Masukkan kata kunci Anda

Bisnis Buku, Bisnis yang Sarat Harapan: Menyimak Pengalaman Mizan

Bisnis Buku, Bisnis yang Sarat Harapan: Menyimak Pengalaman Mizan

*Artikel di buku Milad Mizan ke-25 tahun 2008

Bisnis Buku, Bisnis yang Sarat Harapan: Menyimak Pengalaman Mizan*

Oleh: Sari Meutia

Bisnis Buku: Bisnis Ketidakpastian?

”Menggeluti bisnis buku seperti bermain badminton di saat badai. Kita tidak pernah tahu ke mana bola akan bergerak.” Kata-kata ini disampaikan oleh Daniel Dhakidae ketika diundang untuk memberikan pembekalan kepada karyawan Mizan dalam sebuah rapat perencanaan produksi. Kami, kala itu, rasa-rasanya, menyepakati sepenuhnya pengamatan beliau. Dua artikel yang baru-baru ini saya temukan di internet, ditulis oleh senior editor penerbitan besar di Amerika Serikat, rasanya semakin melengkapi pernyataan Daniel di atas. Bukan sekadar mengatakan bahwa bisnis buku penuh ketidakpastian, secara lugas salah satu penulis bahkan menyebutkan bahwa bisnis buku semata-mata didasarkan pada harapan kosong (blind hope).

Benarkah demikian? Mari kita simak sejenak sejarah perkembangan Mizan. Mizan lahir pada tahun 1983. Saya bergabung pada tahun 1997, setahun sebelum Mizan merayakan ulang tahunnya yang ke- 15. Pada saat itu, Mizan sangat dikenal sebagai penerbit buku-buku pemikiran keislaman yang menyasar pembaca kelas menengah berpendidikan. Namun, label yang kuat ini tidak membuat Mizan terlena untuk tidak mengembangkan terobosan-terobosan baru. Pada tahun itu, Mizan meluncurkan imprint baru—Penerbit Kaifa— yang menerbitkan buku-buku umum bercorak how to yang sangat berbeda karakter dan segmen pembacanya dengan pembaca Mizan. Terobosan ini tidak saja membuat Mizan berhasil mengimbangi turunnya penjualan buku pemikiran keislaman yang pada tahun 1997 mengalami kejenuhan, peningkatan penjualan dari buku-buku bercorak how to ini bahkan memperluas segmen pasar Mizan—yang awalnya didominasi pembaca Muslim, menjadi lebih beragam.

Tepat di ulang tahun Mizan yang ke-15, tahun 1998, Indonesia menyaksikan tumbangnya rezim Soeharto. Kondisi perekonomian terpuruk, membuat banyak perusahaan penerbitan gulung tikar. Memanfaatkan momentum euforia politik, Mizan menerbitkan buku-buku yang dengan cerdik merekam kondisi politik saat itu. Di saat bisnis buku hancur lebur, Mizan justru mendapatkan keuntungan karena market share (pangsa pasar) yang bertambah besar—dengan menciutnya jumlah penerbit saat itu.

Sistem Distribusi:

Sebuah Keniscayaan Seiring dengan pertumbuhan produksi, tema yang semakin variatif, dan segmen pembaca yang semakin beragam, pada tahun 2000, Mizan memisahkan bagian pemasaran menjadi perusahaan distribusi tersendiri yang bernama PT Mizan Media Utama (MMU). MMU khusus mendistribusikan produk-produk dari Kelompok Mizan. Pembentukan perusahaan distribusi ini semakin memperluas cakupan wilayah penerimaan buku-buku Mizan di luar Pulau Jawa, terutama Sumatra dan daerah Intim (Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi).

Dengan perusahaan distribusi yang lebih siap, pada tahun 2002, Mizan kembali melahirkan imprint baru yang diberi nama Qanita (buku yang menyasar segmen perempuan aktif menengah-atas, yang gerah dengan gagasan-gagasan kaum feminis, tapi juga tidak masuk kategori tradisionalis yang menabukan kerja di luar rumah). Entah karena pilihan produknya atau ketidaksiapan pembaca perempuan Indonesia saat itu, produk ini kurang diterima pasar. Tahun 2003, di ulang tahun Mizan yang ke-18, imprint Qanita segera dialihkan untuk mewadahi penerbitan novel. Buku pertama yang menuai sukses sangat luar biasa pada waktu itu adalah sebuah novel psikologi yang diangkat dari kisah nyata berjudul Sheila— berkisah tentang anak autis. Timing yang sangat tepat karena di saat yang bersamaan, Depdiknas juga baru meluncurkan program pendidikan inklusi untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Buku ini langsung meledak menjadi produk bestseller yang kemudian diikuti dengan judul-judul berikutnya dari pengarang yang sama.

