Masukkan kata kunci Anda

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (1)

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad: Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (1)

Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad:

Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (1)

Oleh: Abdurrahman el-Indonesia

 

Pada 2 Juli 1900 di Lemberg, Galicia, wilayah Kerajaan Austro-Hongaria (kini bernama Lviv, bagian dari negara Ukraina), lahirlah Leopold Weiss. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Orangtuanya tergolong cendekiawan Yahudi-Polandia terpandang. Kakeknya dari garis ibu, seorang bankir lokal yang kaya. Kakeknya dari pihak ayah—juga leluhurnya seterusnya hingga ke atas—adalah rabi (pendeta) Yahudi. Namun ayahnya, Kiva Weiss, tidak meneruskan tradisi keluarga ini dan beralih profesi menjadi pengacara.

Sungguhpun begitu, sang ayah memastikan Leopold Weiss menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari menelaah kitab-kitab suci Yahudi dengan mendatangkan guru-guru pribadi ke rumahnya. Walhasil, di usia 13 tahun, Leopold cilik bukan saja mahir membaca Bahasa Ibrani dengan lancar, melainkan dapat pula berbicara dalam bahasa itu dengan fasih. Sebagai tambahan, Poldi (panggilan sayang untuk Leopold) memiliki pengetahuan yang lumayan tentang Bahasa Aramea (yang memudahkannya menguasai Bahasa Arab di kemudian hari).[1]

Sedari kecil, Leopold Weiss mempelajari Bibel Perjanjian Lama dalam bahasa aslinya, Ibrani. Kitab Mishna dan Gemarra, yakni teks dan tafsir Talmud, juga diakrabinya sedemikian rupa sehingga dia dapat membahas perbedaan-perbedaan antara Talmud Babilonia dan Talmud Yerusalem dengan meyakinkan. Dia juga menyelami kerumitan tafsir Bibel, yakni Targum, seolah-olah dia sedang dipersiapkan untuk menjalani karier sebagai rabi, tradisi leluhurnya dari generasi ke generasi.[2]

 

(i)

Namun terlepas dari segala pendidikan agama ini, atau mungkin justru karenanya, Weiss muda akhirnya bersikap kritis terhadap banyak dasar agama Yahudi. Simak pengakuannya:

 

“Tentu saja, saya bukan tidak setuju dengan ajaran keluhuran moral yang ditekankan sedemikian kuatnya di seluruh kitab-kitab suci Yahudi itu; juga tidak membantah kesadaran ketuhanan yang sedemikian sublimnya ditunjukkan oleh nabi-nabi berbangsa Ibrani itu. Namun, bagiku, Tuhan yang disajikan dalam Perjanjian Lama dan Talmud itu terlalu menyibukkan diri dengan perincian ritual agama yang harus dilakukan umat-Nya untuk menyembah-Nya.

“Juga tampak bagiku bahwa Tuhan ini secara aneh begitu mementingkan nasib satu bangsa manusia tertentu saja: bangsa Ibrani. Kitab Bibel Perjanjian Lama itu sendiri, yang memaparkan sejarah anak-keturunan Ibrahim, cenderung menampilkan Tuhan bukan sebagai Pencipta dan Pemelihara seluruh manusia, tetapi lebih sebagai dewa suku bangsa tertentu (tribal diety) yang menyesuaikan seluruh alam ciptaan demi kebutuhan ‘bangsa terpilih’ itu: jika bangsa ini berperilaku saleh, mereka akan diberi imbalan tanah taklukan; dan jika bangsa terpilih ini menyeleweng dari jalan yang benar, mereka akan dibuat menderita di tangan orang-orang kafir. Jika dikontraskan dengan kelemahan-kelemahan yang mendasar ini, bahkan semangat etis nan menggebu-gebu yang didakwahkan para nabi Ibrani yang lebih terkemudian—seperti Yesaya dan Yeremia—tampak begitu gersang dari pesan-pesan universal.

Namun, walaupun dampak dari pelajaran agama pada masa kecil saya itu berkebalikan dari tujuannya—alih-alih mendekatkan kepada, justru menjauhkan saya dari, agama leluhur saya—di kemudian hari saya sering berpikir bahwa pelajaran-pelajaran agama semasa kecil saya itu telah membantuku memahami tujuan fundamental agama itu sendiri, apa pun bentuk formal agamanya.”[3]

Walhasil, di masa-masa sedini itu, dia pun kecewa dengan agama leluhurnya. Baginya, agama tidak lebih dari serangkaian aturan yang mengekang. Karenanya, dia tidak merasa lebih buruk ketika meninggalkannya. Sungguhpun demikian, pada saat itu kekecewaan ini tidak membuatnya mencari kebenaran spiritual lainnya. Terpengaruh arus lingkungan sekitarnya yang agnostik, dia pun menolak semua agama terlembaga—seperti kebanyakan remaja seusianya. Sebagai remaja yang baru tumbuh, dia belum peduli akan gagasan teologis dan filosofis. Dia lebih suka tindakan, petualangan, dan kesenangan.

