Masukkan kata kunci Anda

Benar, Bagus, Laku, dan Dikenal: Style Desain Penerbit Mizan

Benar, Bagus, Laku, dan Dikenal: Style Desain Penerbit Mizan

*Artikel di buku Milad Mizan ke-15

Benar, Bagus, Laku, dan Dikenal:

Style Desain Penerbit Mizan

 

Oleh Gus Ballon

 

Dalam pembicaraan seperti ini, biasanya saya selalu menghadapi pertanyaan, “Apa dan bagaimana sebuah desain buku yang baik (bagus) itu memang baik (bagus)?” Setelah pertanyaan ini, biasanya pula dilanjutkan dengan pertanyaan yang lebih detail, “Apa batasan desain buku yang baik, bagaimana cara menilainya, dan bagaimana pula cara membuatnya?”

Dilihat dari substansi pertanyaan, masalah seperti ini memang bisa dikaji secara panjang lebar. Namun, karakter pengupasan masalah selalu berada dalam kerangka, atau pola pikir, bahwa desain itu bisalah dipecahkan secara praktis. Hal ini, menurut saya, sangat merugikan. Alasan saya, walaupun desain memiliki nilai fungsi praktis yang tinggi—bila dibandingkan dengan seni murni—tetap saja ia berasal dari “individu” dengan seluruh kekuatan subjektif dan objektifnya. Karena itulah soal bagus atau tidak bagusnya sebuah desain sangat relatif, subjektif.

Dengan demikian, dalam mengapresiasi suatu desain, sebaiknya kita bersikap bukan dengan sikap ingin tahu atau ingin memahami sesuatu yang bagus, atau bagaimana sih cara membuatnya, tetapi lebih baik dengan sikap ingin mengetahui mengapa sampai sebuah karya desain seperti itu terjadi. Lewat pendekatan seperti ini, akan dapat dimengerti konsep dan tujuan suatu desain. Sekaligus, pendekatan ini dapat membantu si apresiator untuk mengambil kesimpulan sampai seberapa jauh karakter materi buku dapat terungkapkan, seberapa dalam tuntutan komersial dapat tercapai, dan seberapa andal kepiawaian si perancang dalam menghadapi persoalan peleburan antara unsur estetis-fungsional-komersial. Dari sini, pendekatan pun dapat diperluas hingga sampai pada aktivitas membandingkan antara hasil desain yang satu dan yang lain. Inilah, setidaknya, suatu penghakiman yang cukup bebas, terarah, dan objektif terhadap suatu desain bisa dicapai.

Dengan cara demikian, pendekatan ini akan membuka lebih banyak celah, lorong, pintu, jendela yang lebih beragam dalam membicarakan sebuah desain buku, ketimbang sekadar mempertanyakan hal-hal yang bersifat definitif dan searah (definisi selalu mengingatkan saya kepada “doktrin”). Pendekatan seperti ini juga memungkinkan terciptanya sebuah “dialog” karena dengan mengupas latar belakang permasalahan sebuah desain, akan mendorong seseorang untuk maju lebih jauh, luas, dan apresiatif.

Saya mengajukan soal ini di awal karena kualitas desain, bagaimanapun, tidak layak dihakimi secara hitam-putih, sebagaimana hasil karya seni lainnya. Berpijak pada hal ini, saya akan berusaha menghindari pembahasan dan penilaian yang bersifat teknis. Tentu saja pilihan seperti ini akan membawa risiko. Di antaranya akan muncul kemajemukan jawaban. Ini jelas tidak akan memuaskan si penanya yang sudah membawa batasan-batasan tegas bagi pertanyaannya yang, kemungkinan besar, menurutnya, nantinya dapat diaplikasikan secara praktis.