Segera saja Qanita mendapatkan tempat di kalangan pembaca novel di Indonesia. Apalagi kemudian, Qanita mengundang penulis buku Sheila ini ke Indonesia pada tahun 2004. Liputan yang luar biasa dari seluruh media terkenal, baik cetak maupun elektronik, selain berdampak pada brand awareness, bagi distribusi jelas menguntungkan: memperbaiki display dan meningkatkan permintaan stok—tidak saja di kota-kota besar, tapi juga di daerah-daerah.

Pada tahun yang sama, Mizan mengakuisisi Penerbit Bentang yang buku terbitannya, Laskar Pelangi, menjadi sangat fenomenal dalam sejarah penerbitan di Indonesia. Inilah untuk pertama kalinya dalam sejarah Mizan, toko buku di Irian Jaya mengajukan permintaan cetak ulang (repeat order) dengan langsung menelepon kantor perwakilan MMU yang melayani wilayah timur. Akuisisi Bentang menambah jumlah penerbit yang sudah didirikan di luar Mizan, yaitu Penerbit Hikmah dan Penerbit Lingkar Pena.

Penambahan produksi dan permintaan cepat untuk produk-produk bestseller menuntut sistem distribusi yang semakin akurat dan cepat. Mengandalkan pengiriman dari pusat semata-mata, akan berdampak buku tidak bisa di-display dengan cepat di titik penjualan di daerah. Jadi, selain strategi intensifikasi di titik-titik penjualan yang sudah ada, strategi ekstensifikasi pasar pun dilakukan dengan membuka kantor-kantor perwakilan serta stokis di beberapa wilayah potensial di Indonesia.

Bisnis yang (Sangat) Memiliki Harapan

Bicara mengenai titik distribusi yang terpetakan, saat ini ada lebih dari 300 titik yang harus dilayani setiap bulannya. Ada ratusan toko buku jaringan (seperti Gramedia, Gunung Agung, dan Togamas) yang harus kami suplai setiap bulannya. Di luar toko jaringan ini, terdapat ratusan toko non jaringan di seluruh Indonesia. Jumlah toko-toko ini pun terus meningkat setiap tahun.

Bila pada era sebelumnya, untuk setiap judul, penerbit mungkin cukup mencetak 3.000 eksemplar untuk dikirim ke titik distribusi, maka saat ini, jumlah yang diperlukan meningkat menjadi 5.000- 10.000 eksemplar, yang kalau kita menghitung jumlah titik distribusi yang ada, jumlah ini masih jauh dari mencukupi.

Contoh: Bila rata-rata satu titik memerlukan 50 eksemplar, untuk 300 titik diperlukan 15.000 eksemplar. Dari informasi toko, rata-rata 1 bulan, ada sekitar 250 judul buku baru yang masuk ke toko buku. Artinya, ada sejumlah 3,75 juta eksemplar buku yang siap didistribusikan ke 300 titik distribusi. Seandainya 1% saja dari rakyat Indonesia membeli buku ini, setidaknya 2,5 juta eksemplar akan terserap. Dengan harga rata-rata 35 ribu rupiah per buku, peluang omset mencapai 87,5 miliar rupiah. Dalam setahun, industri ini seharusnya bisa menghasilkan, setidaknya, 1 triliun rupiah. Ini pun, menurut kami, merujuk pada angka yang konservatif.

Tentu saja, kami tetap harus realistis, karena kenyataan di lapangan, kondisinya tidak selalu ideal. Ketiadaan toko buku, minim dan mahalnya akses transportasi dan ekspedisi di beberapa wilayah potensial (baca: kaya) namun sangat luas (disperse), seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, mengakibatkan buku tidak bisa terdistribusikan secara cepat. Akibatnya, konsentrasi pengiriman dan pelayanan hanya terpusat di kota-kota besar saja yang opsi hiburannya sangat beragam. Sementara penerbit harus berhitung cashflow bila buku mengendap terlalu lama.

Namun, secara bertahap, kami juga sadari, kondisi terus berubah. Otonomi daerah dan perbaikan infrastruktur membuat daerah-daerah kaya seperti Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, atau bahkan Sulawesi Utara semakin menggeliat. Baru-baru ini di Gorontalo, misalnya, diresmikan sekolah internasional yang sangat bergengsi. Kemudian promosi. Pemanfaatan media internet dan televisi untuk mempromosikan buku belumlah maksimal. Stasiun televisi menciptakan forum online bagi pemirsa dan dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mengambil keputusan tentang program yang akan disiarkan. Pencipta games mencari masukan dari para penggunanya melalui komunitas virtual di internet. Perusahaan penerbangan, hotel, dan bank mengembangkan database konsumen yang sangat canggih. Penerbit (buku) sudah membuat apa? Sebelum era Amazon, kita (mungkin) bahkan tidak tahu apa yang dipikirkan pembaca tentang buku.

