Masukkan kata kunci Anda

FAQ tentang Mizan

Pembaca yang kami hormati, alhamdulillah sudah lebih dari 30 tahun Mizan terus konsisten ikut mencerdaskan bangsa dengan penerbitan buku-buku berkualitas. Lebih dari empat belas ribu buku telah terbit. Sesuai namanya—Mizan berarti—kesetimbangan, Mizan mencoba menjadi jembatan menghubungkan berbagai matra pemikiran. Sebagai jembatan, tentu ada risikonya. Diinjak oleh yang menyeberang, dan disalahpahami oleh berbagai pihak.

Kami mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang memahami visi dan misi Mizan, sehingga menerima produk-produk Mizan secara objektif dan memberi masukan ketika ditemui kekurangan.

Namun bagi sebagian tidak akrab dengan produk-produk Mizan, isu bahwa Mizan adalah penerbit Syi’ah mungkin memberikan kebingungan dan keraguan. Isu ini bukan hal baru, tetapi semakin memuncak karena terpengaruhi konflik global di Suriah dan Yaman.

Terima kasih kepada masyarakat yang secara terbuka bertanya dengan semangat tabayyun untuk menghindari zhan atau prasangka. Dengan semangat itulah Mizan juga memberikan penjelasan sejelas-jelasnya.

Akhirnya kami berdoa agar Umat Islam dihindarkan dari perpecahan dan dipersaudarakan dalam keimanan. Aamiin.

Apakah Mizan itu Penerbit Syi’ah?
Sejak awal Mizan didirikan sebagai PENERBIT ISLAM yang mempromosikan nilai keseimbangan, keadilan, tawassuth (moderat) seperti tercermin dalam namanya Mizan yang berarti seimbang. Mizan tidak berafiliasi dan tidak mempropagandakan suatu mazhab. Mizan mempromosikan nilai-nilai Islam yang damai tanpa melihat kelompok atau mazhabnya. Tuduhan Mizan sebagai penerbit Syi’ah atau penerbit yang mempropagandakan Syi’ah adalah fitnah yang sama sekali tidak relevan dengan visi Mizan. Mempromosikan ajaran Syi’ah di negeri mayoritas Sunni atau sebaliknya jelas-jelas dilarang karena akan merusak kerukunan dan persatuan umat. Nilai ini yang terus dipegang selamanya oleh Mizan. Pilihan ini bukan tanpa risiko. Sebagai jembatan, yang selalu diinjak, Mizan bisa jadi disalahpahami dan dicurigai. Tetapi, sejauh ini pengalaman telah membuktikan meskipun cap Syi’ah sudah dilekatkan selama lebih dari tiga dasa warsa, Mizan tetap tumbuh dan berkembang menjadi salah satu kelompok penerbit yang paling disegani di Indonesia. Tentu saja hal itu terjadi karena izin Allah SWT yang menjadikan masyarakat Indonesia tidak gampang terpengaruh oleh cap-cap yang tidak benar.

Untuk memahami lebih jauh silakan baca beberapa tulisan berikut:

Seperempat Abad Waktu yang Panjang, refleksi Haidar Bagir pada ulang tahun Mizan ke-25
Kontribusi Mizan dalam Meningkatkan Kualitas Hidup Bangsa
Susahnya Berada di Tengah, Renungan Seperempat Abad Mizan

Apakah Mizan Menerbitkan buku Syi’ah?

Betul, Mizan menerbitkan beberapa karya pemikir Syiah seperti Ali Syari’ati, Ayatullah Khomeini, dan Murtadha Muthahhari. Tetapi sebenarnya Mizan bukan yang pertama dan bukan satu-satunya yang menerbitkan buku pemikir Syi’ah. Selain itu jumlah buku yang ditulis pemikir-pemikir dari kalangan Syiah yang diterbitkan Mizan kurang lebih dari 50 judul, porsi yang sangat kecil dibanding total jumlah penerbitan yang mencapai di atas 10 ribu judul

Bagaimanapun, sebuah penerbit tak bisa diafiliasikan dengan satu kelompok hanya karena buku yang diterbitkannya. Jika buku yang diterbitkan dijadikan patokan, maka Mizan akan bisa dicap penerbit Syi’ah, penerbit Ikhwanul Muslimin, bahkan penerbit Kristen, dan lain-lain. Mari kita lihat lebih dekat.