Benar, Bagus, Laku, dan Dikenal

Dalam wilayah desain buku ada sebuah batasan baku. Desain buku yang benar (bukan bagus) adalah sebuah desain yang mencitrakan karakter dan isi buku tersebut. Titik. Dan di titik ini pulalah permasalahan kualitas mulai dipertimbangkan, diusut, dan juga ingin diketahui oleh si apresiator. Dari titik ini juga masalah mulai tergantung pada selera masing-masing individu, baik itu selera si perancang, produsen, konsumen, maupun apresiator. Akan muncul pelbagai tanya, seperti apakah visualisasinya bagus, komunikatif, menarik untuk dibeli, dan sesuaikah dengan visi penerbit?

Setiap perancang tentulah memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menerjemahkan isi dan karakter sebuah buku ke dalam bahasa visualnya. Hasil desain jelas tergantung pada tingkat pemahaman setiap perancang dalam menangkap setiap persoalan yang melingkupi sebuah desain buku—dalam arti buku yang memiliki nilai jual sebagai barang produk (harap dibedakan dengan buku-buku yang tidak mengejar unsur komersial).

Dalam menjabarkan isi buku ke dalam bahasa visual, seorang perancang akan selalu berpegang pada apa yang ditangkapnya dari tema, sinopsis, judul, ataupun sosok pengarangnya. Bahkan untuk mendapatkan hasil optimal, nama dan visi penerbit merupakan unsur penting dalam sebuah proses.

Perkembangan desain sampul buku saat ini, ditinjau dari segi kualitas, cukup menggembirakan. Banyak terobosan dilakukan. Misalnya, pendapat sebagian pengamat pada 1980-an yang menyatakan bahwa desain sampul buku kita terlalu “Barat”, kini sudah terjawab dengan corak desain yang memiliki identitas nasional. Walaupun hal ini belum merata, fenomena yang muncul ini patut disyukuri.

Hal ini juga menyiratkan telah meningkatnya kemampuan apresiatif konsumen, sekaligus pencerminan bahwa banyak produsen yang memberikan kebebasan berekspresi yang lebih luas bagi perancang dibandingkan tahun 1970 dan 1980-an. Tahun-tahun ini dikenal sebagai tahun terkungkungnya perancang dengan batasan “selera publik”, sehingga setiap rancangan selalu mengacu pada satu standar umum pada saat itu.

Selain desain sampul, masalah desain isi dan bentuk (fisik buku) pun semakin beragam dan terlihat ada usaha untuk menata dengan serius. Buku-buku pada awal 1990-an, formatnya selalu berkisar pada ukuran standar (14×21, 15×23, dan 11×18). Saat ini kita dapat menyaksikan format buku yang kian beragam, terutama pada buku-buku yang bertema manajemen dan ekonomi. Kadang bahkan ada yang berbentuk persegi panjang dengan gaya horizontal, dan format seperti ini bukan sesuatu yang bisa dibilang istimewa lagi. (Catatan: gaya buku Dari Pojok Sejarah atau Islam dan Masa Depan Biologis Umat Manusia terbitan Mizan, pada awal 1990-an masih terasa memunculkan masalah dalam berbagai hal, baik masalah secara teknis maupun emosional konsumen.)

Minat mengeksploitasi isi (halaman) juga kian meningkat. Ketika di penghujung 1980-an Penerbit Rosda Karya menyajikan buku karya Pak Jalal, Psikologi Komunikasi, dalam bentuk dua warna (subjudul dan kalimat-kalimat penting diberi warna berbeda), sajian ini cukup mengejutkan. Namun, pada saat sekarang, corak seperti itu bukan lagi tergolong istimewa. Saat ini bahkan huruf (font) yang digunakan untuk isi jauh lebih bervariasi. Terkadang, malah, dalam satu buku kita melihat pemakaian huruf lebih dari tiga jenis. Layout juga semakin dinamis.

