Masukkan kata kunci Anda

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (2)

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (2)

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad:

Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (2)

Oleh: Abdurrahman el-Indonesia

Lanjutan dari artikel sebelumnya: http://www.mizan.com/dari-leopold-weiss-menjadi-muhammad-asad-pergulatan-batin-sang-cucu-rabi-yahudi-dalam-meraih-kedamaian-jiwa-1/

Agama leluhur Leopold Weiss tidak membuatnya puas. Begitu pula sains modern: ketika tercerai dari etika, ia justru dipakai menjadi alat untuk berperang antarbangsa dan saling menghancurkan, seperti yang dia saksikan sendiri dalam Perang Dunia 1, yang memakan korban setidaknya 17 juta nyawa melayang dan 20 juta manusia terluka atau cacat. Walhasil, pemuda Weiss yang sedang gelisah-batin itu pun mencari jawaban di bidang sejarah seni dan filsafat. Kedua bidang inilah yang dia tekuni di Universitas Wina pada 1918, persis setelah Perang Dunia 1 usai.

(iii)

Bidang humaniora ini memang sudah disukainya sejak masih muda. Di antara pengarang favoritnya sejak duduk di bangku sekolah adalah Sienkiewicz, penulis roman-roman sejarah yang penuh semangat; Jules Verne yang penuh imajinasi; James Fenimore dan Karl May dengan cerita-cerita petualangan dengan bangsa Indiannya; kemudian puisi-puisi Rainer Maria Rilke; juga Nietzsche dalam Also sprach Zarathustra (di Indonesia, karya ini diterjemahkan oleh HB Jassin, paus sastra Indonesia).

Di Universitas Wina, dia juga belajar kimia dan fisika di bawah asuhan Erwin Schrödinger, yang kelak memenangkan Hadiah Nobel pada tahun 1933. Namun, Weiss tidak tertarik pada sains. Belakangan, dia pun akhirnya tidak puas dengan para profesor sejarah seninya—misalnya Strzygowski dan Dvorak, figur terkemuka dalam bidangnya masing-masing. Karena bagi Weiss, mereka lebih mementingkan bentuk-bentuk seni dan hukum-hukum estetika dalam penciptaan artistik ketimbang menelisik dorongan-dorongan spiritualnya yang lebih dalam.

Pada zaman itu, Kota Wina secara intelektual didominasi oleh cendekiawan besar seperti Ludwig Wittgenstein (filosof-matematikawan terkemuka, kolega Bertrand Russel) dan Sigmund Freud (pelopor psikoanalisa, yang kala itu merupakan disiplin ilmu baru). Bidang terakhir inilah yang lalu menarik minat Weiss: “saya menghabiskan banyak waktu malam di kafe-kafe Wina, untuk mendengarkan dengan asyiknya diskusi-diskusi sebagian pelopor psikoanalisa terdahulu, misalnya, Alfred Adler, Hermann Steckl, dan Otto Gross.” Namun, walau Weiss tidak membantah keabsahan prinsip-prinsip analitisnya, dia terusik dengan arogansi intelektual dari ilmu baru itu (psikoanalisa), yang menurutnya, “berusaha mereduksi semua misteri Diri (Self) manusia menjadi serangkaian reaksi neurogenetik belaka.”[1] Kesimpulan-kesimpulan filosofis yang diambil pendiri psikoanalisa ini dan para pengikutnya, bagi Weiss, terlalu picik, gagah-gagahan, dan terlalu menyederhanakan masalah, sehingga tidak bisa diharapkan mendekati apa yang dia bayangkan sebagai kebenaran paripurna; dan sudah barang tentu tidak menunjukkan jalan baru untuk menempuh hidup yang baik.[2]

Weiss tetap saja tidak puas.

(iv)

Akhirnya, setelah sekitar dua tahun kuliah, kegelisahan batinnya memuncak sedemikian rupa sehingga dia merasa semakin sukar meneruskan studinya di universitas. Kehidupan dan karier akademis-teoretis tidak menarik baginya. Weiss lebih tertarik pada manusia, aktivitas, dan menjalin hubungan. Dan tentu saja: petualangan. Maka, Weiss pun memutuskan berhenti kuliah dan mengadu untung menjadi wartawan dan penulis. Sang ayah yang amat mengharapkannya menyelesaikan studi hingga jenjang doktoral tidak menyetujui keputusan anaknya ini, sehingga pemuda 20-an tahun itu memutuskan minggat: hidup mandiri tanpa sokongan finansial orangtua.

