Masukkan kata kunci Anda

Change Leadership: Non-Finito

Change Leadership: Non-Finito

Peluncuran Buku Change Leadership: Non-Finito

Karya: Rhenald Kasali

Rhenald-dan-Awang

Rumah Perubahan kembali menggelar peluncuran buku. Kali ini, buku berjudul ’Change Leadership: Non-Finito’ karya Direktur Utama PT Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D diluncurkan di Segara Room, Hotel Darmawangsa Jakarta, Selasa (12/4/2016).

Hadir dalam peluncuran tersebut sejumlah narasumber, diantaranya Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Dr Awang Faroek Ishak, Bupati Trenggalek Prof Emil Elestianto Dardak, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Prof Anwar Nasution PhD, Ketua Program Pascasarjana Ketahanan Nasional UI Prof Dr Wan Usman MSc, dan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Dr Syarkawi Rauf, SE, ME.

Menurut Rhenald, buku yang diterbitkan Mizan tersebut terinspirasi dari pengalamannya mengunjungi kota Florence, Italia, di akhir Juli 2015. Di Florence, Rhenald tertarik dengan patung karya Michael Angelo, The Naked Slave, yang terdiri dari 4 patung setinggi 2,5 meter dan dibuat dalam keadaan belum selesai (non-finito).

Rhenald menilai, pekerjaan non finito itu sejatinya bukanlah representasi dari kegagalan. Pasalnya, karya Michael Angelo justru menuai pujian dari banyak kalangan dan menjadi kebanggaan saat memajangnya. Hal itu membuktikan bahwa melakukan upaya perubahan tidak mesti harus selesai (non-finito), karena pada realitasnya para pelaku perubahan selalu akan berhadapan dengan ketidakpastian.

“Pemimpin-pemimpin perubahan berkarya dalam ketidakpastian. Banyak hal yang tidak pasti sehingga mereka sulit mewujudkan rencana, visi, dan impian mereka. Padahal, pemimpin perubahan (change leader) adalah pemimpin dengan lompatan visi yang panjang, tetapi masa jabatan mereka tak cukup untuk menyelesaikan visinya,” ujar Rhenald.

Lebih lanjut Rhenald menyebutkan, terlepas dari keberhasilan dan kegagalan pemimpin, perubahan itu selalu diawali oleh sosok. Di antara sosok pemimpin yang diceritakan oleh Rhenald dalam bukunya tersebut adalah Awang Faroek Ishak.

Menurutnya, Gubernur Kaltim tersebut memiliki pandangan visioner dan kerap melakukan lompatan pemikiran yang jauh ke depan. Faktanya, gubernur Kalimantan Timur selama dua periode tersebut berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi di Kaltim dengan melanjutkan pembangunan jalan tol yang menghubungkan Balikpapan-Samarinda yang sempat tertunda selama 13 tahun. Bahkan akses pembangunan diperpanjang hingga Bontang, Sangatta, dan Maloy.

“Pak Awang sukses mengajak rakyatnya melakukan tantangan-tantangan adaptif yang disampaikan melalui rembuk rakyat selama beberapa kali. Beliau juga melakukan apa yang secara akademis sering disebut sebagai connecting the dots,” tegas Rhenald.

Selain Awang Faroek Ishak, Rhenald juga menyertakan sejumlah nama lain para pemimpin daerah yang dianggap memiliki kapasitas sebagai change leaders. Mereka diantaranya adalah mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta yang kini menjabat Presiden RI, Joko Widodo, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Bojonegoro Suyoto atau Kang Yoto, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.

“Saya teringat saat Bu Risma menyampaikan mimpinya yang belum selesai. Beliau mengatakan, dirinya ingin semua warga Surabaya dapat mandiri secara ekonomi. Di hari tua pun sebaiknya warga tak tergantung kepada orang lain karena sudah ada uang pensiun. Apapun usaha warga, Bu Risma ingin mereka punya uang pensiun. Ini sedang dikerjakan, tapi butuh proses. Salah satunya Bu Risma membangun beberapa sentra pedagang kaki lima (PKL),”ucap Rhenald.

Di dalam buku tersebut, Rhenald menekankan arti dari change leader atau pemimpin perubahan. Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) tersebut, pemimpin perubahan adalah pemimpin yang dapat memperbaiki rakyat, bangsa, dan generasi masa depan. Mereka tidak sekalipun menggunakan jabatan untuk mengimpresi, pamer kekuasaan, apalagi mewariskan kerusakan.

Seorang change leaders pun tidak pernah takut akan bahayanya resiko. Ia akan berusaha mewujudkan karya dan impiannya, meski di depannya menghadang resiko besar, sebuah ketidakpastian (non-finito), kekurangan biaya, kurangnya dukungan masyarakat, ketidakpastian perekonomian dunia, ataupun kehabisan waktu.

“Wilayah Indonesia yang alamnya kaya raya membutuhkan change leader untuk mengubah constraint menjadi oprtunity. Kita butuh pemimpin yang berani memulai hari ini, bukan esok, bukan lusa,” tandas Rhenald.

Sementara itu, Awang Faroek yang mendampingi Rhenald menyebutkan, dirinya telah memberikan banyak beasiswa pendidikan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya warganya.

“Saya memiliki program beasiswa untuk 400 ribu anak Kalimantan Timur yang akan terus bergulir hingga tahun 2018. Beasiswa itu berlaku untuk semua tingkatan hingga S3,” jelas Awang.

Dan saat ini, imbuh Awang, dirinya memiliki rencana untuk membangun fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang nantinya akan diisi oleh tenaga-tenaga terpelajar dari masyarakat Kaltim.

Awang mengaku, sepanjang dirinya menjadi kepala daerah, dirinya selalu melakukan perubahan. Hal itu dilakukan, selain ingin menyejahterakan rakyat Kaltim, ia pun tak ingin membodohi rakyat yang telah memilihnya.

“Sebagai pemimpin kalau saya mau hidup enak, mudah. Saya cukup merancang program populis. Pasti rakyat senang. Dan saya tidak pusing. Tapi jika saya melakukan itu, saya akan membodohi mereka yang telah memilih saya sebagai pemimpin. Menghadapi perubahan, jangan melawan hati nurani. Harus dibarengi dengan mental yang kuat. Perubahan itu harus dilakukan berdasarkan empati agar tidak menimbulkan gesekan yang luar biasa.  Saya bersyukur gagasan saya bisa dilanjutkan di era Jokowi,” katanya.

Kepemimpinan Awang di Kaltim mendapat apresiasi dari narasumber lainnya, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Dr Syarkawi Rauf, SE, ME. Menurutnya, Awang Faroek merupakan model pemimpin yang cerdas dan memiliki keberanian. Tak cuma itu, Awang juga dinilainya memiliki rasa empati tinggi.

Sementara Bupati Trenggalek Emil E Dardak saat memaparkan pengalamannya mengatakan, seorang pemimpin harus memiliki mental baja dan moral yang baik.

“Aset utama pemimpin adalah bermental baja dan berkompaskan moral. Seorang pemimpin yang bermental baja memiliki keyakinan yang kuat, tapi mesti aspiratif. Jika tidak, ia akan jadi seorang diktator,”

 

IMG_0017