Masukkan kata kunci Anda

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (4)

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (4)

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad:

Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (4)

 

Oleh: Abdurahman el-Indonesia

Lanjutan dari artikel sebelumnya: http://www.mizan.com/dari-leopold-weiss-menjadi-muhammad-asad-pergulatan-batin-sang-cucu-rabi-yahudi-dalam-meraih-kedamaian-jiwa-3/

Kini, pemuda Leopold Weiss, sang cucu rabi asal Austria yang sedang gelisah mencari jati diri itu, sudah sampai di Yerusalem, di rumah sang paman: Dorian Feigenbaum. Saat itu, musim gugur 1922. Dorian mengepalai rumah sakit jiwa di Yerusalem, sekaligus tergolong murid pertama Sigmund Freud, pendiri psikoanalisa.

Kediaman sang paman di Yerusalem itu adalah sebuah rumah batu model Arab kuno, yang terletak di pinggiran Kota Lama dekat Gerbang Yaffa. Dari teras bubungannya, terlihat Haikal Sulaiman, Masjid Al-Aqsa, dan Kubah Batu. Di sebelahnya, dinding-dinding Kota Lama condong ke arah Lembah Kidron. Ke arah timur, tampak sedikit kesuburan dan sebidang kebun yang melandai ke arah jalan, hijau tua: Taman Getsemani, tempat Yesus dulu berkhutbah. Dari tengah-tengahnya, di sela-sela pohon zaitun dan jeruk, berkilauan kubah berbentuk gapura: sebuah gereja Rusia.

(viii)

Di rumah itu, “hampir setiap hari hujan turun. Dan karena tidak dapat sering keluar rumah, saya acap kali duduk-duduk di depan jendela yang menghadap ke pekarangan luas di belakang rumah. Pekarangan ini milik seorang Arab tua yang dipanggil haji karena dia telah melakukan ziarah ibadah ke tanah suci Makkah; dia menyewakan keledai untuk ditunggangi dan untuk mengangkut beban. Maka, pekarangan itu menjadi semacam perhentian kafilah.

Setiap pagi, tak lama setelah fajar, muatan berupa buah-buahan dan sayuran diantarkan ke sana, di atas punggung unta, dari desa-desa berdekatan dan dikirim ke pasar-pasar jalanan di kota dengan keledai … orang-orang selalu sibuk mengurusi diri dan keledai-keledai, di samping mereka sendiri terpaksa mencari perlindungan dalam kandang-kandang dari curahan hujan. Mereka adalah orang-orang miskin dan compang-camping, penunggang dan pengiring-pengiring keledai. Namun, mereka berlaku bagaikan bangsawan-bangsawan agung. Bilamana mereka duduk bersama-sama makan siang di atas tanah, dan makan keping-keping roti tipis yang terbuat dari gandum bersama sedikit keju atau minyak zaitun, tiada lain kecuali kekaguman yang mengisi perasaan saya atas keagungan, ketabahan, serta ketenangan batin mereka.

Kita akan mengetahui bahwa mereka telah menghormati diri mereka, keadaan sehari-hari, serta kehidupan mereka sendiri. Haji itu, yang mondar-mandir dengan tongkatnya—karena dia menderita penyakit rematik dan lutut membengkak—merupakan semacam panglima di kalangan mereka. Tampaknya mereka menaatinya tanpa mengajukan pertanyaan.

Beberapa kali dalam sehari, ia mengumpulkan mereka untuk bersembahyang. Dan, apabila hujan tak begitu deras, mereka bersembahyang di lapangan terbuka. Semua orang itu membentuk satu deretan panjang, sedang dia sebagai imam berdiri di depan mereka. Kelihatannya bagaikan tentara dalam kesamaan gerakan—semuanya membungkuk bersama-sama mengarah Makkah, bangkit lagi, dan kemudian berlutut serta menyentuh tanah dengan dahi mereka. Kiranya mereka menirukan kata-kata yang tak terdengar, yang datang dari pemimpin mereka, yang di antara sujud-sujudnya itu, dia berdiri tegak di atas permadani sembahyangnya, mata terpejam, dan kedua tangan bersedekap di dadanya, seraya bibirnya bergerak-gerak, mengucapkan sesuatu yang tak terdengar, dan sesungguhnya sedang tenggelam dalam kekhusyukannya. Kita akan menyaksikan bahwa dia bersembahyang dengan sepenuh jiwanya.

Saya merasa terpesona menyaksikan sembahyang yang digabungkan bersama-sama dengan gerakan-gerakan badan yang hampir mekanis itu. Pada suatu hari, saya bertanya kepada haji itu, yang mengerti sepatah-sepatah bahasa Inggris:

‘Apakah Anda benar-benar percaya, bahwa Tuhan mengharapkan Anda memperlihatkan penghormatan kepada-Nya dengan membungkuk, berlutut, dan bersujud berulang kali? Apakah tidak lebih baik jika orang cukup memandang ke dalam dirinya sendiri, lalu berdoa kepada-Nya dalam sepenuh keheningan kalbu? Untuk apakah segala gerak badan Anda itu?’

