fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Born Again dan Semangat Zaman: Mencermati Fenomena Hijrah

Born Again dan Semangat Zaman: Mencermati Fenomena Hijrah

(Wawancara dengan Haidar Bagir)

Cendekiawan muslim Haidar Bagir mengatakan, semangat berhijrah itu mulia, apalagi gagasan ini bersumber dari Al-Quran. Dia bilang, siapa pun yang berpindah dari akhlak buruk ke akhlak baik adalah orang-orang mulia menurut ajaran Islam.

Haidar tidak melihat fenomena tersebut sebagai hal baru di Tanah Air. Fenomena seperti itu telah terasa sejak 1980-an walaupun pada masa itu belum disebut dengan istilah “hijrah”. Bahkan sejak pertengahan 1970-an, kata Haidar mengutip pandangan Nurcholis Madjid, kebangkitan kelas menengah baru muslim telah terjadi. Ini berawal dari para santri yang mulai mendapatkan akses pendidikan modern pada awal 1950-an.

Pada pertengahan 1970-an, mereka lalu memasuki dunia kerja dan bisnis. Banyak di antara mereka yang sukses. “Inilah yang disebut kelas menengah baru yang terdiri dari pelajar muslim atau santri,” kata pendiri Kelompok Mizan ini kepada INDOPRESS.ID, Selasa 18 Desember.

Salah satu gejala kebangkitan semangat keberagamaan pada masa itu tampak di Masjid Salman, yang terletak di seberang kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat Haidar menempuh studi sarjana. Fenomena ini lalu menarik perhatian mahasiswa lain yang awalnya tidak serius belajar agama. “Perkembangan ini juga ditandai dengan perempuan yang mulai berjilbab sejak pertengahan 1970-an,” katanya. “Perkembangan ini terus berlangsung hingga menembus kalangan selebritas pada 1980-an.”

Namun, berbeda dengan fenomena 1980-an, Haidar melihat fenomena hijrah saat ini tampak mengkristal dan begitu kentara. Hal ini, menurut Haidar, terjadi karena semangat keberagamaan bertemu dengan keinginan untuk mengentalkan identitas dalam berhadapan dengan kelompok yang berbeda. Sementara, fenomena hijrah pada 1980-an lebih banyak didorong oleh semangat keberagamaan.

Pengentalan identitas yang menguat belakangan ini, Haidar bilang, terjadi di semua negara dan agama. Di Amerika Serikat, misalnya, pengentalan identitas ditandai dengan kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden 2016. “Di sana, ada upaya mengentalkan identitas, Amerika berhadapan dengan non-Amerika,” kata pemikir yang didaulat sebagai salah satu dari “500 Tokoh Muslim Berpengaruh” versi The Royal Islamic Strategic Studies Center, Amman, Yordania.

Hal serupa terjadi di daratan Eropa, yang ditandai dengan keinginan Inggris hengkang dari Uni Eropa atau “Brexit”. Di India, menurut Haidar, terpilihnya Narendra Modi sebagai perdana menteri juga gejala dari pengentalan identitas. “Itu semua gejala pengokohan identitas yang terkadang mencapai tingkat ekstrem, sehingga terjadi fobia kepada kelompok lain,” katanya.

Dalam masyarakat Kristiani, fenomena perubahan sikap menjadi “lebih saleh” sudah lama terjadi dan dikenal dengan istilah “born again“. Haidar mengatakan, orang-orang yang mengalami “born again” juga terkadang melampaui batas. Dalam masyarakat muslim, mereka terkadang menilai orang-orang yang berada di tengah (moderat) dalam beragama sebagai muslim yang “tidak kaffah“.

“Bandulnya berayun terlalu keras ke sisi lain. Ia berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lain,” kata peraih doktor di bidang filsafat dari Universitas Indonesia dan Indiana University Bloomington, Amerika Serikat, itu.

Haidar menjelaskan, fenomena pengentalan identitas kemungkinan dipicu oleh ketidakberdayaan mereka dalam berhadapan dengan dahsyatnya kemajuan ekonomi, sains, dan tekonologi. Sedemikian dahsyatnya kemajuan itu, manusia justru kehilangan kontrol terhadap apa yang mereka ciptakan sendiri. Teknologi, yang seharusnya menjadi alat menyejahterakan manusia, justru mendominasi kehidupan mereka.

“Televisi, internet, dan gadget menjadi pengontrol kehidupan kita,” kata Haidar. “Banyak hal sekarang ini bukan lagi menjadi alat pembantu tapi menjadi penindas.”

Di sisi lain, globalisasi dengan keterbukaan informasi menyebabkan pengaruh yang datang dari luar dapat menebus setiap bilik kamar seseorang. Akhirnya, muncul kekhwatiran bahwa hal-hal baik akan tergerus akibat pengaruh tersebut. Salah satu contohnya, orang tua yang khawatir anaknya meninggalkan agama akibat pengaruh asing. “Ketakutan dan ketidakberdayaan seperti ini dialami oleh setiap manusia di belahan bumi mana pun,” katanya. “Inilah yang saya sebut sebagai semangat zaman.”

Perasaan menjadi korban dominasi teknologi akhirnya memicu seseorang untuk membangun benteng di sepanjang identitas mereka. Di Barat, misalnya, mereka membangun benteng itu dengan kebijakan anti-imigran. Di Indonesia, ada perasaan warga pribumi mayoritas muslim menjadi korban dominasi ekonomi oleh segelintir “non-pribumi”. “Kebetulan warga non-pribumi umumnya non-muslim,” ujarnya.

Upaya membangun benteng itu semakin lama semakin kuat. Sementara itu, salah satu alat yang mudah digunakan untuk mengentalkan identitas di Indonesia adalah agama.

Karena itu, Haidar berharap pengentalan identitas tidak menjadikan semangat hijrah semakin jauh dari tujuan ajaran Islam. Menurutnya dengan mengutip hadis Nabi, puncak ajaran Islam adalah penyempurnaan akhlak dan penebaran kasih sayang kepada seluruh alam. “Jadi, hijrah seharusnya tidak membawa seseorang bersikap eksklusif, apalagi menjadikannya membenci mereka yang berbeda.”