Bila hal ini diurut dari segi historisnya, kita dapat menarik perbedaan antara masa kini dan masa-masa sebelumnya. Pada pertengahan 1980 hingga 1990-an, kemunculan Mizan, Gramedia, Pustaka Salman, Grafiti, begitu menyentak kalangan pencinta buku. Desain-desain yang ditawarkan bisa memiliki rangsangan tertentu dibanding penerbit-penerbit lain. Hal ini dimungkinkan karena kondisi jumlah penerbit, tingkat apresiasi, kualitas teknik desain dan percetakan, serta karakter penerbit yang mengkhususkan diri pada bidang tertentu masih bisa dihitung dengan jari, selain bisa diingat dengan mudah. (Bisa ditambahkan di sini bahwa profesi desain grafis belumlah dianggap “menjanjikan” dan semaju saat ini.) Hal ini memungkinkan terjadinya sesuatu “yang baru”, baik dalam bentuk desain maupun visi penerbit. Juga apa yang mewujud bisa tertangkap dan diamati oleh konsumen secara lebih cepat, karena sesuatu itu tampil “mencolok” dari elemen fisik perupaan desain (warna, huruf, format, dan sebagainya) yang masih memiliki ruang yang besar. Kasarnya, saingan masih sedikit.

Masa itu, kualitas desain cenderung sangat bertumpu pada teknis manual. Mulai dari proses berkarya hingga mutu percetakan. Dulu, Mizan menonjol karena berhasil memadukan seni grafis dan fotografi secara utuh (sebelumnya, walau ada sampul buku yang mempergunakan fotografi, namun fungsinya hanya sebagai pelengkap, bukan berpadu dengan tema), dan diperkuat lagi dengan ekspresi bentuk-bentuk yang melompati kebakuan simbol keislaman. Pemilihan judul pun kuat, terasa kontroversial dan sensasional pada zamannya (misalnya, Dialog Sunnah-Syiah, Para Mujahid Agung, Al-Ghazali Menjawab, Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, Wali Sufi Abad 20, Sufi Martir, Kimia Kebahagiaan, Jahiliyah Abad 20, Islam Ekstrem, dan lain-lain). Begitu juga dengan penyajian idiom-idiom perupaan bentuk tradisional, yang saat itu sering terlupakan, bisa dimanfaatkan secara maksimal, bebas, dan menciptakan “surprise” untuk zamannya.

Kini, semua sudah berubah. Arti fotografi untuk desain buku, judul, imaji, simbol telah bergeser dan bermakna lain sesuai kemajuan dunia penerbitan. Konsep dan teknik desain pun semakin berkembang. Juga kematangan SDM yang bergelut di dunia tersebut.

Saat ini, untuk mencapai warna tertentu dalam sebuah desain—yang dulu hanya bisa tampil atas dasar kekayaan pengalaman seseorang—bisa dikejar melalui photoshop. Gaya ungkap melalui foto atau teknik manual sudah bisa diolah oleh free hand atau adobe. Begitu juga mutu percetakan, yang dahulunya bergantung kejelian bagian montase dan operator mesin, kini telah dilibas oleh sistem digital yang mengandalkan perangkat mesin laser dan mesin cetak empat warna yang canggih.

Perancang sampul buku pun makin berkembang. Mereka berlomba-lomba mengadu prestasi. Sampul jadi makin semarak, variatif, dan kian glamor dengan munculnya adaptasi desain (bahkan judul) secara langsung dari buku-buku luar negeri.

Tapi, dalam suasana seperti itu, ada sebuah kenyataan yang tak terbantah. Semua memiliki satu persamaan: komputerisasi. Dan komputerisasi, selain memberikan banyak kemungkinan, ternyata mengakibatkan pula keseragaman “teknik dasar” perupaan. Dan jika teknik dasar serupa, wujud apa pun yang dihasilkan secara esensial memiliki napas-napas kemiripan. Maka dari itu, di samping segala kemeriahan yang muncul di toko buku, jika kita amati lebih saksama lagi, maka corak pelbagai sampul yang dipajang, perbedaan dari buku ke buku, atau penerbit ke penerbit, nuansa yang membedakannya sungguhlah tidak setebal masa-masa sebelumnya.