Weiss hijrah ke Berlin, Jerman, kota yang paling menarik pada masanya. Sebagai ongkos perjalanan, dia menjual cincin berlian peninggalan ibunya yang telah wafat beberapa tahun sebelumnya.

Di Berlin, Weiss diperkenalkan teman-teman Winanya ke dalam lingkungan pergaulan para penulis macam Hugo Ball yang kerap berkumpul di Café des Westens dan Romanisches Cafe, yang sering dikunjungi kalangan penulis, artis, jurnalis, aktor dan produser terkemuka zaman itu. Di kota ini Weiss berjuang hidup melawan lapar dengan melakukan pekerjaan serabutan. Sulit bagi anak muda tanpa pengalaman sepertinya diterima bekerja di surat-surat kabar besar Jerman. Sering dia kehabisan ongkos, sehingga untuk melamar kerja pun dia terpaksa harus berjalan kaki. Namun, Weiss muda akhirnya membangun reputasinya sendiri dengan menulis skenario film dan menjadi asisten sang sutradara dan tokoh film terkenal Dr. Friedrich Murnau. Pekerjaan ini dilakoninya dua bulan saja, karena Murnau keburu pindah ke Hollywood, Amerika, negeri yang akhirnya memahsyurkan sutradara ini.

Setelah jatuh-bangun berpetualang di berbagai kota di Eropa Tengah, melakukan berbagai pekerjaan berumur singkat, akhirnya Weiss berhasil menerobos masuk ke dalam dunia jurnalisme yang diidam-idamkannya. Pada 1921, dia diterima bekerja di kantor berita United Telegraph yang baru saja didirikan oleh tokoh terkemuka Partai Katolik Pusat Jerman, Dr. Dammert, bekerja sama dengan United Press of America. Posisi awalnya: pengirim berita via telepon. Lalu, karena secara sensasional berhasil mewawancarai istri sastrawan Rusia Maxim Gorki pada 1921, Weiss pun akhirnya menjadi jurnalis penuh. Berkat penguasaannya atas berbagai bahasa, karier jurnalistiknya menanjak hingga menjabat pembantu redaksi yang bertanggung jawab memberi layanan berita untuk pers Skandinavia. Sungguhpun begitu, batinnya masih saja tidak puas.

(v)

Eropa pasca-Perang Dunia 1 ditandai dengan “kehampaan jiwa, relativisme samar-samar, dan sinis, yang timbul karena semakin bertambahnya keputusasaan berkenaan dengan masa depan manusia. Kendatipun masih muda, mata saya tak dapat dikelabui oleh kenyataan bahwa seusai bencana Perang Dunia, segala sesuatunya menjadi tidak beres di dunia Eropa yang sudah terpecah-pecah, tidak tenteram, penuh ketegangan emosional itu.

“Tuhannya yang riil, di mataku, bukan lagi yang bersifat spiritual, melainkan Kesenangan. Tentu saja masih banyak individu yang merasa dan berpikir dalam kerangka religius dan mati-matian berupaya merekonsiliasi kepercayaan moralnya dengan semangat peradaban tempat mereka hidup; namun mereka ini hanyalah perkecualian. Rata-rata orang Eropa—apakah ia seorang demokrat atau komunis, buruh kasar atau intelektual—tampaknya hanya mengetahui satu kepercayaan positif: memuja kemajuan material; suatu kepercayaan bahwa tiada tujuan lain dalam hidup ini selain membuat hidup itu sendiri terus-menerus semakin mudah atau, sebagaimana ungkapan populer pada masa itu, “mandiri, terbebas dari alam” (independent of nature).

“Rumah ibadah agama ini adalah: pabrik-pabrik raksasa, bioskop, laboratorium kimia, ruang dansa, dan bangunan hidro-elektrik. Sedangkan para pendetanya terdiri dari bankir, insinyur, politikus, bintang film, ahli statistik, pemimpin-pemimpin industri, penerbang pemecah rekor, dan para komisaris perusahaan. Frustrasi etis tampak jelas pada tidak adanya kesepakatan tentang makna Baik dan Buruk, dan pada fakta bahwa segala persoalan sosial-ekonomi diselesaikan menurut prinsip “pragmatisme dan asas manfaat” belaka ….

