Masukkan kata kunci Anda

Belajar Memahami Ibn. Arabi

Belajar Memahami Ibn. Arabi

Belajar Memahami Ibn ‘Arabi

Siapa yang tak kenal Ibn ‘Arabi? Mistikus besar bergelar al-Syaikh al-Akbar itu mungkin adalah tokoh paling berpengaruhnya dalam perkembangan tasawuf, tidak terkecuali perkembangan tasawuf di Nusantara pada abad 17-18. Banyak  nama yang bisa disebut seperti Hamzah al-Fansuri, Syams al-Din al-Sumatrani, ‘Abd al-Rauf as-Sinkili, Yusuf al-Makassari, dan ‘Abd Shamad al-Palimbani yang disinyalir terpengaruh dengan gagasan Ibn ‘Arabi. Bahkan, konon, Ronggowarsito yang terkenal dengan Ramalan Joyoboyo juga terpengaruh oleh Ibn ‘Arabi.

Salah satu pengkaji Ibn ‘Arabi di Indonesia adalah Prof. Kautsar Azhari Noer, Guru Besar Perbandingan Agama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saat ini beliau adalah salah seorang Honorary Fellows di Muhyiddin Ibn ‘Arabi Society (biasanya disingkat Ibn ‘Arabi Society), sebuah organisasi yang konsen terhadap upaya mempromosikan pemikiran Ibn ‘Arabi. Dalam Ibn ‘Arabi Society ia menyusul sarjana-sarjana lain yang telah lebih dahulu diangkat menjadi Honorary Fellows seperti Sayyed Hossein Nasr, William W. Chittick, Ralph Austin, Pablo Beneito, James Morris, Michel Chodkiewicz dan Claude Addas. Sebelum menjadi Honorary Fellow di Ibn Arabi Society, pada 2004 ia diundang untuk mengikuti Six-Month Course oleh Beshara School, sebuah lembaga pendidikan esoterik yang menjadikan ajaran Ibn ‘Arabi sebagai pegangan utama, di sebuah desa dekat Hawick, Skotlandia.

Karena saya menulis disertasi tentang Ibn ‘Arabi saya diundang oleh Beshara pada 2000 mengikuti Nine-Day Course yang diadakan di Jakarta.  Pada 2004 saya diundang ke Skotlandia untuk mengikuti Six-Month Course. Dalam Six-Month Course itu kami mengkaji Fushush alHikam dan kami juga mengkaji bagian-bagian pilihan karya-karya Rumi, Bhagavad Gita (kitab suci Agama Hindu).  Bhagavad Gita adalah bagian dari Weda,” jelas Kautsar.

Kautsar diangkat menjadi Honorary Fellow di Ibn ‘Arabi Society setelah selesai mempresentasikan makalahnya yang berjudul “The Encompassing Heart: Unified Vision for a Unified World” pada Twenty-fourth Annual Symposium of the Muhyiddin Ibn ‘Arabi Society, dengan bertema “Unified Vision – Unified World?“, yang diadakan di Oxford, pada 28–29 April 2007.

Konsep-konsep Ibn ‘Arabi  sampai sekarang menjadi panutan, menjadi rujukan. Dan (hampir) tak ada konsep baru tentang tasawuf setelahnya,” jelas Kautsar saat mengomentari betapa besarnya pengaruh pemikiran yang dibangun oleh ulama sufi ini. Sebut saja konsep seperti wahdat al-wujud, insan kamil, tajalli, hakikat Muhammad, dan a’yan tsabitah, semuanya dibangun oleh Ibn ‘Arabi. Kalaupun ada yang baru, menurut Kautsar yang dinukil dari Chittick, adalah pemikiran ‘Abd al-Karim al-Jilli, itu pun hanya modifikasi. Al-Jilli  termasuk ulama yang dipengaruhi Ibn ‘Arabi.

Ibn ‘Arabi memiliki nama lengkap Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad ibn ‘Arabi al-Tha’i al-Hatimi. Namun, ia lebih dikenal dengan nama Ibn ‘Arabi dan ia diberi gelar Muhyi ad-Din (Penghidup Agama) sehingga tak jarang dipanggil Muhyiddin Ibn ‘Arabi. Oleh pengagumnya, ia mendapatkan julukan Al-Syaikh al-Akbar (Doktor Maximus), julukan ini sampai sekarang masih dipakai untuk menyebut namanya.

Ibn ‘Arabi adalah ladang kontroversi yang tak pernah habis untuk dibahas dan didiskusikan. Ia serupa dengan samudera yang bisa direnangi oleh siapa saja, oleh yang menuduhnya kafir atau oleh yang mengaguminya karena keluasan ilmunya.

