum dalam Surah Al-'Alaq (ayat 1-5). Dan, sungguh, di dalam kelima ayat pertama Surah Al-'Alaq, saya ingin fokus pada ayat ketiga yang berbunyi, "Iqra wa rabbukal akram." Secara sangat menarik, Ustad Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Mishbah, menguraikan makna "al-akram" demikian:

"Kata al-akram yang berbentuk superlatif (bentuk kata yang menyatakan paling atau ter-) adalah satu-satunya ayat di dalam Al-Quran yang menyifati Tuhan dalam bentuk tersebut. Ini mengandung pengertian bahwa Tuhan dapat menganugerahkan puncak dari segala yang terpuji bagi setiap hamba-Nya, terutama dalam kaitannya dengan perintah membaca." (Lihat Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Penerbit Lentera Hati, Jakarta, 2003, h. 399). Betapa luar biasanya makna ayat ketiga Surah Al-'Alaq tersebut menurut Ustad Quraish.

Itulah, bagi saya, spirit iqra'! Untuk membuat agar "al-akram" dapat dirasakan oleh orang-orang yang menjalankan perintah membaca, bukan teknik atau penguasaan atas teknik membaca yang penting. Yang lebih penting, menurut saya, adalah keteladanan, semangat-gairah membaca, dan bagaimana kegiatan membaca yang dilakukan masyarakat itu benar-benar dapat menghasilkan manfaat langsung dan nyata setiap kali mereka selesai menjalankan kegiatan membaca.

"Aku tidak sabar menghadapi kemasabodohan beberapa guru tata bahasa yang menyia-nyiakan tahun-tahun berharga anak didik dengan menjejali aturan-aturan kebahasaan ke kepala mereka. Menurutku, anak-anak itu memperoleh kekuatan dan kemampuan berbicara dalam suatu bahasa bukan dikarenakan mereka mempelajari aturan-aturan kebahasaan. Mereka mampu memiliki kekuatan itu lantaran pergaulan mereka sehari-hari dan kebiasaan mereka mengekspresikan diri mereka dengan tepat, serta rasa ingin tahu mereka yang dipuaskan dengan banyak membaca karya-karya para penulis terbaik." (ERASMUS)

Apabila keteladanan, penampakan gairah-semangat, dan pemerolehan sekaligus penyebaran manfaat konkret membaca dapat kita lakukan, tentulah upaya-upaya pembangkitkan minat baca, pengaktifan gerakan membaca, penyalaan perpustakaan-perpustakaan di sekolah, akan tidak sia-sia. Namun, jika apa yang saya usulkan ini tidak tersentuh, ada kemungkinan upaya-upaya yang sudah habis-habisan dilakukan dalam upaya menggalakkan minat baca (seperti pendirian TBM, perpustakaan keliling, dll.) akan tidak memberikan efek apa-apa.

Saya akan mencoba menguraikan ketiga hal di atas secara ringkas.

Pentingnya Keteladanan Membaca

Coba kita renungkan sejenak hal ini: Ketika kita dan anak-anak kita menonton televisi, apa yang kira-kira paling sering kita lihat? Pertama, tentu, iklan. Betapa banyaknya iklan yang terus menyerang diri kita. Bagaimana dengan iklan layanan masyarakat yang kadang membawa-bawa buku dan ajakan untuk membaca? Mampukah iklan layanan masyarakat tersebut mendorong diri kita untuk gigih membaca?

Kedua, pelbagai tayangan hiburan. Meskipun ada televisi yang mengklaim sebagai televisi pendidikan, tayangan hiburan tetaplah mendominasi tayangan yang lain. Tayangan hiburan yang saya maksud adalah sinetron, film seri atau bioskop, pentas musik, "reality show", dll. Dapatkah kita mendapatkan sedikit saja pesan, misalnya dari sebuah sinetron yang paling banyak ditonton, tentang pentingnya membaca?

Ketiga, berita dan siaran olahraga. Mungkin berita tetap bermanfaat untuk kita karena tanpa mendengar berita, kita akan tidak mengetahui perkembangan dan perubahan dunia. Juga tayangan olahraga. Anak-anak kita bisa belajar banyak tentang sportivitas, kegigihan mengejar prestasi, dan kehebatan manusia dari event-event olahraga. Apa kira-kira kaitan tayangan ini dengan buku dan pembangkitan minat baca?

Setelah televisi, marilah kita melihat lingkungan di sekitar kita. Apakah anak-anak kita dapat dengan bebas melihat ada orang membaca di taman? Apakah ketika anak-anak kita ikut menemani kita ke dokter atau rumah sakit atau apotek, lantas di ruang tunggu yang disediakan ditempat-tempat itu anak-anak kita dapat leluasa melihat orang-orang yang sedang menghabiskan waktunya dengan membaca? Apakah ketika naik kereta api, anak-anak kita juga melihat orang-orang yang sedang asyik membaca?

Kita kekurangan (atau bahkan sama sekali sulit menemukan) teladan membaca. Banyak sekali orang yang mungkin gemar membaca, namun kegiatan membacanya disembunyikan di ruang yang tertutup. Anak-anak perlu melihat secara langsung keasyikan membaca. Anak-anak perlu contoh yang konkret tentang bagaimana membaca dapat dijalankan secara menyenangkan dan menghadirkan banyak manfaat. Sayangnya, kita lupa menghadirkan teladan membaca. Kita hanya mampu mencetak duta baca….

Penampakan Semangat dan Gairah Membaca

Membaca itu tidak gampang, apalagi menulis. Benar, penularan teknik-teknik membaca itu penting. Namun, agar kita bisa dan, terutama, suka membaca, teknik-teknik secanggih apa pun tidak cukup. Agar kegiatan membaca dapat dijalankan oleh anak-anak kita dan masyarakat umum lainnya secara kontinu dan konsisten, diperlukan sebuah suntikan baru yang tidak sekadar teknik.

