Hubungi Kami
Phone: (62-21) 75910212
Fax: (62-21) 75915759
Email: info@mizan.com

 

  Home About Us Ekuator E-Magazine Buku Laris Buku Baru Contact us
Cari:     pada     
 
bag_atas.html
       >>  Katalog
       >>  Newsletter
       >>  Audio Files
       >>  Video Files
       >>  E-books
       >>  Nukilan
 
Mizan Golden Globe Awards
  Edisi 15 Juni 2009
 Pemred: Hernowo
 >>  Artikel Lainnya
 >>  Newsletter
Masukkan email Anda guna mendapatkan berita terbaru Ekuator e-Magazine untuk setiap edisi terbarunya.

 
 >>  Arsip tahun 2010
Pilih Edisi:
 
 >>  Arsip per tahun:
2007 | 2008 | 2009 | 2010
Film Garuda di Dadaku di Mata Pa

Film Garuda di Dadaku di Mata Para Tokoh


Ifa Ifansyah, sutradara film Garuda di Dadaku


Pada 4 Juni 2009, film Garuda di Dadaku sempat diputar untuk kalangan terbatas. Film drama keluarga produksi SBO Films dan Mizan Productions yang disutradarai Ifa Ifansyah dan bercerita tentang konflik keluarga—kakek, cucu, dan seorang ibu—lantas tentang indahnya persahabatan, dan kegigihan mengejar cita-cita ini ditonton oleh banyak tokoh. Berikut ini adalah sebagian komentar para tokoh terhadap film Garuda di Dadaku:

“Saya menganjurkan kepada anak-anak Indonesia untuk menonton film Garuda di Dadaku,” demikian komentar-cepat Kak Seto, seorang tokoh yang sangat peduli terhadap masa depan anak-anak Indonesia. “Film ini selain menghibur, juga lucu. Kemudian ada beberapa adegan yang mengharukan. Saya sempat meneteskan air mata menyaksikan beberapa adegan yang mengharukan tersebut.

“Film Garuda di Dadaku juga sarat akan pendidikan. Beberapa adegan menggambarkan agar setiap anak tetap bangga terhadap dirinya sendiri dan setiap anak berani untuk menggembangkan potensi-unggul yang dimilikinya. Dan sesuai dengan UU Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah usaha atau proses pembelajaran untuk mengembangkan potensi yang dimiliki setiap anak secara optimal, demikian juga film ini menggambarkan pentingnya mengembangkan potensi-unggul yang dimiliki setiap anak.

“Sebagai contoh apabila anak cerdas di bidang olahraga, seni, dan sebagainya, mohon lingkungan pendidikan mendukung potensi-unggul yang dimiliki oleh anak tersebut. Lingkungan pendidikan tentu bukan hanya sekolah atau para guru, tetapi juga di dalam keluarga, termasuk ayah, ibu, kakek, nenek, dan sebagainya.”

Seorang sutradara yang berhasil memecahkan rekor lewat film Laskar Pelangi, Riri Riza, juga memberikan komentar menarik atas film Garuda di Dadaku. Riri berkomentar, “Film ini berhasil menangkap sebuah problem dalam keluarga yang kelihatannya keluarga itu harmonis atau tidak ada apa-apa. Rupanya, ada yang perlu didengar di dalam keluarga yang tampak aman-aman saja itu. Film ini juga menunjukkan bahwa sebuah cita-cita tidak boleh dikotak-kotakkan. Misalnya, cita-cita yang seperti itu boleh, sementara cita-cita yang seperti ini tidak boleh. Apa pun cita-cita yang diinginkan seorang anak perlu diberi peluang untuk dikembangkan. Dan, menariknya, film Garuda di Dadaku berhasil menunjukkan konflik di dalam keluarga dengan cara yang sangat baik.

“Saya sungguh menikmati dan merasa senang ketika menyaksikan obrolan dua anak—Bayu dan Heri—yang sangat wajar,” tambah Riri.

Sementara itu, Ratih Sanggarwati merasakan sangat terharu ketika menyaksikan sebuah adegan di film Garuda di Dadaku. “Saya sangat terharu ketika seorang cucu, bernama Bayu, menghormati kakeknya dengan cara melupakan sejenak apa yang diinginkannya,” katanya. “Menurut saya, film ini akan membuat melek para orangtua bahwa sesuatu yang ditekuni akan mampu menjadikan sesuatu yang ditekuni itu membanggakan bagi sebuah bangsa.”[]

Copyright © 2007 Mizan Publishing House -- Designed  and developed by  PT.Global e-Solusi  
4054346 pengunjung hingga saat ini