Masukkan kata kunci Anda

Bologna dan Buku Anak-Anak

Bologna dan Buku Anak-Anak

Baliho tema Bologna Children’s Book Fair

KOTA TUA DAN BUKU ANAK-ANAK
Setelah hampir sembilan belas tahun saya bergelut di dunia buku anak-anak, baru kali ini saya mendapat kesempatan hadir dalam sebuah event akbar “BOLOGNA CHILDREN BOOK FAIR”, 4-7 April 2016. Event tersebut diselenggarakan di gedung Bologna Fiere Gate Piazza Costituzione, di sebuah kota kecil bernama Bologna, Italia.
BOLOGNA, kota yang apik memelihara warisan bangunan di masa lampau. Gedung-gedung tua dengan susunan bata merah hampir bisa kita temukan di setiap sudut kota.
Acara yang bertajuk “FUEL THE IMAGINATION” ini khusus untuk para penulis, ilustrator, desainer, dan pelaku bisnis penerbitan dari berbagai penjuru dunia. Di sana, mereka saling bertemu di sebuah gedung dengan kapasitas yang sangat besar. Setiap hari orang datang seperti halnya mengunjungi pasar malam; jual-beli copyright, diskusi, talk show, dan demo ilustrasi, selalu mewarnai pameran setiap hari.
Terbayarlah sudah lelahnya perjalanan udara melintasi Samudra Atlantik. Lima belas jam duduk di kursi pesawat kelas ekonomi ditambah makanan yang tidak akrab di lidah, seperti sirna dengan menikmati karya-karya ilustrasi terbaik buku anak-anak dari berbagai negara.
Sebuah kehormatan bagi para ilustrator karena hasil karya mereka sangat dihormati. Karya mereka terpampang di depan setelah masuk gedung, sebelum masuk ke stand-stand penerbitan yang tersebar di beberapa hall besar. Hari pertama, pengunjung berdesakan di area pameran. Saya hampir tidak bisa memotret karya-karya mereka dengan baik. Baru di hari kedua, saya bisa leluasa memotret karena berangkat lebih pagi dari hotel. Ilustrasi itu diseleksi secara ketat. Di sana, ada juga buku-buku pemenang BOLOGNA RAGAZZI AWARD yang sangat bergengsi.
Saya diberangkatkan oleh perusahaan tempat saya bekerja, Pelangi Mizan. Tapi saya juga harus mewakili ilustrator Indonesia di stand Indonesia. Setiap hari, saya demo menggambar selama dua jam. Dan di hari ketiga, saya ada demo bareng bersama dua teman saya, Renata Own dari Komite Indonesia, dan Evelyn Ghazali dari Litara.

Demo menggambar di stand Indonesia

Sebetulnya, agak berat ketika salah satu media mengatakan bahwa saya mewakili ilustrator Indonesia. Mengapa? Karena ini bukan hanya persoalan ilustrasi buku anak semata, melainkan misi budaya. Sejauh mana kita bisa mengukur kemajuan literasi buku anak, terutama dalam sisi ilustrasi. Sejauh mana kita percaya diri menampilkan gaya visual kita yang berakar dari budaya visual lokal kita. Meski berkesenian tak bisa terhindar dari meniru, setidaknya kita punya identitas, inilah Indonesia. Sebab, inspirasi visual bangsa ini sungguh beragam, tersebar di penjuru Nusantara. Atau, mungkin saja ada gaya baru yang belum tereksplorasi. Saya merindukan ilustrasi buku anak Indonesia dikenal seperti halnya ketika kita mengenal manga dan kita akan spontan mengatakan, “Oooh, ini Jepang.” Mungkin, suatu hari orang bisa berkata spontan, “Oooh, ini Indonesia,” tanpa harus mengatakan, “Kami dari Indonesia.” Aamiin …

Karya ilustrator Uruguay

Baiklah, mungkin itu terlalu terkesan muluk-muluk. Tetapi, ketika saya melihat beberapa negara latin, kepercayaan saya terhadap kalimat “ciri negara maju itu ditandai dengan kemajuan literasi buku anak-anaknya” agak sedikit luntur. Negara latin mungkin tingkat ekonominya tidak terlalu jauh dari kita, tetapi mereka bisa tampil dengan ilustrasi buku anak-anak dengan sangat baik. Nah, kenapa tidak dengan Indonesia? Kita punya budaya visual yang tinggi dibandingkan dengan budaya teks. Seharusnya, kita lebih baik dalam mereduksi kekayaan visual ke dalam wadah yang namanya identitas. Tengoklah dari motif kain di penjuru Nusantara; relief di candi-candi, kita akan menemukan beragam visual sebagai inspirasi. Alam, tumbuhan, pakaian adat, motif, dan sebagainya adalah warisan visual kita. Kita juga punya budaya verbal yang tinggi, misalnya dongeng, sebagai inspirasi cerita. Kita tidak kurang suatu apa pun. Kekurangan kita hanya kepercayaan diri dan kesiapan dalam perencanaan, termasuk siapa ilustrator yang layak mewakili Indonesia yang dipilih oleh Komite Indonesia. Lalu, bagaimana format seleksinya.

Saya tidak hendak menggurui, saya hanya ingin mengatakan ketika nanti ada ilustrator lain yang diberi kesempatan mewakili Indonesia di pameran berikutnya, mungkin harus lebih siap sebagai orang Indonesia.
Saya belum bisa menutup tulisan ini sebelum mengatakan sekali lagi bahwa saya sama sekali tidak mewakili ilustrator terbaik di Indonesia. Saya hanya orang yang berkesempatan datang ke sana oleh perusahaan saya, Pelangi Mizan.
Akan tetapi, percayalah saya orang yang tengah berusaha keras untuk belajar terus-menerus demi memajukan kualitas bacaan buku anak Indonesia. Buku saya; Naik Awan, Di Mana Ujung Pelangi, Mencari Telinga Bumi, dan Gajah Bersin adalah karya saya yang mungkin masih jauh dari bagus. Ilustrainya pun tidak semua saya gambar sendiri. Tetapi, saya telah berusaha sebaik mungkin untuk menjadikan buku saya buku anak Indonesia. Mudah-mudahan setelah pulang dari Bologna, saya bisa menyumbangkan sesuatu lagi dengan lebih baik untuk anak-anak Indonesia.
Mudah-mudahan, saya juga diberi kesempatan lagi untuk datang ke sana dengan sebuah prestasi dunia. Tentunya, membawa nama Indonesia dengan lebih siap dan beridentitas. Tidak lupa juga, semoga nanti ada ilustrator-ilustrator terbaik Indonesia yang bisa mewakili Indonesia di pameran berikutnya.
Mudah-mudahan bermanfaat.
Iwan Yuswandi
(Penulis dan Ilustrator Buku Anak)