Sebelumnya dulu, bagi seorang konsumen, bila ingin membeli buku keluaran Mizan, Pustaka Jaya, Pustaka Salman, Gramedia (buku filsafat, sosial, kebudayaan, seni), Gema Insani, Kanisius, Alumni, cenderung lebih mudah dibandingkan saat ini. Karena buku-buku yang dijajar tidak begitu kuat, menampakkan nuansa kesetaraan yang diciptakan oleh komputerisasi tersebut.

Namun, hal kesetaraan itu bukan berarti tidak menciptakan sesuatu yang memiliki ciri khas. Yang memiliki ciri khas tetap ada. Hanya membutuhkan “waktu” lebih lama untuk mengamatinya, bila ingin mencari buku produksi penerbit tertentu. Dan bila kita bicara soal “waktu” dalam konteks ini, maka eye catching yang dibutuhkan untuk mengenal buku penerbit tertentu (Catatan: ini di luar buku komik Elexmedia) hitungan per detiknya lebih lama dibanding dekade sebelumnya. Secara psikis, hitungan detik ini bisa mengalihkan perhatian konsumen kepada objek lain yang hadir di hadapannya.

Kembali ke penerbit yang berhasil menghadirkan identitas tersendiri, kita rupanya patut memuji kepada terobosan yang dilakukan Penerbit Bentang. Perupaan visual penerbit ini memiliki nilai plus, dengan menghadirkan foto karya atau karya dari pentolan-pentolan seni murni Indonesia. Di samping itu, kejelian pengasuh terhadap pemilihan judul patut diberi pujian. Sehingga visi penerbit, tema buku, dan desainnya begitu menyatu. Penerbit ini berhasil eksis karena piawai dalam menyiasati kesetaraan yang dihasilkan komputer, walaupun harus selektif dan cukup waktu untuk mencarinya di antara buku-buku lain. (Bagi yang tidak awas bisa tergelincir memilih buku terbitan PT Obor Indonesia.) Dalam hal identitas ini, PT Elexmedia pada saat-saat pertama berhasil juga dengan identitas sampul buku-bukunya yang begitu berwarna komputer, namun sayang tak bisa bertahan lama karena tampak kesulitan sewaktu penerbit lain yang bergerak di jalur yang sama melakukan aktivitas yang nyaris serupa. Terutama saingan datang dari penerbit buku-buku manajemen dan ekonomi populer.

Dan semua ini apa pengaruhnya terhadap konsumen?

Saya tidak memiliki data autentik mengenai jumlah penerbit, statistik konsumen buku, jumlah produksi buku per tahun, maupun berapa banyak judul buku dalam setahunnya. Namun, secara sepintas kita melihat toko-toko buku semakin banyak, yang sudah ada pun kian diperbesar. Kemudian, buku yang ditawarkan pun kian banyak dan beragam, baik buku-buku baru maupun buku versi atau edisi kemasan baru.

Berdasarkan pengamatan secara empiris, konsumen buku saat ini, bila ingin masuk ke toko buku, akan mengalami pengalaman visual yang dinamis. Begitu banyak warna meriah, judul-judul dengan huruf besar mencolok, dan bentuk-bentuk (corak) fisik buku yang menarik untuk didekati dan disentuh. Bila semua ini dikaitkan dengan pertanyaan di atas, jawaban yang paling aman adalah konsumen saat ini berada dalam posisi “diserang”. Diserang dalam arti positif: memiliki pilihan yang lebih beragam, begitu banyak yang ditawarkan, begitu seru sensasi yang muncul dari judul-judul sampul, dan begitu banyak rangsangan visual dari desain-desain buku yang terpajang. Sehingga mereka akan lebih selektif dan cermat dalam menentukan pilihan.

Bila konsumen saat ini makin kritis dan selektif, desain bagaimana yang harus ditentukan penerbit agar bukunya laku dijual? Apakah sebuah buku bisa dijual karena sebuah desain? Siapa konsumen buku-buku nonfiksi saat ini? Apa yang dicari konsumen? Buku berdesain bagus? Bertema bagus? Berjudul sensasional, kontroversial, atau yang aktual? Apa yang diinginkan atau dituju penerbit? Apa yang menjadikan konsumen membeli buku? Beberapa pertanyaan klasik tetapi tetap kontemporer bagi penerbit. Pertanyaan naif dengan jawaban rumit untuk kaum perancang. Tetapi, tetap, itu semua merupakan masalah mendasar bagi semua, termasuk Mizan dan juga saya.