Clarence mengalami kesulitan dengan tata bahasa. Meskipun dia berupaya keras, jenis-jenis kata (khususnya kata kerja) tetap menjadi misteri baginya. Para guru dan orangtuanya terus berkata-kata kepadanya bahwa dia takkan bisa menulis atau berbicara kecuali mempelajari tata bahasa. Semula, dengan setengah putus asa, dia mempercayai saja apa yang dikatakan mereka. Tetapi, secara bertahap, kecurigaan muncul: mungkin pernyataan itu salah. Akhirnya, di tengah-tengah ceramah yang pedas tentang pelbagai kesalahan yang dibuatnya, dia menyela sang guru dan berkata seraya menangis, "Apabila aku mempunyai sesuatu yang ingin kukatakan, aku selalu bisa mengatakan." (MIRIAM GURKO)

Kita perlu menciptakan semacam kegairahan dalam kaitannya dengan membaca. Bagaimana caranya agar perpustakaan tidak sepi seperti kuburan? Bagaimana caranya agar para pengurus perpustakaan benar-benar tampak bergairah membaca? Bagaimana caranya agar perpustakaan benar-benar menyediakan buku-buku yang membuat para pengunjungnya gembira dan membuat mereka berlomba-lomba untuk senantiasa mengunjungi perpustakaan?

Apakah mungkin para guru di sekolah, terutama dari jenjang TK hingga SMP, menyediakan waktu sedikit (sekitar 10-15 menit), sebelum memulai mengajar, untuk mengisahkan buku-buku yang menarik perhatian dunia? Apakah mungkin kegiatan itu dilakukan secara kontinu dan konsisten, setiap hari, ketika para guru itu menjalankan tugas resminya mengajar? Apakah mungkin juga buku-buku yang dikenalkan kepada anak didik berganti-ganti terus setiap hari?

Saya khawatir (semoga kekhawatiran saya ini salah), para pengurus perpustakaan dan juga para penggiat pendidikan (salah satunya adalah guru) enggan (untuk tidak mengatakan malas) menjalankan kegiatan membaca secara kontinu dan konsisten. Saya lebih khawatir lagi (semoga kekhawatiran saya ini juga salah) apabila keengganan para pengurus perpustakaan dan guru itu untuk membaca dikarenakan kegiatan membaca buku benar-benar membebani dan menyiksa mereka.

Apakah benar, pada saat ini sulit sekali menghadirkan semangat dan kegairahan membaca buku baik di perpustakaan maupun di sekolah-sekolah? Apakah benar antusiasme terhadap kegiatan membaca hanya terbatas pada komik atau buku-buku cerita yang sangat ringan? Apakah benar, dunia cyberspace, 3G, pertelevisian, multimedia, dan kawan-kawannya telah membuat membaca buku itu kuno dan tidak menyenangkan?

Bagaimana agar kita (siapa pun diri kita) dapat menunjukkan semangat dan gairah membaca buku kepada anak-anak kita yang akan hidup di masa depan?

Penyebaran Manfaat Langsung dan Konkret Membaca

Akhirnya, kesimpulan saya sederhana saja. Apabila anak-anak membaca untuk kesenangan, mereka akan memperoleh, secara tidak sengaja dan tanpa usaha yang dilakukan dengan sadar, hampir semua hal yang disebut "keterampilan berbahasa". Mereka akan menjadi pembaca andal, mendapatkan banyak kosakata, mampu meningkatkan kemampuan untuk memahami dan menggunakan susunan kalimat majemuk, mampu mengembangkan gaya penulisan yang bagus, dan menjadi pengeja yang hebat (walau tak sempurna). (DR. STEPHEN D. KRASHEN)

Ihwal keteladanan membaca dan bagaimana memunculkan semangat-gairah membaca, kadang-kadang, memang bergantung pada apakah membaca buku itu mendatangkan manfaat besar. Lho membaca itu dapat memperluas wawasan? Lho membaca buku itu akan dapat mengefektifkan kegiatan belajar? Lho membaca buku itu jelas sangat bermanfaat bagi pengembangan diri dan karier? Manfaat membaca buku sudah sangat jelas. Namun, apakah manfaat yang kita tahu itu benar-benar mampu meggerakkan diri kita untuk membaca buku secara kontinu dan konsisten?

Mungkin manfaat yang kita tahu itu masih abstrak, masih berada di dalam pikiran kita, sehingga manfaat tersebut tidak mampu menggerakkan diri kita untuk membaca buku dan langsung memetik manfaatnya. Kita mungkin sudah membaca buku, tetapi setiap kali usai membaca, sesungguhnya kita tidak pernah mendapatkan manfaat konkret atau nyata dari membaca. Yang lebih parah lagi adalah, kita bahkan sudah menjalankan kegiatan membaca tetapi kegiatan membaca itu menyiksa diri kita dan kita tidak pernah mendapatkan manfaat-langsung dari membaca.

Jika ini yang terjadi, salah satu kampanye membaca yang harus kita lakukan adalah dengan menunjukkan manfaat langsung dan konkret membaca. Dan itu tidak cukup jika hanya berbentuk slogan atau kata-kata. Harus ada orang yang memang dapat menunjukkan secara nyata bahwa ketika dia selesai membaca, dia benar-benar mendapatkan manfaat membaca yang nilainya tiada tara. Bagaimana membentuk sebanyak mungkin orang yang dapat menunjukkan dan menyebarkan manfaat langsung dan nyata membaca? []

Sumber foto: Gettyimages.com

Copyright © 2007 Mizan Publishing House -- Designed  and developed by  PT.Global e-Solusi  
4305001 pengunjung hingga saat ini