Masukkan kata kunci Anda

Buku Anak-Anak dan Remaja: Mempersiapkan Sebuah Generasi

Buku Anak-Anak dan Remaja: Mempersiapkan Sebuah Generasi

*Artikel dalam buku Milad Mizan ke-15 tahun 1998

Buku Anak-Anak dan Remaja: Mempersiapkan Sebuah Generasi

Anak-anak, kita tahu, adalah pemilik masa depan. Dan anak-anak Islam kini adalah pemilik masa depan Islam. Karenanya mempersiapkan anak-anak Islam yang tangguh menjadi penting untuk masa depan Islam yang lebih baik. Berangkat dari niat ikut serta dalam mempersiapkan generasi Islam masa depan ini, Mizan pun menerbitkan produk-produk untuk anak-anak dan remaja. Upaya Mizan ini diharapkan memberikan sebuah oase bagi anak-anak dan remaja Islam di tengah gelombang budaya massa yang begitu deras menyerbu.

Tak banyak yang tahu bahwa upaya ini mulai dirintis sejak 1985—dua tahun sesudah Mizan didirikan. Tahun itu, mencoba mengikuti sukses serial Lima Sekawan, Mizan menerbitkan beberapa buku dalam Seri Tiga Sahabat—sebuah seri petualangan anak-anak berbau detektif seperti Operasi Camar Hitam, Sindikat Pemeras, dan Pesta Perampok. Setahun berikutnya diterbitkanlah seri buku yang tie in dengan sebuah serial televisi yang waktu itu sedang populer, Rumah Masa Depan (disutradarai oleh Ali Shahab, dibintangi antara lain oleh Dedi Sutomo, Wolly Sutinah, dan Septian Dwi Cahyo).

Pada tahun yang sama pula, 1985, dimulailah seri sejarah Rasulullah Muhammad Saw. untuk anak-anak berusia 10-15 tahun yang penerbitannya berlangsung hingga 1989—belakangan buku-buku tipis ini disatukan menjadi Sejarah Nabi Periode Makkah dan Sejarah Nabi Periode Madinah. Lalu dilanjutkan dengan Seri Kisah Sahabat Nabi sampai 1992, dan disambung dengan Seri Kisah para Tabiin sampai 1993. Keteladanan Rasulullah, yang kemudian diikuti oleh para sahabat dan tabiin, yang dikisahkan dalam seri ini diharapkan bisa merasuk kepada anak-anak dan remaja yang membaca seri ini.

Menyadari bahwa kebutuhan anak-anak tak hanya buku, Mizan pun meluncurkan produk mainan Ular Tangga Muslim (1991) dan Kuartet Sidik (1991)—yang merupakan modifikasi dari permainan yang memang sering dimainkan dan digemari anak-anak. Produk mainan berikutnya pun bermunculan: Kuartet Fatonah, Masjid Blok, Akhlak Game, dan lain-lain. Lalu untuk menghias kamar anak-anak dengan hiasan yang islami, mulailah diluncurkan Poster Shalat dan Poster Wudhu (1991) dengan desain yang amat berbeda dengan poster-poster semacam yang pernah ada. Vandel-vandel doa pun tak luput dari perhatian, dan dibuat mulai 1992. Produk mainan dan alat-alat peraga baru terus dibuat, dan mendapat sambutan yang baik—terutama karena didesain dengan cita rasa tinggi dan kualitas cetakan yang prima.

Buku bergambar pun diterbitkan untuk anak-anak Muslim berusia 6-9 tahun. Dengan gambar-gambar yang berwarna dan teks yang sedikit, buku-buku ini ditujukan untuk anak-anak yang mulai gemar membaca. Pada kategori ini telah diterbitkan, misalnya, Taffi dan Kacamatanya, Topi dari Ibu, Ahmad dan Jam, dan lain-lain.