Desain Penerbit Mizan

Bila berbicara soal desain buku Mizan, mau tidak mau—berdasarkan kenyataan yang tampak dan terasa—saya harus berbicara soal “saya”. Dan jika saya berbicara, itu berarti “Saya dan Penerbit Mizan”. Dengan begitu, saya memiliki dua titik pandang tertentu dan menuju batas yang tertentu pula.

Berdasarkan pijakan saya sebagai pencipta sampul buku, saya akan bercerita sangat pekat yang berbau historis, baik bagi saya maupun Mizan. Tetapi bila berbicara saya sebagai “saya” yang bebas, saya harus berbicara tentang masa kini dan yang akan datang tentang desain buku dan dunia penerbitan, khususnya Mizan—sejauh yang saya prediksi berdasarkan apa yang saya kenal selama ini. Dan saya ingin mengambil jalan tengah.

Mizan sudah berusia 15 tahun, sudah memproduksi ratusan buku, memiliki pasar luas, beromzet miliaran per tahun, dan sudah menempati posisi mapan. Mizan berangkat dengan visi yang jelas, dan tersirat dalam moto “Khazanah Ilmu-Ilmu Islam”. Berbeda jauh dengan Gramedia yang mempunyai visi “Penerbit Buku Utama”. Mizan memiliki bidang khusus, Gramedia jalur umum.

Visi Mizan lahir pada saat yang pas dan sesuai dengan semangat zaman. Yaitu saat masyarakat Islam Indonesia sedang menggedor zaman, dan penuh dengan semangat perubahan. Dan begitu banyak “lahan” yang tersedia untuk dikuliti, dikupas, disajikan, diadaptasi, dan harus diperbarui. Ini termasuk masalah desain-desain buku tentang ilmu atau masalah yang menyangkut keislaman.

Saya pun berangkat dengan semangat serupa, yaitu mengadakan inovasi tapi tetap dalam koridor visi yang ketat. Mungkin ada pertanyaan mengapa desain harus tetap lengket dengan visi penerbit? Jawabannya sederhana. Mizan adalah penerbit khusus, dan demikian juga desainnya. Mizan adalah penerbit Islam, begitu juga spirit desainnya. Itulah kerangka kebebasan saya dalam membuat desain buku Mizan. Dan jika saya membuat sampul penerbit lain, saya tidak memperhitungkan hal-hal yang saya sebut tadi. Saya benar-benar bekerja untuk mencari uang dan saya pun memang tidak ingin tahu terlalu jauh tentang visi penerbit itu. Penerbit itu mengeluarkan produk buku tentang Islam, sampulnya pun harus ada unsur Islam. Titik. Dengan demikian, bisa dikatakan faktor emosional bagi saya memang sangat penting.

Dan bagaimana saat ini, di mana kondisi dan situasinya sudah berubah, dan kita berada di suasana seperti telah saya uraikan sebelumnya: persaingan semakin ketat, dunia desain grafis semakin berkembang, adanya komputerisasi, konsumen yang semakin selektif, dan napas semangat kehidupan masyarakat yang sudah—menurut pemahaman saya—tidak lagi sesuai dengan visi Mizan dulu (“Khazanah Ilmu-Ilmu Islam”).

Menurut hemat saya, dari beberapa masalah di atas, yang merupakan hal terpenting adalah yang terakhir: visi. Visi Mizan—“Khazanah Ilmu-Ilmu Islam”—bagi saya pribadi telah berakhir, dengan adanya pergeseran semangat masyarakat, tumbuhnya penerbit serupa, dan telah berkembangnya desain-desain buku Islam secara umum. Dari beberapa judul buku, saya memang bisa merasakan Mizan telah melakukan beberapa perubahan dengan menerbitkan buku-buku bernuansa politik, kebudayaan yang berkarakter “umum”. Namun, saya kurang bisa menjiwai secara total pergeseran semangat tersebut, dan saya lebih menangkap aroma pergeseran itu sebagai usaha “menyiasati” zaman dari sudut pandang bisnis. Tetapi hal itu goyah juga sewaktu membaca komentar Mas Hernowo di harian Kompas yang menyatakan Mizan mempunyai juga misi strategis—kalau tidak salah: memberikan alternatif wacana pemikiran.