Segera setelah saya mengutarakan kata-kata itu, saya merasa menyesal. Sebab, saya tak bermaksud melukai perasaan agama orang tua itu. Namun, haji itu tidak tersinggung sedikit pun. Dengan mulutnya yang ompong dia tersenyum dan menjawab:

‘Lalu bagaimana lagi caranya kita akan menyembah Tuhan? Bukankah Dia telah menciptakan keduanya: jiwa dan badan, sekaligus? Dan karena keadaannya demikian, tidakkah kita manusia seharusnya menyembah-Nya dengan jiwa sekaligus raga kita? Dengarlah, akan saya terangkan kepada Anda mengapa kami, kaum Muslim, bersembahyang sebagaimana kami lakukan.

Kami menghadap ke arah Ka‘bah, rumah ibadah suci Allah di Makkah, seraya mengetahui bahwa wajah seluruh kaum Muslim, di mana pun mereka berada, juga menghadap ke sana manakala sedang bersembahyang. Dan, kami bagaikan satu tubuh, dengan Dia adalah pusat perhatian kami.

Mula-mula kami berdiri tegak dan membaca ayat-ayat Al-Quran, sambil mengingat bahwa itu adalah Kata-Kata-Nya, untuk memperingatkan manusia agar ia tegak dan tabah dalam hidup. Kemudian kami mengucapkan ‘Allah Mahabesar’, untuk mengingatkan diri kami sendiri, bahwa tidak ada yang patut disembah selain Dia; lalu kami membungkuk rendah karena kami menghormati-Nya di atas segala-galanya, dan memuja kekuasaan serta kebesaran-Nya. Kemudian kami bersujud dan menyentuh tanah dengan dahi karena merasa bahwa kami hanyalah debu dan tak berarti apa-apa di hadapan Allah, dan bahwa Dia adalah Pencipta dan Pemelihara yang Mahatinggi. Kemudian kami mengangkat kepala dari atas tanah dan terus duduk, sambil berdoa, semoga Dia mengampuni segala dosa kami dan melimpahkan rahmat-Nya atas kami, serta menuntun kami ke arah jalan yang lurus, serta memberikan kami kesehatan dan rezeki.

Kemudian kami bersujud kembali di tanah dan menyentuhnya dengan dahi kami di hadapan kekuasaan dan kebesaran Yang Maha Esa. Setelah itu, kami terus duduk bertahiyat dan berdoa, mudah-mudahan Dia memberkati Nabi Muhammad yang telah menyampaikan Amanat-Nya kepada kami, sebagaimana Dia telah memberkati nabi-nabi sebelumnya; dan supaya Dia memberkati kami pula, serta semua orang yang mengikuti tuntunan yang benar; dan kami meminta-Nya agar memberikan kami kebaikan dalam dunia ini dan Kebaikan dalam dunia yang akan datang. Akhirnya, kami memalingkan kepala ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan, ‘semoga Allah melimpahkan keselamatan-kedamaian serta rahmat bagi kamu sekalian’—dan dengan demikian memberi salam kepada semua orang baik, di mana pun mereka berada.

Demikianlah cara sembahyang Nabi kami, dan demikianlah Nabi mengajarkan kepada para pengikutnya agar bersembahyang pada setiap waktu, sehingga mereka akan dengan suka rela menyerahkan diri kepada Allah—yang merupakan arti kata Islam itu sendiri—dan agar terdapat rasa perdamaian dengan Dia dan dengan takdir mereka sendiri.”

Orang tua itu tentu saja tak menggunakan kata-kata tepat seperti itu, namun inilah maksudnya dan inilah yang kini saya ingat. Bertahun-tahun kemudian saya sadar bahwa dengan keterangan bersahaja ini, haji itu telah membukakan saya pintu yang pertama menuju Islam. Tetapi bahkan pada saat itu, lama sebelum terpikir bahwa Islam boleh jadi akan menjadi keyakinanku, saya mulai merasakan rasa rendah yang tak dapat digambarkan bilamana saja saya melihat, sebagaimana sering terjadi, seorang laki-laki berdiri tanpa alas kaki di atas permadani sembahyangnya, ataupun di atas sehelai tikar jerami, atau bahkan di atas tanah tak beralas, dengan kedua tangan tersedekap pada dadanya dan kepala menunduk, tenggelam penuh seluruh dalam dirinya sendiri, tak sadar akan segala yang sedang berlangsung di sekitarnya, baik dalam sebuah masjid maupun di tepi jalan yang ramai: manusia yang berdamai dengan dirinya sendiri.[]