fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Berislam Ala Tionghoa

Berislam Ala Tionghoa

Berislam Ala Tionghoa – Hew Wai Weng

 

Pada suatu malam Ramadan 2008, orang-orang Islam (baik Tionghoa maupun non-Tionghoa) menjalankan shalat Tarawih di Masjid Cheng Hoo Surabaya, sedangkan orang-orang non-Muslim (sebagian besar Tionghoa) sedang latihan qigong (olah pernapasan Tionghoa) di koridor kantor PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) yang berada di lingkungan masjid. Bambang Sujanto, tokoh kunci di balik pembangunan masjid, menjelaskan bahwa masjid berarsitektur Tionghoa ini sudah cukup menunjukkan bahwa ada sebuah “berislam ala Tionghoa”. Namun, masih di masjid yang sama, saya juga menjumpai seorang Tionghoa Muslim mengharamkan perayaan Imlek.

 

Bagaimana memahami perbedaan-perbedaan pandangan ini dan bagaimana cara menjalani hidup sebagai Muslim dan sekaligus Tionghoa di Indonesia masa kini? Berdasarkan penelitian lapangan ekstensif pada 2008—2009 dan kunjungan-kunjungan setelahnya, buku ini memaparkan dan menganalisis munculnya identitas-identitas budaya Tionghoa Muslim di Indonesia pasca-Orde Baru. Buku ini memiliki tiga karakter pokok: (1) Lintas disiplin (interdisciplinary)—buku ini melibatkan diri dalam perdebatan perihal etnisitas dan religiositas di berbagai bidang akademik, terutama ilmu politik dan antropologi. (2) Lintas bagian (intersectional)—buku ini mengusung kajian tentang identitas Muslim dan Tionghoa secara bersamaan, untuk mengungkap persilangan antara dua jenis identitas ini. (3) Lintas jaringan (interconnected)—buku ini memperhitungkan pengaruh arus-arus transnasional dan dinamika-dinamika lokal dalam proses pembentukan identitas budaya Tionghoa Muslim. Buku ini melacak bagaimana dan dalam kondisi seperti apa Tionghoa Muslim membentuk dan menegosiasikan etnisitas dan religiositas mereka, baik secara individual maupun kolektif, di kehidupan pribadi ataupun bermasyarakat. Sejak 2000, budaya Tionghoa Muslim di Indonesia telah diterjemahkan ke dalam simbol (misalnya masjid-masjid berarsitektur Tionghoa), dilembagakan dalam organisasi (misalnya PITI), dihadirkan dalam media populer (misalnya pendakwah Tionghoa), dan ditampilkan dalam ritual (misalnya perayaan Imlek). Tokoh-tokoh Tionghoa Muslim juga mengusung identitas mereka yang unik dengan cara menghidupkan kembali sejarah dan merawat ikatan mereka dengan Muslim di Tiongkok.

 

Terdapat banyak literatur baik tentang Islam maupun ketionghoaan di Indonesia masa kini. Namun, jarang ada kajian yang membahas hubungan antara dua jenis identitas ini. Dengan menelaah identitas-identitas Tionghoa Muslim, buku ini memudahkan kita untuk memahami secara lebih baik politik budaya dari religiositas keislaman dan ketionghoaan di Indonesia hari ini, dan juga memberikan kita wawasan tentang kemungkinan-kemungkinan dan keterbatasanketerbatasan kosmopolitanisme etnis dan agama di masyarakatkontemporer. Munculnya budaya-budaya Tionghoa Muslim mencerminkan adanya penerimaan yang lebih utuh atas budaya Tionghoa di masyarakat Indonesia dan toleransi Islam terhadap perbedaan ekspresi budaya. Meskipun diwarnai stereotip etnis tertentu dan konservatisme keagamaan, budaya Tionghoa Muslim dapat dikatakan sebagai ketionghoaan yang inklusif dan Islam yang kosmopolitan ketika penegasan identitas Tionghoa dan religiositas Islam tidak selalu menyertakan pemisahan rasial dan eksklusivitas agama, tetapi justru melawan keduanya. Masjid Cheng Hoo Surabaya adalah contoh nyata dari keberagamaan yang inklusif—masjid ini telah menjadi medan sosio-religi tempat baik Tionghoa maupun non-Tionghoa, Muslim maupun non-Muslim dapat membaur dan berinteraksi satu sama lain. Selain itu, budaya Tionghoa Muslim juga sanggup mendamaikan stereotip yang telanjur diterima tentang ketidakcocokan antara Islam dan ketionghoaan. Meski demikian, percampuran antara Islam dan budaya Tionghoa tidak dengan sendirinya memperkaya wacana keislaman. Banyak pendakwah Tionghoa Muslim, misalnya, secara kreatif berhasil memadukan ajaran Islam dan simbol budaya Tionghoa dalam rangka menampilkan universalitas Islam, tetapi mereka tidak berkontribusi dalam melahirkan pemahaman yang lebih kritis atas Islam. Alih-alih menantang pandangan konservatif yang semakin berkembang, sebagian pendakwah justru memilih berdamai dengan pandangan-pandangan tersebut demi menghindari kontroversi.

 

Terakhir, manifestasi-publik identitas budaya Tionghoa Muslim tidak sepenuhnya menggambarkan identitas Tionghoa Muslim yang beragam dan berlapis-lapis. Untuk itu, saya menggunakan konsep ketaatan fleksibel (flexible piety) untuk melihat religiositas keislaman yang cair dan konsep identifikasi majemuk untuk mengungkappergeseran etnisitas di kalangan Tionghoa Muslim menurut konteks kehidupan mereka. Pendek kata, tidak ada satu cara “berislam ala Tionghoa”, tetapi banyak cara untuk menjadi/tidak-menjadi Tionghoa dan Muslim di Indonesia.[]