Sebagai bukti dari komitmen Mizan terhadap nilai tawassuth, Mizan menerbitkan semua karya yang mempromosikan nilai moderasi, menjembatani, dialog, tanpa melihat latar belakang mazhab si penulis. Maka Mizan menerbitkan buku karya Sayyid Qutub dan Hasan Al-Banna pemimpin Ikhwanul Muslimin, serial buku fikih dan tasawwuf karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, karya filosofis dan sastra pemikir besar Pakistan Muhammad Iqbal, pemikir Syi’ah Iran Ali Syari’ati, futurolog Islam Ziauddin Sardar, dan masih banyak lagi.

Untuk karya lokal, Mizan berkontribusi pada kebangkitan intelektual Islam Indonesia tahun 80-90-an dengan menerbitkan karya-karya pemikir besar seperti Kuntowijoyo, Nurcholish Majid, Amien Rais, Buya Syafii Maarif, Emha Ainun Najib, K.H. Ali Yafie dari NU, Jalaluddin Rahmat, Muhammad Azhar Basyir dari Muhammadiyah, Azyumardi Azra, Quraish Shihab, Taufik Ismail, Aa Gym, dan lain-lain. Dari semua buku yang diterbitkan semuanya mengandung nilai tawassuth, persaudaraan, dan persatuan umat.

Mizan secara ketat tidak akan menerbitkan buku yang berisi propaganda satu mazhab tertentu. Mizan menerbitkan buku Dialog Sunnah Syi’ah, sebuah karya besar yang merekam upaya besar ulama-ulama Islam Sunni Syi’ah untuk persatuan umat. Syi’ah garis keras yang mengecam Sunni dan menjelek-jelekkan sahabat Rasul atau Sunni garis keras yang memecah belah umat, sama sekali tidak mendapat tempat dalam buku-buku Mizan. Bahkan tokoh yang bukunya sempat terbit di Mizan, jika mereka mengajukan naskah yang bertentangan dengan nilai tawassuth dan merusak ukhuwah, Mizan tak segan untuk menolaknya.

Pada tataran lokal, Mizan menerbitkan buku yang membangun dialog antarormas besar seperti Muhammadiyah dan NU dengan buku berjudul “Muhammadiyah itu NU”. Dalam ketegangan fikih dan tasawwuf, Mizan menerbitkan buku-buku tasawwuf positif dan fikih yang berorientasi sosial. Dalam tataran dialog antariman Mizan menerbitkan buku-buku seperti karya Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, dan lain-lain.

Jika dilihat dari keragaman tema dan latar belakang penulis Mizan, maka akan sulit mengatakan bahwa Mizan terafiliasi pada satu kelompok atau mazhab tertentu. Satu-satunya benang merah dari buku-buku terbitan Mizan adalah nilai tawassuth dan filosofi Mizan: menjembatani. Itu bukti jelas bahwa Mizan memiliki cita-cita besar mempersatukan umat.

Apakah pemilik Mizan Syi’ah?

Pemilik Mizan bukan Syi’ah. Pemilik Mizan adalah Muslim yang taat dan rindu akan umat Islam yang lebih cerdas dan bersatu. Pemilik Mizan terdiri atas beberapa orang, yaitu Abdillah Toha, Anis Hadi dan Haidar Bagir. Abdillah Toha dikenal sebagai pengusaha yang sangat concern pada masalah sosial dan politik yang bersih. Beliau pernah menjabat sebagai Executive Director Institute for Socio-Economic and Political Studies (In-SEP) dalam bidang sosial beliau juga mendirikan Yayasan Rumah Sakit Mata AINI. Pada 1998 saat reformasi, bersama Amien Rais, Abdillah Toha mendirikan Partai Amanat Nasional. Dikenal sebagai politisi jujur dan bersih, Abdillah Toha sempat menjadi anggota DPR RI komisi I bidang pertahanan, rajin membela kepentingan Muslim Palestina dan mengkritik kebijakan luar negeri Amerika. Terhadap partainya, PAN dan sahabatnya Amien Rais, Abdillah Toha pun tak sungkan memberi kritikan. Belakangan Abdillah Toha banyak menulis artikel bernas di Kompas dan media lain.