Visi penerbit, bagi perancang lain, mungkin tidak perlu. Namun bagi saya, dalam konteks hubungan saya dengan Mizan, benar-benar merupakan suatu kebutuhan. Dalam soal ini, saya akui bahwa saya mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dari libatan historis maupun emosional dengan Mizan. Maka dari itu, dengan adanya visi yang tidak jelas bagi saya (begitulah, untuk saat ini, cara saya menangkapnya), saya pun hanya bisa bertindak seoptimal mungkin sesuai dengan kapasitas saya sebagai pencipta dengan referensi objektif keberadaan Mizan sejauh yang saya tangkap.

Ada beberapa alasan yang membuat saya kurang peka terhadap visi Mizan saat ini. Di antaranya, pandangan saya terhadap dunia penerbitan saat ini dan persepsi saya terhadap Mizan dalam situasi dan kondisi tersebut. Mizan bagi saya saat ini sudah harus seperti Gramedia (minus karya bersifat non-Muslim). Sebagai penerbit buku-buku umum, Mizan tidak membatasi pada poros khazanah ilmu-ilmu Islam. Dan itu harus dilakukan total, baik dari sudut pandang ekonomis maupun citranya. Ekonomis di sini saya artikan sebagai suatu usaha menjual buku-buku yang kontemporer (masalah aktual) yang tidak terbatas pada hal-hal bernuansa Islam saja. Citra yang saya maksud adalah citra yang lepas dari visi khazanah ilmu-ilmu Islam.

Seperti diuraikan sebelumnya, Mizan memang telah melakukan hal itu, namun bagi saya (maaf) belumlah total. Salah satu syarat untuk keluar dari visi yang dulu adalah Mizan harus berani mengambil jalan “kemajemukan” dalam fisik maupun semangat produksi. Dan hal ini yang tidak bisa saya tangkap secara nyata. Mizan masih tetap dalam kehomogenannya.

Roda ekonomi Mizan saat ini bukan lagi berasal dari peluang yang muncul dari sesuatu yang khusus, dengan adanya pergeseran minat konsumen, perubahan semangat zaman, dan keadaan Mizan sebagai mesin produksi (bukan lagi sekadar produk “pencerah”). Maka, mengingat itu semua, semangat kemajemukan yang menyiratkan kebesaran, kekukuhan, dan juga kedinamikaannya harus keluar dengan total dan inovatif. Ciri khas Mizan tidak bisa bertahan pada sesuatu yang berkarakter tunggal (hanya satu spirit), melainkan harus multispirit. Zaman yang kini terjadi, dan yang akan dihadapi, bukan lagi masa yang penuh dengan sifat “spesial”, melainkan zaman yang “general”. Ciri khas Mizan tidak bisa lagi dari lingkaran sempit (judul, peripta, dan tema), tapi dari visi (jumlah produksi, identitas, dan rekayasa permasalahan).

Mengenai jumlah produksi dan rekayasa permasalahan bukan tempat saya untuk saya bicarakan di sini. Sementara yang saya maksud dengan identitas adalah suatu penampilan citra langsung maupun tidak langsung yang dihasilkan oleh bahasa rupa maupun nonrupa. Dan dalam kondisi bahasa rupa inilah masalah utama Mizan dan sekaligus dilema buat saya sebagai peripta Mizan.

