Masukkan kata kunci Anda

Etos Penjelajahan Mizan dan Masa Depannya

Etos Penjelajahan Mizan dan Masa Depannya

Sejak didirikan oleh tiga mahasiswa yang belum lulus dari bangku kuliah (Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin Shahab) pada tahun 1983, salah satu hal penting yang senantiasa dijaga dan dihidup-hidupkan di dalam budaya perusahaan Mizan adalah hasrat terus-menerus untuk menjelajahi hal-hal baru. Kami menyadari sepenuhnya bahwa etos penjelajahan ini adalah hal mutlak yang harus dimiliki agar Mizan tidak hanya mampu bertahan di tengah persaingan, tetapi juga mampu tumbuh berkembang dan membesar. Dengan itulah, harapannya, Mizan bisa senantiasa berikhtiar menawarkan sesuatu yang baru kepada khalayak Indonesia. Sesuatu yang baru itu bukan hanya jenis layanan atau produk yang betul-betul baru, tetapi bisa juga merupakan pengembangan dan diferensiasi dari layanan atau jenis produk yang sudah ada—baik yang sebelumnya sudah disuguhkan oleh Mizan maupun oleh penerbit lain, ataupun perusahaan lain pada umumnya.

Bisa juga sebuah tema baru ataupun perspektif dan pendekatan baru terhadap topik lama. Bisa dari ”Seri Cendekiawan Muslim” yang dapat disebut sebagai rekaman terkomplet jejak-jejak pemikiran intelektual-intelektual Muslim Indonesia dari segenap spektrum pemikiran, sampai seri ”Kecil-Kecil Punya Karya” (KKPK) yang menerbitkan karya penulis-penulis cilik (tidak boleh berusia lebih dari 12 tahun)—sebagai bagian dari andil Mizan untuk tidak saja menanamkan budaya baca, tetapi juga budaya menulis sejak anak-anak—yang kemudian tercatat dalam rekor MURI. Bisa dari menyuguhkan tawaran baru dalam bentuk desain kover “khas Mizan” yang bernuansa seni karya-karya Gus Ballon (yang menyebal dari pola desain kover sebagian besar penerbit Islam waktu itu), sampai menjadi penerbit pertama Indonesia yang bekerja sama dengan Google untuk memasukkan data bukunya di Google Book Search, dan sebagainya. Tentu saja tidak semua ikhtiar itu berhasil, sebagian malah menemui jalan buntu dan terpaksa berhenti di tengah jalan.

Dua puluh lima tahun sudah berlalu, dan kepada khalayak Indonesia, kami sepenuhnya menyerahkan penilaian apakah Mizan secara keseluruhan berhasil atau gagal dalam segenap ikhtiarnya itu. Kami di Mizan tetap meyakini bahwa etos penjelajahan itu adalah sesuatu yang seharusnya innate, yang seharusnya alami ada, dalam budaya perusahaan Kelompok Mizan. Malah hal ini menjadi penting mengingat tantangan sekaligus peluang yang membentang di masa-masa mendatang ketika perkembangan media—termasuk di dalamnya media buku dan media tercetak pada umumnya—mengalami secara lebih intens apa yang disebut oleh Roger Fidler (2003) sebagai mediamorfosis. Istilah ini menandai proses metamorfosis media komunikasi yang diakibatkan oleh hubungan timbal-balik yang kompleks antara kebutuhan konsumen, tekanan persaingan bisnis, serta pelbagai inovasi sosial dan, terlebih lagi, teknologi.

Fidler menyebutkan bahwa ada tiga konsep kunci mediamorfosis, yaitu koevolusi, konvergensi, dan kompleksitas. Semua bentuk media komunikasi—baik yang baru maupun yang lama—akan berkoevolusi atau berkembang bersama (meski mungkin dalam derajat yang berbeda-beda) serta saling memengaruhi. Keragaman teknologi komunikasi dewasa ini mustahil ada jika bentuk lama begitu saja mati tatkala medium baru lahir. Kesalingpengaruhan ini membawa kita pada prinsip kedua, yaitu konvergensi, yang sering secara keliru dipahami semata sebagai merger antara dua atau lebih perusahaan dari jenis media yang berbeda-beda. Yang terpenting sebenarnya adalah munculnya cara layanan baru dalam hal penyajian konten akibat saling-bersilangannya dua atau lebih media.

Di sini saya ingin merujuk kepada Prof. Henry Jenkins (Convergence Culture Consortium, MIT) yang mengatakan bahwa konvergensi adalah aliran konten (informasi, gambar, audio, video, dan lain-lain) ke pelbagai platform media, kerja sama antara pelbagai industri media, serta perilaku audiens yang memakai pelbagai media untuk mengonsumsi konten. Konvergensi tidak saja didesain secara top-down oleh perusahaan-perusahaan yang ingin memperluas jangkauan bisnis melalui pelbagai platform media, tetapi juga secara bottom-up oleh hasrat konsumen yang ingin menggunakan media di mana pun, kapan pun, dan dalam format apa pun yang mereka inginkan. Konvergensi juga bukan mengarah menuju adanya satu alat yang bisa melakukan pelbagai fungsi media. Tetapi, konvergensi adalah pergeseran budaya ketika konsumen dimungkinkan mengakses informasi dan konten yang sama (e-mail, misalnya) dalam pelbagai platform media. Jadi, peranti keras bisa saja malah semakin beragam, tetapi konten yang akan berkonvergensi hingga bisa dibaca dalam pelbagai platform peranti keras.