Pemilik kedua adalah Mustafa Anis Hadi, lulusan Fakultas Ekonomi Unpad ini meyakini bahwa untuk menyejahterakan umat adalah dengan mencerdaskannya. Dari Anis Hadi tercetuslah kata Mizan sebagai nama penerbitan ini. Anis Hadi juga menjadi salah satu bidan lahirnya Majalah Ummat.

Pemilik ketiga adalah Haidar Bagir, yang merintis Mizan saat masih mahasiswa di Teknik Industri ITB. Sebagai aktivis masjid Salman ITB, Haidar Bagir sempat bekerja di Penerbit Pustaka Salman. Dari tiga pemilik Mizan, Haidar Bagirlah yang sering diidentikkan dengan Syi’ah. Untuk lebih dekat dengan beliau dan menghilangkan prasangka, mari kita mengenal lebih dekat tentang kiprah Haidar Bagir di link ini

Ada yang mengatakan bahwa keuntungan Mizan dikirim ke Iran. Benarkah?

Tidak ada uang yang ke Iran atau ke negara mana pun. Sebagai perseroan terbatas, keuntungan Mizan selain diterima oleh pemilik atau komisaris juga dinikmati oleh sekitar 500-an karyawan tetap yang bekerja di Mizan, outsourcee, ribuan tenaga distributor. Ada sekitar 4000 Book Advisor yang 90% ibu rumah tangga yang mendistribusikan buku secara direct selling yang mendapat manfaat ilmu dan finansial dari industri buku Mizan ini. Bahkan Mizan juga memberikan sebagian sahamnya kepada karyawan yang telah lama mengabdi. Duapuluh persen keuntungan dibagikan kepada karyawan sebagai bonus.

Sebagian besar keuntungan Mizan diinvestasikan untuk pengembangan usaha. Mizan memulai usaha dari rumah kontrakan ke rumah kontrakan. Bahkan hingga usia ke-25 tahun Mizan masih menempati sebuah rumah kecil di wilayah Yodkali Bandung. Baru pada 2005 Mizan memiliki gedung yang cukup representatif di Bandung Timur. Dari penerbitan Islam, Mizan terus berkembang ke penerbitan buku anak, buku populer, hingga ke industri digital dan film. Di industri film Mizan “berjihad” dengan membuat film-film yang bermuatan pendidikan di tengah film-film yang tidak mendidik. Dikatakan berjihad, karena investasi film sangatlah besar, tidak sebanding dengan animo pasar yang cenderung melemah.

Mizan juga berkomitmen membantu pendidikan kaum dhu’afa yang disalurkan melalui Rumah Zakat, dan Yayasan Yasmin. Sejak tahun 90-an Mizan juga aktif memberikan beasiswa untuk mahasiswa yang tengah menyelesaikan skripsi dan tesis. Program Beasiswa Mizan ini menciptakan penulis-penulis muda yang skripsinya berpotensi diterbitkan menjadi buku yang berkualitas.

Beberapa kasus produk Mizan yang dituduh mengandung unsur Syi’ah yang sempat beredar di sosial media

Love Quran Tab

Love Quran Tab, produk tablet yang diluncurkan Mizan Apps Publisher pada 2012 sempat dituduh sebagai Tablet Syi’ah. Tuduhan ini disebabkan oleh adanya album Hadad Alwi pada tablet ini. Bahkan ada sejumlah kabar yang menyebutkan bahwa dalam tablet ini, ada kompas kiblat yang mengarah ke Karbala bukan Ka’bah.

Tablet ini memang benar memuat album Haddad Alwi. Sebagaimana prinsip Mizan terbuka pada semua orang, maka Mizan menerima ajakan dari berbagai pihak untuk berkolaborasi. Haddad Alwi yang saat itu sedang promosi albumnya berbarengan dengan Mizan yang akan meluncurkan produk tablet. Dengan landasan bisnis, maka kerjasama ini terjadi. Mizan juga bekerjasama dengan sejumlah penyanyi lain tanpa melihat latar belakang mereka. Orang yang memahami prinsip Mizan yang terbuka tentu dapat memahami ini. Jika dilihat dari konten lagu, Mizan telah memastikan tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan nilai Islam yang damai.

