Masukkan kata kunci Anda

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (3)

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (3)

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad:

Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (3)

Oleh: Abdurahman el-Indonesia

 

Lanjutan dari artikel sebelumnya http://www.mizan.com/dari-leopold-weiss-menjadi-muhammad-asad-pergulatan-batin-sang-cucu-rabi-yahudi-dalam-meraih-kedamaian-jiwa-2/

Leopold Weiss berusia dua puluh dua tahun saat itu. Dia bagian dari generasi Eropa yang lahir persis di peralihan abad ke-19 ke abad 20. Generasi yang menyaksikan tragedi Perang Dunia 1, persis di saat mereka sedang resah gelisah mencari-cari jati diri:

(vi)

Malam-malam yang tak kunjung berakhir di bawah sinar bintang-gemintang dalam kelam, tatkala seseorang tidak begitu tahu apa yang sebenarnya ia inginkan, dan berjalan bersama sahabat menyusuri jalan-jalan lengang, mempercakapkan hal-hal besar, soal-soal paripurna dalam hidup, begitu asyik terbuai sampai-sampai lupa dengan dompet kosong dan hari esok yang tak tentu …. Kegelisahan yang bercampur dengan rasa senang, yang hanya bisa dirasakan kalangan muda, dan hasrat besar untuk merombak dunia dan menciptakan dunia baru …. 

Bagaimanakah seharusnya masyarakat dibentuk sehingga manusia dapat hidup dengan benar dan dengan penuh-seluruh? Bagaimanakah seharusnya hubungan antarmanusia disusun, agar mereka dapat lolos dari rasa sepi yang menyelimuti setiap kalbu manusia, agar manusia bisa benar-benar hidup dalam kebersamaan?

            Apakah baik itu? Dan apakah pula buruk itu? Apakah nasib itu? Atau dengan kata lain: apakah yang seharusnya dilakukan seseorang agar ia benar-benar—bukan sekadar berpura-pura—menyatu dan berdamai dengan hidupnya sendiri sehingga ia bisa berkata, ‘Aku dan nasibku adalah satu’? Itulah percakapan yang tiada akhir ….

Kafe-kafe di Wina dan Berlin yang dikunjungi kalangan sastrawan dan intelektual, yang dipenuhi perdebatan tiada berkesudahan tentang ‘forma’, ‘style’, dan ‘ekspresi’, tentang hakikat kebebasan politik, tentang pergaulan lelaki dan perempuan …. Haus akan pemahaman, dan terkadang bersamaan pula dengan rasa lapar akan makanan ….

Dan malam-malam yang dihabiskan penuh gairah tanpa kendali: seprai yang kusut di pagi hari, tatkala malam mengalami pasang naik penuh hasrat menggebu, dan perlahan-lahan beralih menjadi sepi, kelabu, dan beku. Namun, manakala sang pagi telah tiba, kita sudah lupa akan bekas-bekas pesta meriah semalam, dan berjalan lagi mengayun langkah ….

Kegembiraan setelah menemukan sebuah buku baru, atau bertemu wajah baru; mencari-cari dan memperoleh setengah jawaban; mengenang momen-momen yang jarang sekali terjadi, ketika bumi tiba-tiba terasa berhenti berputar selama beberapa detik, diterangi sekilas pancaran cahaya pemahaman yang berjanji menyingkapkan sesuatu yang belum pernah diterangkan sebelumnya: suatu jawaban atas segala pertanyaan ….[1]   

Tao-te-king. Demikian judul buku itu. Tergeletak di sebuah toko buku di Wina, Austria. Judulnya yang ganjil membuat Leopold Weiss penasaran. Dia pun membolak-balik halaman buku yang berisi ajaran Lao-Tse, sang bijak besar dari Tiongkok itu. Dan ketika dia sampai pada sebuah bagian ringkas yang berisi syair yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Jerman, dia pun tergetar disiram kebahagiaan. Lupa keadaan sekitar, terpaku berdiri, ternganga dengan buku di tangan.

Sebab, dalam buku itu saya melihat kehidupan manusia yang tenteram, lepas dari segala keterbelahan dan konflik; lahir dari kegembiraan hening yang senantiasa terbuka bagi kalbu manusia kalau saja ia ingin menggantungkan diri pada kebebasan …. Inilah kebenaran. Saya tak ragu lagi: kebenaran yang selamanya benar, walau kita telah melupakannya. Dan kini, saya mengenalinya dengan rasa girang bagaikan seorang yang baru kembali ke kampung halamannya yang telah lama hilang ….