 

(ii)

Maka pada akhir 1914, tahun ketika Perang Dunia 1 dimulai, ketika dia dan keluarganya sudah pindah ke Wina, Poldi Weiss diam-diam keluar dari sekolah dan mendaftar sebagai tentara Austria. Meskipun usia minimum untuk menjadi tentara adalah 18, tubuhnya yang tinggi bisa menyembunyikan usianya yang 4 tahun lebih muda itu. Namun, seminggu kemudian ayahnya berhasil melacaknya dengan bantuan polisi, dan menggiringnya kembali ke rumah. Sejak remaja, semangat petualangan dan keberaniannya sudah terlihat.

Lalu, empat tahun kemudian—ketika cita-cita kemiliterannya justru sudah pupus dan dia sedang mencari-cari arah hidup ke jurusan lain—akhirnya dia justru direkrut sebagai tentara Austria. Kali ini secara sah. Namun, beberapa minggu kemudian revolusi pecah. Kekaisaran Austria runtuh. Dan, Perang Dunia 1 pun usai.

Bagi Weiss, dekade awal abad ke-20 di Eropa ditandai dengan kehampaan spiritual. Sebagai akibat dari Perang Dunia 1, segala nilai etika yang sudah berlaku di Eropa selama berabad-abad akhirnya menjadi tidak karuan lagi. Perasaan tidak aman dan rapuh menyeruak di mana-mana. Setelah menyaksikan segala kehancuran dan kekacauan akibat perang antarbangsa yang memakan sedemikian banyak korban itu, orang menjadi ragu: apakah segenap hasil usaha dan daya pikir manusia akan bisa bertahan secara permanen? Kegelisahan spiritual kaum muda tidak mendapat tumpuan berpijak. Tanpa standar moral yang bisa diandalkan, tiada seorang pun bisa memberi jawaban memuaskan atas berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran kaum muda masa itu.

Simak Weiss, dalam autobiografinya yang menjadi bestseller internasional, The Road to Mecca:

 

“Sains berkata, ‘Pengetahuan (kognisi) adalah segala-galanya’—dan lupa bahwa pengetahuan tanpa tujuan etis bisa bermuara pada kekacauan belaka. Kalangan reformis sosial, kaum revolusioner, golongan komunis—yang kesemuanya tentu ingin membangun dunia yang lebih baik dan bahagia—hanya berpikir dalam kerangka sosial dan ekonomi lahiriah. Dan, untuk menutupi cacat itu mereka membuat konsepsi sejarah materialistik mereka itu menjadi semacam ajaran metafisika anti-metafisika gaya baru.” (Yakni, filsafat materialisme komunisme sudah menjadi agama baru—AI).

“Di lain pihak, kalangan religius tradisional menempelkan pada Tuhan sifat-sifat yang berasal dari kebiasaan berpikir mereka sendiri, yang sudah lama menjadi begitu kaku dan hampa makna. Dan ketika kami, anak-anak muda, melihat bahwa gambaran mereka tentang sifat-sifat Tuhan itu justru amat bertentangan dengan kenyataan yang terjadi di dunia sekeliling kami, kami pun berkata, ‘Tenaga-tenaga nasib yang bekerja ini jelas-jelas berbeda dengan sifat-sifat yang ditempelkan kepada Tuhan itu; karena itu, Tuhan tidak ada!’”

“Dan hanya segelintir saja di antara kami yang berpikir bahwa segala kekacauan ini barangkali justru disebabkan oleh tindakan sewenang-wenang para pemimpin agama yang merasa dirinya sendiri suci dari kesalahan, yang mengklaim berhak ‘mendefinisikan’ Tuhan dan, dengan memakaikan jubah [konsepsi dan pemahaman] mereka sendiri kepada Tuhan, justru menceraikan Tuhan dari manusia dan dari nasibnya. Dalam tataran individu, kelabilan etika ini hanya akan bermuara pada dua hal: kekacauan moral dan sinisme yang sempurna, atau pada suatu pencarian pendekatan personal yang kreatif untuk menemukan apa yang dinamakan sebagai ‘kehidupan yang baik’.”[4][]

 

[Bersambung: “Dari Leopold Weiss Menjadi Muhammad Asad:
Pergulatan Batin Sang Cucu Rabi Yahudi dalam Meraih Kedamaian Jiwa (2)”]

 

 

[1] Muhammad Asad, The Road to Mecca, The Book Foundation, 2005, h. 55.

[2] Ibid.

[3] Ibid., hh. 55-56.

[4] Ibid., hh. 57-58.