Untuk remaja Islam yang berusia sekitar 15-17 tahun, Mizan menyiapkan buku-buku kisah penuh hikmah. Satu buku biasanya berisi fragmen-fragmen kisah dari para orang mulia zaman dahulu yang bisa dipetik hikmahnya. Perhatikan, misalnya, Bias-Bias Cahaya Fajar, Jalan Pintas ke Surga, Wanita Berlisan Suci, Ummu Khultsum, dan lain-lain.

Pada 1994, Mizan mulai memperkenalkan maskot Mio, seekor kucing lucu, sebagai “payung” untuk beberapa serial produk berikutnya. Kucing dipilih sebagai maskot karena binatang piaraan ini sangat umum dan disukai oleh anak-anak. Selain itu, konon, kucing adalah binatang kesayangan Rasulullah Saw. Mulanya adalah seri penerbitan buku aktivitas Mio yang muncul sebulan sekali. Belakangan, edisi-edisi selanjutnya, juga terbit sebulan sekali, dirancang khusus sebagai buku kerja di taman kanak-kanak dan berisi bahan pengembangan daya pikir, daya cipta dan bahasa siswa taman kanak-kanak.

Dengan makin dikenalnya Mio sebagai “umbrella brand”, diluncurkanlah beberapa seri yang mengambil Mio sebagai maskot. Misalnya Seri Kreativitas Mio yang berisi panduan bagi anak-anak agar terampil membuat mainan sendiri: Aku Bisa Membuat Boneka Jari Lucu, Aku Bisa Membuat Mainan Kertas, dan lain-lain. Untuk orangtua, agar bisa menemani anak-anaknya bermain dan bergembira bersama, diluncurkanlah Seri Kreativitas Orangtua dan Guru (Skotru). Diterbitkanlah, misalnya: Gelas Plastik Ajaib, Bermain Barang Bekas, dan Bermain Kertas Yuk!

Lalu ada juga buku Seri Mewarnai Anak Muslim: Mewarnai Masjid di Indonesia, Mewarnai Masjid Dunia, dan Mewarnai Ciptaan Allah, dan lain-lain. Kemudian diterbitkan pula buku-buku yang dirancang untuk memberi informasi atau pelajaran kepada anak-anak tentang pelbagai hal dengan gambar-gambar hitam putih yang bisa diwarnai dalam Seri Buku Penuntun: Penuntun Shalat, Hikmah Waktu, Doa Anak Muslim, dan lain-lain. Tak lupa pula, untuk memenuhi hasrat alami anak-anak yang penuh imajinasi, diterbitkan Seri Dongeng Sebelum Tidur, yaitu: Keajaiban Sebuah Doa, Negeri Sejuta Lilin, Si Menara Masjid, dan lain-lain.

Dan perkembangan terakhir produk baru Mizan adalah penerbitan Seri Komik Islam. Belakangan ini anak-anak Indonesia, bahkan juga orang dewasa, menggemari komik-komik bergaya Jepang, yang memang amat memanjakan efek visual dan gambar-gambar yang penuh gerak. Seri Komik Islam ini mencoba menawarkan alternatif komik yang meski bercita rasa ilustrasi “masa kini”, tapi berisi cerita yang islami. Karenanya, Mizan menerbitkan komik sejarah Nabi, dalam 12 jilid (sampai saat ini sudah terbit sampai jilid ketujuh), dengan penampilan yang sama sekali berbeda dengan komik cerita Nabi yang pernah ada. Dari pantauan terhadap anak-anak pecandu komik Jepang, ternyata komik terbitan Mizan ini juga digemari. Karenanya, insya Allah, seri-seri komik berikutnya akan menyusul.

Mizan menyadari meski sudah melakukan cukup banyak hal, upaya penyediaan buku-buku dan produk-produk untuk anak-anak masih perlu diupayakan terus. Hal itu dilandasi dengan kesadaran penuh bahwa tak selayaknya kita mengabaikan begitu saja bekal bagi generasi pemilik masa depan Islam ini.

Karena, kata orang bijak, kita ini hanyalah peminjam dari generasi yang akan datang. Dengan izin Allah.

[red]