Semenjak waktu itu, selama beberapa tahun, Lao Tse bagi saya merupakan jendela tempat saya memandang keluar, ke wilayah-wilayah kehidupan yang cerah, jauh dari segala kesempitan dan ketakutan ciptaan sendiri; bebas dari obsesi kekanak-kanakan yang mendesak kita dari waktu ke waktu, untuk selalu memastikan eksistensi kita melalui ‘perbaikan material’ terus-menerus, berapa pun harganya. Bukan karena perbaikan material itu buruk atau tidak perlu bagi saya. Sebaliknya, saya tetap memandang perbaikan material sebagai sesuatu yang baik dan perlu: tetapi pada saat yang sama saya yakin bahwa perbaikan material itu tidak dapat mencapai tujuannya—untuk mempertinggi jumlah total kebahagiaan manusia—kecuali jika ia diiringi oleh suatu reorientasi sikap spiritual kita dan keyakinan baru kita akan nilai-nilai absolut.

Namun, bagaimana reorientasi semacam itu dapat diwujudkan dan jenis penilaian baru macam mana yang ideal itu, masihlah belum jelas benar bagi saya. Sudah pasti omong kosong belaka jika kita mengharapkan orang-orang akan mengubah tujuan mereka—dan dengan demikian, mengubah orientasi segala yang mereka usahakan—segera setelah seseorang mulai berkhutbah kepada orang-orang, seperti yang dilakukan Lao Tse: agar orang hendaknya membuka dirinya sendiri terhadap kehidupan, bukannya berupaya merenggut kehidupan itu bagi dirinya sendiri sehingga justru malah memperkosa kehidupan itu sendiri.

Sekadar khutbah, sekadar keinsafan intelektual saja, sudah pasti tidak akan membawa perubahan dalam sikap spiritual masyarakat Eropa; satu kepercayaan baru untuk mengisi hati sangat diperlukan, suatu penyerahan diri yang menyala-nyala pada nilai-nilai yang tidak mengenal istilah Kalau dan Tetapi: namun ke manakah kepercayaan semacam itu harus dicari …?[2]

Saat itu, Weiss masih terlalu muda untuk menyadari implikasi terdalam dari tantangan petuah Lao Tse itu, yakni bahwa petuahnya bukan sekadar ditujukan pada sikap intelektual tertentu yang bisa berubah-ubah, tetapi ditujukan justru pada sejumlah konsep mendasar yang melahirkan sikap intelektual itu.


“Andai saya telah mengetahuinya, saya tentu akan menyimpulkan bahwa Eropa mustahil bisa meraih ketenteraman batin yang tanpa beban itu—yang dibicarakan Lao Tse—kecuali Eropa mengumpulkan segala keberaniannya untuk mempertanyakan akar-akar spiritual dan etikanya sendiri. Tentu saja, saya saat itu masih terlalu muda untuk bisa sampai pada kesimpulan itu secara sadar ….

Benar, pesan-pesan Lao Tse mengguncang lubuk terdalam batinku. Ajarannya mengilhami saya akan adanya suatu masyarakat di mana manusia dapat menyatu dan berdamai dengan nasibnya, dan begitu pula menyatu dan berdamai dengan dirinya. Namun, karena saya tidak melihat dengan jelas bagaimana caranya falsafah semacam itu bisa melampaui sekadar perenungan belaka, dan bisa diterjemahkan ke dalam kenyataan dalam konteks cara hidup Eropa, saya berangsur-angsur mulai meragukan apakah ia memang benar-benar dapat diterapkan.

Saat itu, saya memang masih belum sampai di titik di mana saya bahkan mempertanyakan diri sendiri, apakah cara hidup Eropa—dalam fondasi-fondasi dasarnya—merupakan satu-satunya cara yang mungkin. Dengan kata lain, sebagaimana halnya semua orang di sekeliling saya, saya sepenuhnya terkungkung dalam pandangan hidup kultural Eropa yang egosentrik. Dan demikianlah, walau suara-suara Lao Tse tidak pernah benar-benar terbungkam, ia pun selangkah demi selangkah mulai undur diri ke latar belakang fantasi kontemplatif, dan akhirnya menjadi tidak lebih dari sekadar pengemban puisi yang indah.[3]

(vii)

Kemudian pada suatu hari, di musim semi tahun 1922, saya menerima sepucuk surat dari paman saya, Dorian … seorang psikiater—salah seorang murid awal Sigmund Freud—yang pada waktu itu mengepalai sebuah rumah sakit jiwa di Yerusalem. Karena dia sendiri bukan seorang Zionis, juga bukan seorang yang bersimpati pada tujuan zionisme, dan tidak juga tertarik pada pihak Arab, maka dia merasa kesepian dan terpencil dalam suatu dunia yang tidak menawarkan apa-apa kepadanya selain kerja dan gaji. Karena masih membujang, dia merasa bahwa hanya keponakannyalah yang dapat menghibur kesunyiannya itu. Dalam suratnya, dia mengingatkan kembali akan hari-hari yang menyenangkan di Wina ketika dia membimbing saya memasuki dunia baru psikoanalisa .[4]

