fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Harmoni Itu Kita: 7 Sosok Kick Andy Heroes

Harmoni Itu Kita: 7 Sosok Kick Andy Heroes

Harmoni Itu Kita – A. Hernawan & Tim Kick Andy

 

 

Sebagian dari kita mungkin mulai merasakan jengah berada dalam situasi era sekarang ini. Niat baik sekalipun dipertanyakan, diragukan, bahkan mungkin juga ditampik lantaran datang dari mereka yang berlatar belakang berbeda. Padahal sejatinya, kebaikan adalah hakikat manusia, tak memandang batas dan perbedaan: bisa datang dari siapa saja, dari mana saja, dan ditujukan kepada siapa saja. Dari begitu banyak  perbedaan bersisian dengan kebaikan, ajang penghargaan Kick Andy Heroes kembali memilih tujuh sosok yang bisa mewakili harmoni ini.

Dari Surabaya, ada Dokter Michael Leksodimulyo, yang punya jabatan mentereng, tetapi rela terjun ke lapangan atau blusukan ke kolong jembatan dan gang kumuh untuk melayani kaum miskin dan gelandangan. Secercah kebaikan tanpa melihat titel, status sosial, dan bahkan mungkin mengembalikan profesi dokter kepada hakikatnya sebagai penolong tanpa pamrih.

Apalagi, selama ini layanan kesehatan memang belum prima, bahkan untuk bagian paling hakiki manusia, yakni jiwa. Nah, langkah kebaikan untuk ikut menangani masalah gangguan jiwa justru datang dari seorang kusir atau sais delman dari Bekasi bernama Marsan. Tanpa bekal medis apa pun, bahkan hanya lulusan SMP, dengan hidup serba pas-pasan, Marsan mampu merawat sekitar 300 pengidap gangguan jiwa dan berupaya memulihkan mereka.

Tedi Ixdiana juga tak ketinggalan. Sebagai pemanjat tebing profesional, kiprahnya tak sebatas menyelamatkan mereka yang mengalami kecelakaan dan musibah di medan-medan sulit. Setelah menyaksikan hambatan sehari-hari yang dihadapi warga di daerah-daerah dengan area membahayakan itu, ia mengerahkan kawan-kawannya untuk membangun seribu jembatan di pelosok Nusantara. Jembatan-jembatan itu tentu akan menyambungkan kebaikan-kebaikan manusia di sana.

Tak dimungkiri, banyak daerah di Nusantara tercinta ini belum tersentuh sarana-prasarana memadai. Toh, Carlos Ferrandiz, yang semula datang untuk melepas penat dari pekerjaan di Spanyol, justru akhirnya membawa kebaikan lebih besar lagi di suatu desa pesisir di Sumbawa. Kendati sempat dicurigai, Carlos meninggalkan negara dan profesinya untuk total membantu masalah kesehatan dan pendidikan anak-anak di sana.

Totalitas kebaikan dalam pendidikan juga ditunjukkan Julianto, yang mendirikan dan mengelola sekolah gratis Selamat Pagi Indonesia di Batu, Jawa Timur. Dari “sekadar” kepeleset lidah, pekerja multi-level marketing ini mencurahkan kebaikan lewat sekolah gratis untuk anak-anak miskin. Sekolah itu punya standar pendidikan tinggi dengan menekankan peningkatan keterampilan dan pengembangan diri. Alhasil, bukan hanya tumbuh mandiri, anak-anak itu juga menjadi generasi produktif bagi lingkungannya.

Semangat, komitmen, dan kebaikan di bidang pendidikan juga digalang para pemuda di Yayasan Hoshizora. Bermula dari sekelompok mahasiswa diaspora di Jepang, lembaga yang digerakkan Reky Martha dari sebuah desa di Bantul ini mampu menghimpun kebaikan berupa donatur beasiswa untuk lebih dari dua ribu anak miskin berprestasi.
Melalui pendidikan itulah, generasi baru bakal menyebarkan dan menyambung kebaikan kita kini dan nanti. Sama halnya dengan yang dilakukan dua bersaudara Melati dan Isabel Wijsen dari Bali. Melihat sampah plastik merajalela di lingkungan mereka—destinasi wisata dunia yang dikenal sebagai Pulau Dewata—remaja belasan tahun ini bergerak nyata, berkampanye dan turun ke lapangan mengganti tas plastik dengan karya kreasi mereka agar tak menambah pencemaran lingkungan. Suara dan langkah kebaikan mereka bergaung hingga forum dunia PBB.

Secercah harapan dan kebaikan yang terwujud harmoni, itulah gambaran yang mereka tunjukkan. Meski berkiprah dengan cara yang berbeda, mereka memberikan contoh upaya yang dilakukan. Dan sepatutnya kita lanjutkan.