Masukkan kata kunci Anda

Bulan Bahasa, Kembali pada Jati diri Bangsa

Bulan Bahasa, Kembali pada Jati diri Bangsa

Memasuki Bulan Oktober, Indonesia kembali memperingati bulan bahasa Indonesia. Walaupun peringatan atau perayaan ini masih terdengar sedikit asing bagi sebagian masyarakat, tetapi banyak juga para pegiat literasi dan ahli bahasa yang merayakan bulan bahasa. Terutama Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa yang biasanya merayakan bulan bahasa dengan mengadakan kegiatan terkait dengan kebahasaan atau sastra seperti, mengadakan lomba debat bahasa, menulis puisi, membaca pidato, dan beragam kegiatan lainnya.

Penetapan bulan Oktober sebagai bulan bahasa sendiri erat kaitannya dengan salah satu hari penting dalam sejarah Republik Indonesia, yakni hari Sumpah Pemuda. Hari Sumpah Pemuda diperingati setiap tanggal 28 Oktober. Peringatan Sumpah Pemuda sendiri merupakan momen penting dalam mempersatukan rakyat Indonesia, termasuk dalam hal bahasa. Seperti diketahui salah satu isi dalam ikrar sumpah pemuda yang berbunyi “KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENDJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA”, mengukuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pengukuhan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara atau bahasa ibu tentunya sangatlah penting dalam mempersatukan bangsa. Sebagaimana diketahui, Indonesia sendiri dengan keragaman etnisnya memiliki ratusan bahasa daerah. Terbukti bahwa pada tahun 2017 Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Kebudayaan mencatat, Indonesia memiliki sebanyak 652 bahasa daerah. Sehingga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara merupakan pilihan yang tepat sebagai jembatan penghubung bagi keragaman etnis di Indonesia.

Namun, dewasa ini penggunaan bahasa asing ataupun bahasa slang juga makin marak digunakaan oleh masyarakat Indonesia ketimbang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Penggunaan bahasa tersebut tak hanya terdengar ketika berada di ruang publik tetapi juga dapat dijumpai di media sosial. Sebagai contoh, dapat terlihat pada fenomena bahasa campur aduk, atau yang juga dikenal dengan istilah candaan, bahasa “Anak Jaksel”. Jaksel di sini memang merujuk pada daerah Jakarta Selatan, tetapi penggunaan bahasa tersebut juga tersebar di daerah-daerah lainnya. Istilah tersebut sebenarnya merujuk pada penggunaan bahasa dalam percakapan yang mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan beberapa kosa kata Bahasa Inggris, seperti “which is”, atau “literally”.

sumber: hai.grid.id

Fenomena campur aduk bahasa Indonesia dan kata dari bahasa asing tersebut memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Namun, menguatkan penggunaan bahasa Indonesia yang benar dan seutuhnya sekiranya dapat menguatkan jati diri dan karakter bangsa. Memasuki bulan bahasa bisa menjadi momentum bagi rakyat Indonesia agar kembali menguatkan penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal termudah yang dapat dilakukan adalah dengan memperkaya perbendarahan kosa kata Bahasa Indonesia yang kita miliki serta menemukan padanan yang lebih sesuai dengan konteks situasi yang ingin kita jelaskan.

Berikut ini cara-cara yang dapat dilakukan dengan mudah untuk memperkaya perbendaharan kosa kata yang kita miliki;

1. Perbanyak Membaca
Hal utama yang dapat dilakukan untuk memperkaya perbendaharaan kosa kata tentunya dengan membaca. Saat membaca buku kita tidak hanya mendapatkan beragam wawasan tentang hal baru, tetapi juga dapat menambah perbendaharaan kosa kata yang kita miliki. Seperti yang biasanya terlihat dalam penulisan buku-buku sastra, yang mana penulisnya sangat sering membubuhkan beragam kosa kata yang masih terdengar asing dalam penggunaan sehari-hari. Tak hanya dalam buku, majalah ataupun koran juga sering menampilkan dan mempopulerkan beragam kosa kata bahasa Indonesia sebagai padanan kata pada bahasa asing. Seperti pada koran Kompas yang mencoba mempopulerkan kata”swafoto” sebagai pengganti kata”selfie”.

 

2. Mengulik Kosa Kata dari KBBI
Selanjutnya yang dapat dilakukan adalah dengan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Cobalah untuk sesering mungkin mencari atau menemukan kosa kata baru dalam KBBI. Atau setidaknya, cobalah untuk menemukan arti dan maksud dari kosa kata yang baru kita temukan dalam buku yang telah kita baca sebelumnya. Dengan begitu kita akan lebih memahami arti dan maksud serta penggunaan yang cocok untuk kosa kata yang kita temukan. Tak perlu khawatir tak memiliki KBBI dalam bentuk fisik, karena di zaman yang serba digital ini KBBI juga telah hadir dalam bentuk web ataupun aplikasi digital.

 

3. Amati Media Sosial Ahli Bahasa
Dengan mengamati konten akun media sosial dari para ahli bahasa ataupun kritikus sastra, tentunya juga dapat menambah ilmu baru. Tak jarang para ahli bahasa, pegiat literasi ataupun kritikus sastra memberikan ilmu-ilmu bermanfaat di media sosial terkait penggunaan bahasa Indonesia yang luput dari pengetahuan kita. Seperti pada akun twitter @ivanlanin yang biasanya memperkenalkan kosa kata baru, atau memberikan padanan kata bahasa Indonesia untuk bahasa asing bagi para warganet. Tak jarang ia juga membuka wadah konsultasi bagi para warganet terkait penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

 

4. Berani untuk Mempraktikan
Hal terakhir yang sebaiknya dilakukan adalah dengan mempraktikan langsung. Cobalah untuk menggunakan kosa kata baru yang kita temukan pada sebuah percakapan dengan teman ngobrol. Ajaklah keluarga, teman- teman atau kerabat lainnya untuk berkomunikasi menggunakan kosa kata yang sebelumnya jarang digunakan. Tidak usah merasa malu atau pun minder mencoba berkomunikasi dengan teman mengobrol menggunakan kosa kata baru tersebut. Bila teman mengobrol atau bercakap kita belum mengerti atau memahami maksud dari kata yang kita gunakan, coba terangkan arti dan maksud dari kata yang telah disebutkan. Dengan mempraktikan langsung setidaknya kita akan terbiasa menggunakan kosa kata baru yang sebelumnya jarang digunakan.

Selamat mencoba!

(Ari)