Menembus Batas

Dalam dunia persulukan menembus batas dunia yang jauh di belakang atau  di depan bukanlah hal yang aneh atau mustahil. Para salik mempercayai sesuatu yang sering dianggap tidak masuk akal yang diperoleh hanya oleh manusia pilihan Tuhan yang disebut wali. Menembus batas ini juga dialami oleh Ibn ‘Arabi. Dikatakan oleh Kautsar bahwa Ibn ‘Arabi bertemu dan berkomunikasi dengan para nabi, yang berbeda masa hidup dengannya. Dalam bahasa sederhananya, Ibn ‘Arabi menembus batas-batas ruang dan waktu untuk bertemu dengan orang-orang yang hidup pada masa sebelumnya.

Kautsar lalu mengambil pengalaman menembus batas itu dengan mengutip perkataan Ibn ‘Arabi dalam Mukaddimah kitab Fushush al-Hikam. Dalam kitab itu Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa ia bertemu dengan Nabi Muhammad dan becakap-cakap dengan beliau. Aku melihat Rasulullah dalam suatu kunjungan kepadaku pada akhir Muharram 627, di kota Damaskus. Dia memegang sebuah kitab dan berkata kepadaku: Ini adalah kitab Fushush al-Hikam; ambil dan sampaikan kepada manusia agar mereka bisa mengambil manfaat darinya. Aku menjawab, Segenap ketundukan selayaknya dipersembahkan ke hadirat Allah dan rasul-Nya; ketundukan ini seharusnya dilaksanakan sebagaimana kita diperintahkan. Oleh karena itu, aku melaksanakan keinginanku, memurnikan niat, dan mencurahkan maksudku untuk menerbitkan kitab ini seperti diperintahkan sang Rasul, tidak ada tambahan ataupun pengurangan di dalamnya. Begitu tulis Ibn ‘Arabi.

Jika melihat apa yang ditulis Ibn ‘Arabi dalam Mukaddimah kitab Fushush alHikam itu, Kautsar berpendapat bahwa sebenarnya Fushush alHikam bukanlah karya Ibn Arabi tapi karya (yang) di atas, yang dianugerahkan kepadanya melalui Rasulullah. Ibn ‘Arabi tidak menambah atau menguranginya.

Ibn ‘Arabi bertemu tidak hanya dengan Nabi Muhammad, tetapi ia juga dengan nabi-nabi lain. Ibn ‘Arabi mengatakan bahwa dirinya bertobat melalui (dibimbing oleh) Nabi Isa. Pertobatan itu menurut Kautsar, dinarasikan oleh Ibn ‘Arabi dengan kalimat tubtu biyadihi (Aku bertobat melalui tangan Nabi Isa). Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Ibn ‘Arabi bahwa Nabi Isa merupakan guru pertamanya, sebagaimana tertuang dalam kitabnya al-Futuhat alMakkiyah. Dan pada kesempatan lain, Ibn ‘Arabi juga mengatakan bahwa ia bertemu tiga kali dengan Nabi Khidir dan menerima khirqah (jubah bertambal sebagai simbol penempuh Jalan Spiritual) Nabi Khidir tiga kali melalui ‘Abd al-Rahman ibn ‘Ali al-Qasthallani, Muhammad ibn Qasim al-Tamimi, dan ‘Ali ibn Jami‘.

     Selama ini kita mengetahui bahwa Khatam al-Nabiyyin itu Muhammad Saw. dan Khatam al-Awliya ’ al-Amm adalah Isa As. Ibn ‘Arabi mengklaim bahwa ia sendiri adalah  Khatam al-Auliya’al-Muhammadi, khusus dalam lingkungan Nabi Muhammad. Posisinya sabagai Khatam al-Auliya’al-Muhammadi berarti bahwa kewaliannya adalah manifestasi komprehensif dan integral al-walayah al-muhammadiyyah (kewalian Muhamad), yang merupakan sumber tertinggi setiap bentuk lain kewalian. William Chittick mengatakan bahwa klaim Ibn al-‘Arabi bahwa ia adalah Penutup Para Wali Muhammad (Khatam al-Awliyā’ al-Muhammadiyyīn) menunjukkan secara tidak langsung bahwa ajaran-ajarannya meliputi semua ajaran Islam. Dalam kenyataan, kata Chittick, secara praktis setiap formulasi intelektual tasawuf setelah Ibn ‘Arabi berasal secara langsung atau tidak langsung dari karya-karyanya sendiri atau karya-karya para pengikutnya. Dalam hal ini, paling tidak, sulit untuk menolak klaim ini.