Prinsip ketiga mediamorfosis, yaitu kompleksitas, memandang bahwa sistem komunikasi manusia adalah sistem yang kompleks. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Santa Fe Institute terhadap sistem kompleks menunjukkan bahwa kekayaan interaksi dalam sistem-sistem kompleks memungkinkan sistem itu mampu melakukan swa-kelola dan adaptasi dalam merespons perubahan-perubahan kondisi luar. Dengan demikian, lanjut Fidler, sistem media yang kompleks akan melakukan swa-kelola dan adaptasi terhadap bentuk-bentuk baru media yang datang belakangan, mendorong terbentuknya sistem kompleks baru yang saling bergantung dan berinteraksi secara dinamis.

Dengan demikian, sebaliknya dari meramalkan bahwa media-media komunikasi lama akan punah seiring dengan bermunculannya bentuk-bentuk media baru, perspektif mediamorfosis melihat bahwa semua bentuk media—baik yang lama (yang biasanya beradaptasi) ataupun yang baru—adalah bagian dari sebuah sistem yang saling terkait. Saya ingin menyebutnya sebagai sistem ekologi-media.

Tapi, meskipun tidak sepenuhnya yakin bahwa media buku akan punah sepenuhnya diempas oleh bentuk-bentuk media baru, setidaknya mungkin dalam beberapa dekade mendatang di Indonesia, menurut hemat saya, para penggiat dunia perbukuan, termasuk kami di Mizan, tidak boleh terlalu ge-er. Walau keanekaragaman hayati alam sekarang adalah hasil koevolusi sebuah sistem yang luar-biasa-kompleks, tetapi bukankah dinosaurus pun bisa dikatakan punah? Maka, walau terletak di masa depan, di wilayah mediamorfosis inilah, saya kira, terletak wilayah-jelajah baru (new frontiers) bagi Mizan.

Perlu saya sampaikan bahwa Mizan sendiri sudah mencoba mencicipi beberapa ikhtiar mediamorfosis sebelumnya. Pertama ketika kami meluncurkan website Mizan.com di tahun 1996, yang sejauh pengetahuan kami adalah website penerbit pertama yang lebih dari sekadar semacam katalog—karena kami merancangnya agar menjadi semacam pusat komunitas online para penggemar buku. Semangat yang sama inilah yang masih menjadi pedoman kami dalam menyuguhkan Mizan.com hingga saat ini. Yang kedua adalah ketika Mizan merancang sebuah e-book yang bisa secara gratis diunduh dari Mizan.com di tahun 2001, yang membuat Mizan menjadi penerbit pertama yang “menerbitkan” e-book di Indonesia. Meski tampak sangat sederhana menurut ukuran sekarang, e-book ini disambut hangat dan membuat lalu-lintas di komputer server macet, sehingga harus ditempatkan di beberapa server.

Dewasa ini, Mizan, bekerja sama dengan beberapa partner, tetap melanjutkan ikhtiar mediamorfosis ini. Menyadari pentingnya kemampuan internet sebagai sumber informasi, Mizan menjadi penerbit pertama di Indonesia yang digandeng Google sebagai premier partner untuk memasukkan buku-bukunya di Google Book Search. Karena merupakan semacam indeks-buku raksasa di internet, para peselancar di internet akan mudah mencari buku-buku terbitan Kelompok Mizan dengan memasukkan kata-kata kunci yang sesuai. Bekerja sama dengan Digibook, kami menghadirkan kembali buku-buku Kelompok Mizan dalam bentuk e-book—kali ini dengan tidak dibagikan cuma-cuma, tetapi dengan eksperimen model bisnis yang baru. Dengan Metadome, perusahaan content provider ternama dari Malaysia untuk komunikasi nirkabel, kami menyuguhkan novel yang bisa diunduh lewat handphone, sehingga kami beri nama apa lagi kalau bukan fonovela. Lalu dengan Readboy, kami bekerja sama untuk menghadirkan talkingbook, yang akan menyajikan suara dari halaman-halaman buku yang dibuka. Last but not least, bekerja sama dengan sineas-sineas ternama Indonesia, Mira Lesmana dan Riri Riza dari Miles Films, kami bekerja sama menghadirkan film Laskar Pelangi.

Sungguh, masih banyak yang harus dicoba-jelajahi di masa-masa mendatang. Lanskap media mengalami perubahan-perubahan cepat, dan mediamorfosis sering memberikan kejutan-kejutan bentuk media yang tak terbayangkan sebelumnya. Kindle dari Amazon, misalnya, secara mengejutkan dan revolusioner menghadirkan “buku” dengan menggabungkan teknologi komputer dan komunikasi nirkabel.

Dengan demikian, perlambang Dewa Janus dalam legenda Yunani, dewa yang memiliki dua pasang mata (sepasang di depan dan sepasang di belakang), menjadi cocok di sini. “Mata belakang” bertugas menjamin bagaimana buku-buku yang bermutu dan bermanfaat tetap tersuguhkan kepada khalayak Indonesia. Meskipun sudah bergelut seperempat abad di situ, tak urung kami pun sering dikagetkan dengan perkembangan-perkembangan internal perbukuan Indonesia. Tetapi, seperti halnya juga sebagian penerbit buku lain, “mata depan” kami mencoba memandang ke horizon di depan untuk mengira-ngira apa yang bakal terjadi. Sebagian ikhtiar itu mungkin tidak berhasil, tapi barangkali itu sudah sebuah keberhasilan karena telah menjadi “gen informasi” dalam, kalau boleh disebut, sistem kompleks-adaptif Mizan.

Apa pun, secara individual, kami, keluarga besar Mizan, mencoba memaknai semua itu sebagai amal ibadah sosial, sebagai penunaian tanggung jawab kami terhadap masyarakat. Dan dengan harap-harap cemas, kami senantiasa mengharap bahwa seluruh ikhtiar itu akan bisa dianggap sebagai amal jariyah, atau amal yang pahalanya bahkan tidak terputus ketika kami meninggal dan dikuburkan. Dengan izin Allah