|
Film Garuda di Dadaku di Mata Pa
Film Garuda di Dadaku di Mata Para
Tokoh
|

Ifa Ifansyah, sutradara film Garuda di Dadaku |
Pada 4 Juni 2009, film Garuda di Dadaku sempat diputar untuk kalangan
terbatas. Film drama keluarga produksi SBO Films dan Mizan Productions yang
disutradarai Ifa Ifansyah dan bercerita tentang konflik keluarga—kakek, cucu,
dan seorang ibu—lantas tentang indahnya persahabatan, dan kegigihan mengejar
cita-cita ini ditonton oleh banyak tokoh. Berikut ini adalah sebagian komentar
para tokoh terhadap film Garuda di Dadaku:
“Saya menganjurkan kepada anak-anak Indonesia untuk menonton film Garuda di
Dadaku,” demikian komentar-cepat Kak Seto, seorang tokoh yang sangat peduli
terhadap masa depan anak-anak Indonesia. “Film ini selain menghibur, juga lucu.
Kemudian ada beberapa adegan yang mengharukan. Saya sempat meneteskan air mata
menyaksikan beberapa adegan yang mengharukan tersebut.
“Film Garuda di Dadaku juga sarat akan pendidikan. Beberapa adegan
menggambarkan agar setiap anak tetap bangga terhadap dirinya sendiri dan setiap
anak berani untuk menggembangkan potensi-unggul yang dimilikinya. Dan sesuai
dengan UU Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha atau proses
pembelajaran untuk mengembangkan potensi yang dimiliki setiap anak secara
optimal, demikian juga film ini menggambarkan pentingnya mengembangkan
potensi-unggul yang dimiliki setiap anak.
“Sebagai contoh apabila anak cerdas di bidang olahraga, seni, dan sebagainya,
mohon lingkungan pendidikan mendukung potensi-unggul yang dimiliki oleh anak
tersebut. Lingkungan pendidikan tentu bukan hanya sekolah atau para guru, tetapi
juga di dalam keluarga, termasuk ayah, ibu, kakek, nenek, dan sebagainya.”
Seorang sutradara yang berhasil memecahkan rekor lewat film Laskar Pelangi,
Riri Riza, juga memberikan komentar menarik atas film Garuda di Dadaku.
Riri berkomentar, “Film ini berhasil menangkap sebuah problem dalam keluarga
yang kelihatannya keluarga itu harmonis atau tidak ada apa-apa. Rupanya, ada
yang perlu didengar di dalam keluarga yang tampak aman-aman saja itu. Film ini
juga menunjukkan bahwa sebuah cita-cita tidak boleh dikotak-kotakkan. Misalnya,
cita-cita yang seperti itu boleh, sementara cita-cita yang seperti ini tidak
boleh. Apa pun cita-cita yang diinginkan seorang anak perlu diberi peluang untuk
dikembangkan. Dan, menariknya, film Garuda di Dadaku berhasil menunjukkan
konflik di dalam keluarga dengan cara yang sangat baik.
“Saya sungguh menikmati dan merasa senang ketika menyaksikan obrolan dua
anak—Bayu dan Heri—yang sangat wajar,” tambah Riri.
Sementara itu, Ratih Sanggarwati merasakan sangat terharu ketika menyaksikan
sebuah adegan di film Garuda di Dadaku. “Saya sangat terharu ketika
seorang cucu, bernama Bayu, menghormati kakeknya dengan cara melupakan sejenak
apa yang diinginkannya,” katanya. “Menurut saya, film ini akan membuat melek
para orangtua bahwa sesuatu yang ditekuni akan mampu menjadikan sesuatu yang
ditekuni itu membanggakan bagi sebuah bangsa.”[]
|