“Hasrat yang tidak kunjung terpuaskan dalam mengejar kekuasaan dan kesenangan tentu saja akhirnya membuat masyarakat Barat terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan, yang mempersenjatai dirinya sekuat tenaga dan bertekad untuk saling menghancurkan, kapan dan di mana saja kepentingan mereka bertabrakan. Sedang dalam segi kultur, hasilnya adalah terciptanya satu jenis manusia yang moralitasnya tampak ditentukan sebatas persoalan kegunaan praktis belaka, dan yang menganggap bahwa kriteria tertinggi tentang Benar dan Salah adalah suksesnya materi.”[3] 

“Saya melihat sendiri betapa hidup kami di Eropa menjadi kacau-balau, membingungkan, dan tidak bahagia; alangkah renggangnya pergaulan antara sesama manusia dan tiadanya jalinan hubungan yang sejati antarinsan, terlepas dari segala gagasan mengenai ‘masyarakat’ (community) dan ‘bangsa’ (nation) yang disuarakan dengan amat lantang dan nyaris dengan nada histeris; alangkah jauhnya kita telah tersesat, menyimpang dari naluri bawaan kita; dan betapa sempit, picik, dan berkaratnya jiwa kita …. Saya merasakan dunia yang tak serasi, pahit, dan serakah ….[4]

 

Dalam kutipan di atas, Weiss menunjuk pada ironi masyarakat Eropa pasca-Perang Dunia 1: hubungan antarmanusia yang begitu renggang di satu pihak, dan seruan-seruan lantang tentang komunitas dan bangsa di lain pihak. Padahal, community berasal dari kata Latin communitas: ruh publik; dan dari kata Latin communis: berbagi kebersamaan—suatu hal yang justru tidak tampak dalam kenyataan di Eropa saat itu. Begitu pula dengan konsep “bangsa” (nation) yang digembar-gemborkan: kenyataannya, di Eropa justru terjadi peperangan antarbangsa pada Perang Dunia 1, yang nantinya akan memuncak pada Perang Dunia 2 yang jauh lebih besar dan dahsyat, dengan lebih dari 60 juta manusia tewas. (Bahkan ayah, saudara, dan keluarga Weiss sendiri nantinya juga menjadi korban meninggal di tahanan polisi dan kamp konsentrasi NAZI, sekitar dua dekade kemudian).

Bagi Weiss, dunia Eropa pada masanya didasarkan pada “asumsi naif bahwa hidup dapat diselamatkan dari keadaannya yang kacau sekarang ini dan ‘diperbaiki’ hanya jika kondisi lahiriahnya—kondisi ekonomi atau politiknya—diperbaiki. Bahkan pada saat itu, saya sudah memiliki perasaan yang kuat bahwa kemajuan material saja, pada dirinya sendiri, tidak dapat memberikan solusi.”[5]

Dengan kariernya yang sedang  menanjak, Weiss “bukannya tidak bahagia—hanya saja jauh di dalam batin merasa tidak puas. Tidak puas karena tak mengetahui apa sebenarnya yang sedang saya cari dan tuju … saya tidak mampu memperpadukan diri dengan berbagai macam harapan sosial, ekonomi, politik orang-orang di sekeliling saya.”

Lalu, lama kelamaan, secara samar-samar muncullah perasaan bahwa Weiss bukan bagian dari mereka, suatu perasaan yang “diiringi, sekali lagi secara samar-samar, oleh suatu hasrat untuk menjadi bagian dari sesuatu—menjadi bagian dari siapa? Dan menjadi bagian dari apa?”[6]

Lalu, di sebuah toko buku di Kota Wina, Leopold Weiss menemukan sebuah buku berjudul eksotik: Tao-te-king. Terjemahan berbahasa Jerman dari ajaran Lao-tse, sang bijak dari Tiongkok, yang membuatnya seperti tersihir ….[]

***

 

[Bersambung: “Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad:

Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (3)”]

 

 

 

[1] Ibid., h. 59.

[2] Ibid.

[3] Ibid., hh. 70-71.

[4] Ibid., hh. 70-73.

[5] Ibid., h. 73.

[6] Ibid., h. 74.