 

Di akhir suratnya, sang Paman mengundang Weiss datang dan tinggal barang beberapa bulan di rumahnya di Yerusalem. Maka, Weiss pun berangkat menumpang kapal laut menuju dunia Timur. Setelah menempuh perjalanan laut selama beberapa hari, dia pun tiba di Aleksandria, Mesir. Dari sana, dia meneruskan perjalanan ke Palestina dengan kereta api, melalui pemandangan Delta dan terusan-terusan Sungai Nil yang diselimuti layar-layar perahu, melewati rumah-rumah kelabu, menara-menara masjid nan memutih, kampung-kampung dengan bangunan kotak-kotak dari tanah liat, ladang-ladang kapas, perkebunan tebu, pepohonan kurma, kerbau-kerbau yang habis berkubang … dan manusia-manusia berpakaian jubah panjang ….[5]

Ketika kereta api meluncur di Gurun Sinai, Weiss disergap udara dingin malam yang menggigit. Matanya tak bisa terpejam. Di hadapannya duduk seorang Arab Badui dengan abaya coklat yang tebal: orang itu juga kedinginan dan menyelubungi wajahnya dengan tutup kepalanya. Dia duduk bersila di atas bangku, dan pada lututnya tampak sebilah pedang melengkung dalam sarung bertatahkan perak …. Kereta terus melaju, hingga akhirnya mentari pun menyembul. Di stasiun-stasiun kecil, kereta pun berhenti, lalu

anak-anak kecil berkulit sawo matang terbakar sinar matahari dengan pakaian compang-camping berjejalan menawarkan jajan, kurma, telur rebus segar, dan roti panggang yang pipih dalam keranjang. Si Arab Badui yang duduk di depan saya bangkit perlahan-lahan … membuka jendela. Raut mukanya tipis, sawo-matang, bermuka runcing yang selalu menengadah tegak ke depan dengan kesungguhan. Dia membeli sekeping roti, berbalik lagi hendak duduk ketika matanya tertumbuk ke arah saya.

Dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dipenggalnya jajanan roti itu serta disodorkannya kepada saya. Ketika dilihatnya kebimbangan dan keheranan membayang di air muka saya, dia tersenyum—saya sempat menyaksikan senyum menghiasi wajahnya bersama kesungguhan yang tadi membayang, sambil mengucapkan sepatah kata yang tak saya pahami, yang baru kemudian saya tahu artinya, yaitu tafaddhal—“silakan!”

Saya menerima jajanan itu seraya mengatakan terima kasih dengan anggukan kepala. Seorang penumpang lainnya—mengenakan pakaian Eropa, terkecuali topi fez merahnya, barangkali seorang pedagang kecil—mencampuri sebagai penerjemah. Dalam bahasa Inggris terputus-putus dia berkata: 

‘Katanya, Anda penumpang, dia penumpang. Jalanmu dan jalannya adalah sama.’

 Bila saya memikirkan kejadian kecil itu sekarang, rasanya kecintaan saya terhadap karakter bangsa Arab, yang datang kemudian, pasti terpengaruh oleh kejadian itu. Karena dalam perilaku orang Arab Badui ini, yang melampaui segala rintangan rasa asing antara dia dan seorang teman yang kebetulan seperjalanan dan berbagi roti dengannya, pasti saya telah merasakan adanya napas dan langkah kemanusiaan yang bebas dari beban ….

Orang-orang Arab Badui dari negeri Hijaz utara. Wajah mereka coklat, berdebu, dengan roman muka garang-hangat. … Atmosfer kemerdekaan mengelilingi mereka, dan saya pun merasakan hasrat yang kuat untuk memahami kehidupan mereka. … Terbukalah pikiran saya bahwa orang yang berasal dari lingkungan padang pasir pasti punya pengertian hidup yang berbeda daripada orang yang berasal dari tempat-tempat lain: mereka tentu terbebas dari banyak obsesi—barangkali juga bebas dari banyak impian—khas yang dimiliki bangsa-bangsa yang tinggal di negeri-negeri yang lebih sejuk dan subur. Dan tentu saja terbebas dari segala keterbatasan mereka. Dan, karena mereka mesti lebih mengandalkan persepsi mereka sendiri, para penghuni padang pasir ini mesti menentukan skala nilai yang berbeda untuk menimbang hal-hal di dunia ini.[6]

 

[Bersambung: “Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad:

Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (4)”]

[1] The Road to Mecca, hh. 69-70.

[2] Ibid., hh. 71-72.

[3] Ibid., hh. 71-73.

[4] Ibid., h. 74.

[5] Ibid., h. 79.

[6] Ibid., h. 84.