Dari beberapa tindakan Mizan, saya melihat adanya usaha meng-“Gramedia”. Karena itu, saya pun berusaha mengimbangi dengan memvariasikan ciri khas yang saya miliki. Namun, terkadang muncul tuntutan bahwa “saya”-nya tidak muncul. Dan ini membuat saya berguling lagi ke Gus Ballon, bukannya ke Mizan. (Hal ini berbeda dengan “dulu”: Mizan mencari yang khusus dan saya pun mencari yang istimewa. Sekarang, Mizan mencari yang “umum” dan saya tetap dituntut untuk mencari yang khusus.)

Saya tidak akan lari dari kenyataan. Saat ini desain penerbit lain tidak kalah bagusnya dengan saya, bahkan banyak yang lebih bagus. Namun dengan adanya perubahan persepsi akan “harus”-nya Mizan (menurut pertimbangan saya di atas), orientasi saya selalu berubah-ubah. Dan ada satu hal yang saya alami sebagai peripta sampul, yaitu arti atau kepuasan “orisinalitas” karya saya dalam mendesain sampul sudah tidak bisa tertampung lagi melalui teknik percetakan dan komputer. Definisi orisinalitas dalam desain saya juga mengalami perubahan. Saya lebih menyukai yang lebih bersifat material (kertas, karton, teknik bakar, lipat, dan sebagainya). Masalah gabungan fotografi, montase, atau yang bersifat teknis bagi saya sudah menjadi hal yang “biasa”. Karena itu, dalam mendesain sampul, usaha optimal saya hanya selalu mencoba lain dari yang lain, tetapi dengan cara terbatas—sebagai konsekuensi dari kesetaraan yang dihasilkan komputer.

Jadi, bagaimana seharusnya identitas desain Mizan? Jawabannya sangat bertentangan. Tidak harus selalu ada identitas yang khusus. Malah harus beragam, tidak homogen, namun pada jalur visi yang jelas. Identitas Mizan bukan lagi bertumpu pada desain (yang khusus), melainkan pada citra penerbit. Konsumen saat ini sudah tidak bisa terpancing pada sesuatu yang bersifat sesaat, melainkan pada apa yang dapat memberikan nilai tambah untuk dirinya. Dan nilai tambah itu bisa diperoleh dari sesuatu yang rasional, bukan yang sensasional. Karena hal yang sensasional dalam wacana kehidupan sudah terlalu ingar-bingar. Yang mereka dambakan adalah orisinalitas masalah dan aplikasi ke perupaannya tidaklah juga impulsif, namun impresif (mengendap, tidak mencolok) karena yang memancing sensabilitas konsumen saat ini bukan lagi warna, bentuk, melainkan makna. Dan masalah praktis bagi Mizan saat ini adalah bagaimana mencari desain yang bagus/benar namun dalam posisi di jalur visi yang dipenuhi secara konsekuen.

Penerbit-penerbit besar di negara yang lebih maju dibanding Indonesia tampak sadar bahwa konsumennya begitu kritis dan selektif. Dan juga heterogen. Karena itu yang mereka munculkan adalah “spirit” penerbit, bukan wajah produksi. Kebagusan/kebenaran perupaan wajah produksi (buku) diperoleh melalui seleksi perupaan yang ketat, sinergi dari berbagai masalah produksi, pemasaran, ekonomis, dan promosi, plus kekuatan citra yang dibentuk dari berbagai keanekaragaman visual yang lolos dari koridor visi yang ketat. (Lihat katalog penerbit-penerbit bermutu luar negeri, misalnya Paidon.)

Sekiranya uraian ini diterima, masalah utama dalam bidang desain untuk Mizan adalah keberanian untuk tampil secara fisik (rupa) yang lebih majemuk, tetapi juga tidak asal memakai peripta dari berbagai tempat. Sebagaimana desain Gramedia yang tampak kebingungan saat ini. (Banyak bukunya tidak menyiratkan “kedewasaan”—mungkin, ini sebuah spirit identitas Gramedia.)

Desain memang hanya salah satu unsur dari berbagai unsur yang ada dalam produksi buku. Ia kecil, tapi penting. Desain bukan tumpuan, ia hanya pelaju. Khususnya untuk Mizan saat ini.[]