Adapun tuduhan tentang adanya kompas kiblat yang menunjuk ke Karbala sama sekali tidak berdasar. Bahkan orang yang menyebarkan hal tersebut, meminta maaf secara khusus kepada Mizan setelah meneliti produknya dan melakukan tabbayun.

Ensiklopedi Bocah Muslim Jilid Tokoh

Pada jilid Tokoh Idolaku dari Ensiklopedi Bocah Muslim terdapat pembahasan tokoh-tokoh Muslim kontemporer, yaitu nama-nama seperti Muhammad Iqbal, Sayyid Qutub, Hasan Al-Banna, Jamaluddin al-Afghani, dan Ayatullah Khomeini. Ensiklopedi ini diterbitkan pada 2004,  dan selama itu pula tidak ada masalah karena Muslim Indonesia berpikiran terbuka. Hanya beberapa waktu terakhir muncul kritik mengapau Khomeini disebut sebagai salah satu tokoh.

Kami selalu mengembalikan pada prinsip Mizan tawassuth dan seimbang. Tokoh-tokoh yang dipilih adalah yang memiliki pengaruh pada peta perpolitikan Islam abad 20 tanpa melihat afiliasi golongan mereka. Jika melihat sejarah dunia dan sejarah Islam khususnya, maka nama-nama itulah yang dianggap memberi warna, terlepas apakah warna sejarah itu kita setuju atau tidak. Sayyid Qutub dan Hasan Al-Banna adalah dua penggerak Ikhwanul Muslimin yang pengaruhnya bukan hanya di Mesir tapi juga ke berbagai negara Muslim lainnya. Semangat Pan-Islamisme Jamaluddin al-Afghani menyebar luas, bahkan banyak aktivis Muslim Indonesia yang terinspirasi. Karya-karya puitis dan filosofis Muhammad Iqbal begitu menggema ke berbagai dunia Islam. Revolusi Islam yang digerakkan seorang guru ngaji bernama Khomeini juga menggemparkan dunia. Bahkan untuk Muslim yang hidup pada tahun 70-80-an dapat merasakan gema revolusi itu sebagai Revolusi Islam, bukan revolusi Syi’ah. Dengan kata lain, pemilihan tokoh-tokoh di sini untuk memperlihatkan fakta sejarah secara terbuka.

Buku ini disusun oleh tim dan disupervisi oleh pembaca ahli. Karena itu semua konten telah melalui proses yang saksama. Setiap cetak ulang kami melakukan pengkajian ulang dan revisi. Redaksi selalu meminta pendapat cendekiawan dan ulama. Tidak menutup kemungkinan redaksi akan melakukan pertimbangan ulang tentang tokoh-tokoh yang diangkat.

Ensiklopedi Bocah Muslim ini adalah ensiklopedia Islam untuk anak yang pertama karya anak bangsa, dan terbit sejak 2004 dengan lebih dari 20.000 keluarga Muslim telah mendapat manfaat dari buku ini. Bahkan buku ini telah diterbitkan juga di Malaysia. Kami menganggap karya ini sudah milik pembaca, dan kekayaan bangsa.

Buku Senyumlah Bunda

Pada buku Senyumlah Bunda karya Fuad Abdurrahman terbitan DAR! Mizan, terdapat kata “Kaum Syi’ah”. Buku yang sempat menyabet penghargaan Islamic Book Fair yang diadakan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pada tahun 2011 ini bercerita tentang kewajiban berbakti kepada orangtua. Dalam satu kisahnya ada seorang bernama Zakaria yang mendapat nasihat dari Imam Ja’far (slah satu imam kaum Muslim Syiah) tentang keutamaan berbakti pada orangtua.

Kalau dilihat dari konteksnya, kelihatannya sang penulis enggan memotong dan ingin mengutip kutipan asli dari sumbernya. Namun jika dilihat dari konteks keseluruhan kata itu sama sekali tidak mengurangi pesan inti dari cerita yaitu tentang berbakti pada orangtua. Sehingga tidaklah fair untuk menghubungkan kutipan kata ini dengan menuduh bahwa Mizan mempromosikan ajaran Syi’ah.