Masukkan kata kunci Anda

Bung Karno di Mata Generasi Millenial

Bung Karno di Mata Generasi Millenial

BK_Diskusi0315 Agustus 2017, Warung Sejarah RI dan Komunitas Gerbang Sejarah menyelenggarakan “Bincang Buku: Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran” yang diterbitkan oleh Mizan di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tema yang diangkat adalah “Bung Karno di Mata Generasi Millenial”. Acara tersebut menghadirkan Mochamad Nur Arifin selaku penulis buku yang merupakan Wakil Bupati Termuda di Indonesia yang kini memimpin Trenggalek dan Tsamara Amany yang sangat populer lantaran menjadi politisi di usianya yang sangat muda yakni 21 tahun. Dua politisi millenial tersebut sepakat dalam acara kemarin mengajak anak muda Indonesia bukan hanya bicara soal Indonesia: mengkritik, memberi saran, dll, tapi bergerak melakukan sesuatu yang mereka bisa untuk Indonesia.

Keduanya juga merupakan sukarnois muda. Di hadapan tiga ratusan peserta dari berbagai latar belakang: mahasiswa, pejabat, hingga mantan duta besar Indonesia, keduanya mengawali diskusi dengan orasi kekagumannya pada Bung Karno. Gus Ipin, sapaan akrab Mochamad Nur Arifin, yang bahkan dari segi fashion dan gaya orasi mengingatkan kita pada Bung Karno itu, menegaskan bahwa gagasan-gagasan dan pergerakan Bung Karno dulu dianggap omong kosong. Namun, melalui semangat dan kerja keras, ia buktikan bahwa apa yang ia omongkan adalah sebuah cita-cita, sebuah misi. Adapun Tsamara menegaskan kekagumannya pada Bung Karno merupakan sosok revolusioner dengan gagasan-gagasan cemerlang.

BK_Diskusi02

 

 

Gus Ipin mengurai bahwa kata “menerjemahkan” di judul bukunya itu memang kadang kali menuai tanya: “Apa Bung Karno ahli Quran?” Karenanya, untuk menghindari misperception, berkali-kali dia jelaskan bahwa kata “menerjemahkan” di situ bukan berarti bahwa Bung Karno adalah ahli tafsir maupun seorang penerjemah Al-Quran, melainkan berarti upaya Bung Karno dalam menjadikan nilai-nilai qurani sebagai basis ideologi pergerakannya. Oleh karena itu ia bubuhi tanda petik dalam kata menerjemahkan di judul bukunya itu.

Sebagaimana diurai oleh Gus Ipin dan Tsamara dalam diskusi, di dalam buku itu memang kita dapat menjumpai bahwa betapa ide-ide Bung Karno sangat sejalan dengan Al-Quran: dari Pancasila sampai Trisakti. Oleh karena itu, buku ini adalah jawaban bagi orang-orang yang meragukan keislaman Bung Karno dan Pancasila sekaligus.

Menurut Tsamara, Bung Karno memiliki paradigma keislaman yang sangat relevan saat ini. Di mana ia melihat Islam sebagai pertama, agama yang menengahkan kemanusiaan, kedua, mesin ideologi pergerakan, ketiga, agama yang anti takfirisme (suka mengkafirkan yang lain), dan terakhir ajaran yang menjunjung tinggi kesetaraan. Oleh karena itu, tegas Tsamara, lahirnya buku Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran merupakan sebuah upaya yang tepat untuk mengawali kesadaran tentang bagaimana Islam ditermahkan secara substantif.

Di akhir acara, seorang penanya bertanya tanggapan Tsamara tentang Bung Karno yang berpoligami. Tsamara menjawab dengan meneguhkan prinsip kesetaraan gender bahwa dia secara pribadi tak setuju terhadap poligami yang dipraktikkan Bung Karno. Dia menyebutkan bahwa dalam buku Bung Karno berjudul Sarinah terdapat nilai-nilai kesetaraan yang dapat kita pelajari.

                       * * *