Karena itu, seperti bisnis lainnya, bisnis buku pun menuntut improvisasi dan kreativitas terus-menerus. Sehingga, walaupun bisnis buku diibaratkan seperti bermain badminton di tengah badai, atau seperti yang ditulis Jonathan Karp, menawarkan harapan kosong, kenyataannya, peluang masih sangat terbuka lebar. Di usianya yang ke-25 tahun, Mizan tetap eksis. Lebih dari sekadar eksis, Mizan bahkan mengalami pertumbuhan yang sangat baik. Semua ini tentu kami lakukan dengan perencanaan yang matang, perbaikan sistem rekrutmen dan sistem training yang berdampak pada kualitas SDM, kreativitas untuk terus menciptakan peluang menerbitkan produk-produk perintis, pemanfaatan maksimal media promosi dengan beragam bentuknya, serta kesiapan sistem distribusi untuk mengkover wilayah Indonesia yang sangat luas.

Mengutip Agung Adiprasetiyo—CEO Kelompok Kompas dan Gramedia (KKG)—dalam sebuah wawancara dengan SWA: kalau ingin mendorong pertumbuhan perusahaan, harus mengarah ke industri yang batasannya langit, seperti penerbitan buku. Prinsipnya, selama masih ada orang yang pintar, bisnis penerbitan tidak akan mati; komentar yang tentu saja sangat memberikan semangat bagi kami yang bekerja di bisnis penerbitan. Yang menggembirakan juga adalah, untuk pertama kalinya, SWA memilih salah satu CEO terbaik versi SWA tahun 2007 dari praktisi penerbitan, Haidar Bagir, Direktur Utama Mizan Publika. Bagi kami di Mizan, ini tentu saja sebuah kemenangan bagi bisnis penerbitan (buku) karena bisnis ini sudah dianggap sebagai salah satu industri yang mempunyai pengaruh terhadap dunia bisnis dan ekonomi di Indonesia.

Tantangan ke Depan

Kami harus mengakui bahwa halangan untuk terjun dalam bisnis buku, berkurang setiap tahun. Akan hadir ribuan penerbit independen dan lebih banyak lagi penerbit swadaya (self-publishing). Para pemain baru ini segera memiliki akses yang sama ke pembaca sebagaimana penerbit besar, begitu distribusi digital dan teknologi POD (print-on-demand) menjadi sesuatu yang biasa.

Bila itu terjadi, penerbit akan kehilangan keuntungan kompetitif terbesar mereka, yaitu kemampuan untuk mendistribusikan buku secara luas dan efektif. Banyak jenis buku yang akan mulai diperhatikan oleh media digital. Buku referensi telah dapat diakses secara online. Buku nonfiksi, praktis, akan menjadi bahan berikutnya, yang akan membanjiri situs-situs Web. Buku-buku ini dapat dengan mudah di-update dan menyebarkan informasi baik visual maupun tekstual. Para pembaca fiksi genre jadul akan punah. Generasi berikutnya akan memiliki begitu banyak opsi hiburan yang berbeda yang sulit untuk dibayangkan akan memiliki tingkat kesetiaan yang sama terhadap fiksi umum yang saat ini terbit setiap tahun. Para penulis yang benar-benar membawa kebaruan yang akan berkembang; sisanya akan berjuang untuk tetap survive.

Begitu banyak yang bisa dipelajari dan diwaspadai dari bisnisbisnis yang terlindas oleh perubahan zaman. Industri pos, telekomunikasi, dan musik adalah contoh nyata perubahan yang sangat radikal. Warnet habis dilanda ponsel. Telepon fixed line pupus kepopulerannya digantikan dengan mobile phone. Penjualan RBT mengalahkan penjualan album dari penyanyi-penyanyi terlaris. Anak-anak muda lebih akrab dengan MP3 daripada kaset. Surat cetakan dan kartu pos berganti dengan e-mail dan pesan-pesan singkat melalui layanan SMS. Beberapa rekan menyimpan Al-Quran 30 juz dan berlangganan informasi—dari kiat-kiat marketing hingga pesan-pesan spiritual—di dalam telepon seluler mereka.

Kami akui, persaingan akan sangat ketat. Penerbit bukan hanya dihadapkan pada tantangan untuk mencari kombinasi waktu, pengemasan, promosi, titik pemasaran/distribusi, dan faktor-faktor lainnya yang tepat untuk melahirkan bestseller, namun juga harus dengan cerdik memanfaatkan atau memadukan kemajuan teknologi dan informasi agar produknya dapat terus diterima masyarakat. Namun, sambil terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan, saat ini masih banyak yang bisa kami—penerbit—eksplorasi untuk mengembangkan bisnis buku di Indonesia. Toh, kalaupun bisnis penerbitan diibaratkan seperti bermain badminton di kala badai, kelak, badai pun pasti berlalu. Insya Allah.

Bandung, 4 September 2008