Kelompok Mizan:

    Mizan Pustaka
    Bentang
    DAR! Mizan     Hikmah Pustaka
   

Kata kunci  pencari canggih 
Home Mizan.com
Home HIKMAH
Tentang HIKMAH
Berita Terbaru
Buku Best Seller
Buku Terbaru
Buku Akan Terbit
Jadwal Acara
Hubungi HIKMAH
 Lini Produk Hikmah
  Hikmah Populer
  Hikmah Zaman Baru
  Voila
  Hikmah Novel
  Hikmah Memoar
  Hikmah Remaja
  Hikmah Anak
  Beranda Hikmah
  Misykat
  Hikmah-IIMAN
  Ekuator Digital Publishing
  Teraju
 Hikmah Newsletter
Daftarkan email Anda untuk dapat menerima newsletter Mizan.
 
 Katalog Hikmah


Telusuri katalog

Hikmah Sakit Prof Dr Moh Sholeh (09/05/2007)
Tahun 1982-1986 adalah tahun-tahun yang paling sulit dan menyakitkan bagi Mohamad Sholeh. Terutama, tahun 1985 hingga tahun 1986 saat dia berada di puncak penderitaan. Kanker kulit yang diidapnya mengganas. Kulit wajah dan tangannya seperti melepuh dan mengeluarkan bau busuk. "Kalau kena sinar matahari sakitnya minta ampun, karena melepuh,'' jelas guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, Selasa (15/4).

Penderitaannya tak berhenti sampai di sini. Lelaki yang pernah mondok di Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur ini mengisahkan, akibat penderitaan kanker kulit itu, orang-orang di sekitarnya menyingkir. Bahkan, sang istri dibujuk banyak orang untuk meminta cerai darinya. ''Beruntung, istri saya adalah tipe wanita sabar dan tabah menerima kenyataan yang ada. Istri saya adalah istri sholehah yang memang sejak manten sudah bertekad untuk hidup bersama,'' ungkap suami dari Hj Siti Fatimah ini.

Penderitaan dan pengucilan yang lebih menyakitkan lagi pernah ia alami ketika sang adik melakukan pernikahan. Selama hajatan ia dikurung di dalam kamar, dan tidak boleh keluar kamar. ''Saya dilarang keluar rumah untuk menyaksikan adik saya yang melakukan akad nikah dan mantenan. Mereka malu dan jijik melihat penyakit yang saya alami. Kanker kulit diketahuinya jauh-jauh hari sebelum tahun 1980-an. Antara 1982 hingga 1984 dia masih berusaha untuk mencari obat agar penyakitnya bisa sembuh. Namun bukannya membaik, malah bertambah parah. Dokter pun angkat tangan.

Tak ada jalan lain yang dilakukannya, ia memilih untuk menyerahkan persoalan itu pada Allah, atau istilah dia, pasrah total pada Yang Mahakuasa. Apa yang terbaik yang ditakdirkan Allah SWT, saya pasrah menerimanya.'' Hingga suatu hari, ia menemukan mukjizat bernama shalat tahajud. Tiap malam, lelaki kelahiran tahun 1960 ini selalu memanjatkan doa dengan penuh kepasrahan: ''Ya Allah, saya pasrahkan jiwa raga saya hanya kepada-Mu. Saya pasrahkan sehat dan sakit saya hanya kepada-Mu, saya pasrahkan rezeki saya kepada-Mu, saya pasrahkan istri dan anak-anak saya kepada-Mu, saya pasrahkan umur saya kepada-Mu.'' Begitu doa yang senantiasa dipanjatkannya.

Dampaknya? Ia pun merasakan ketenangan yang sangat luar biasa. Ketenangan itulah, kata Sholeh, menjadi sumber obat baru. ''Dengan memasrahkan segala sesuatunya semata kepada Allah SWT, kita dapatkan ketenangan. Dengan ketenangan itu, kita merasakan hidup penuh optimisme. Kita jadi jauh dari stres.''

Berangsur-angsur, penderitaannya berkurang. Bahkan saat ia berobat medis lagi, sel-sel kankernya sudah banyak berkurang. Beberapa tahun kemudian, ia dinyatakan sembuh total. Sholeh sendiri mengaku belajar shalat tahajud sejak kecil dari ibunya Hj Sufinah (98). ''Alhamdulillah ibu saya istikamah mengamalkan shalat tahajud. Beruntung, saya banyak didik sejak kecil untuk senantiasa melakukan ibadah shalat tahajud. Ibu selalu mengingatkan saya untuk tidak kemelinti (takabur). Kita ini tidak ada apa-apanya. Semuanya Allah SWT Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan. Siapa dari kita yang bisa menyembuhkan kalau tidak atas izin-Nya?'' ungkap penulis buku Terapi Shalat Tahajjud ini menjelaskan.

Sholeh juga sangat meyakini, hidup ini tidak selamanya susah. ''Kalau ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Kalau ada saat-saat kita menangis, pasti ada saat-saat kita tertawa. Hidup itu kadang di bawah, kadang di atas. Jadi tidak usah takut hidup. Di situlah pentingnya kita hanya berpasrah kepada Allah SWT semata. Pasrah total kepada Yang Maha Kuasa, karena kita punya Allah Yang Maha Kuasa dan Maha segalanya,'' ujarnya menambahkan. dam

Prof Dr Moh Sholeh
Istri : Hj Siti Fatimah
Pendidikan : Pesantren Lirboyo Kediri 974-1979
Universitas Tri Bakti 1980-1983
Fakultas Tarbiyah Universitas
Muhammadiyah Malang (S1) 1984-1987
Fakultas Psikologi IKIP Negeri Malang
1990-1993 (Program S2)
Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga (Unair) 2000-2003 (S3)

Sumber: Harian Republika, Jumat, 4 April 2007
Copyright 2006 Mizan Publishing House -- Designed  and developed by  PT.Global e-Solusi