Pernyataan-Pernyataan yang Paradoks

Tidak kurang dari tiga ratus karya yang ditulis Ibn ‘Arabi, hingga saat ini karya-karyanya masih terus dikaji, diantaranya adalah Fushush al-Hikam, Futuhat al-Makkiyyah, dan Tarjuman al-Asywaq. Tidak sedikit pengkaji Ibn ‘Arabi merasa kesulitan saat menelaah karya-karyanya. Hal ini dikarenakan ia sangat ‘luwes’ menggunakan pernyataan-pernyataan yang paradoks dan kosakata-kosakata yang memiliki makna berlapis dan dalam. Karena kegemarannya ini tak jarang para pengkajinya kesulitan memahaminya atau karena tak bisa menjangkau makna sesungguhnya menjadi marah pada Ibn ‘Arabi, bahkan menuduhnya sesat. Menyinggung soal kegemaran Ibn ‘Arabi ini, Kautsar mengatakan, Ibn ‘Arabi tidak berkeinginan menyampaikan atau memiliki pesan khusus apa pun dan pada siapa pun. Dia menyampaikan pesan-pesan yang diinginkan oleh Allah melalui bimbingan-Nya.

 

Menurut Kautsar, pengalaman spiritual tidaklah mudah untuk diungkapkan dalam sebuah bahasa atau kalimat. Pengalaman spiritual adalah ruang yang sangat personal dan tak bisa dijangkau oleh selain yang mengalami. Ibn ‘Arabi banyak menggunakan pernyataan-pernyataan yang paradoks. “Bila ada yang mengajukan pertanyaan ‘Pesan apa yang hendak disampaikan oleh Ibn ‘Arabi dengan pemilihan diksi itu,’ maka jawaban yang tepat adalah: pertanyaan ini sediri kurang tepat. Mengapa? Karena tidak bisa dikatakan bahwa Ibn ‘Arabi hendak menyampaikan pesan dengan memilih diksi, tetapi Tuhanlah yang menghendaki dan  memilih pesan-pesan dan diksi-diksi agar disampaikannya kepada manusia.” Jelas Kautsar.

Kautsar kemudian memberikan contoh ‘permainan’ kata Ibn ‘Arabi dalam kalimat yang paradoks seperti kalimat: ya‘buduni wa a‘buduhu. Kalimat tersebut menurut Kautsar rawan sekali untuk disalahpahami, dan memicu kemarahan banyak orang. Karena bagaimana mungkin Tuhan menyembah manusia? Bukankankah manusia yang menyembah Tuhan? Padahal, menurut Kautsar, kalimat ya‘buduni wa a‘buduhu itu mempunyai makna yang sangat dalam, kata ya‘budu sendiri memiliki makna menyembah, mengabdi, atau melayani. Menurut Kautsar, makna kata ya‘budu (menyembah) itu adalah mengabdi atau melayani. Jadi arti kalimat ya‘buduni wa a‘buduhu itu adalah ‘Dia mengabdi padaku dan aku mengabdi pada-Nya,’ atau ‘Dia melayaniku dan aku melayani-Nya’.  

Makna kalimat ya‘buduni wa a‘buduhu bisa dipahami dengan sebuah pertanyaan awal, mengapa manusia harus melayani” Tuhan? Karena pada dasarnya sebelum manusia bisa melayani Tuhan dengan ibadahnya, pengabdianya, pelayananannya, Tuhan telah terlebih dahulu melayani manusia, bahkan saat manusia belum bisa melayani diri-Nya. Pelayanan Tuhan pada manusia itu dalam bentuk jasad, jiwa, roh, napas, pendengaran, penglihatan, rizki, dan semua nikmat yang tak mungkin dihitung jumlahnya. Maka kalimat ya‘buduni wa a‘buduhu (Dia melayaniku dan aku melayani-Nya) adalah kalimat yang menjelaskan Tuhan sejatinya adalah ‘pelayan’ manusia, bahkan Tuhan telah melayani manusia semenjak manusia itu belum bisa melayani Tuhan. Sehingga bisa dikatakan bahwa sesungguhnya manusia dan Tuhan itu saling melayani.

Satu contoh kalimat di atas bila tak dipahami dengan baik pasti akan menimbulkan kemarahan atau kebencian pada Ibn ‘Arabi. Pernyataan-pernyataan yang paradoks seperti itu bertebaran dalam karya-karya Ibn ‘Arabi. Karena tidak mampu memahami pernyataan-pernyataan paradoks yang (di)pilih(k)an oleh Tuhan dalam karya-karya Ibn ‘Arabi, menurut Kautsar, orang seringkali menuduhnya kafir, sesat, atau menyimpang. Bahkan tuduhan itu juga datang dari ulama besar sekaliber Ibn Taimiyyah.

Doktrin Wahdat al-Wujud: Sering Disalahpahami

     Saat membincang doktrin wahdat alwujud tidak sedikit orang yang salah paham dengan Ibn ‘Arabi, sehingga dengan mudah menuduhnya kafir atau sesat. Tuduhan itu muncul karena menganggap Ibn ‘Arabi mengidentikkan Tuhan dengan alam.

Banyak orang yang salah paham terhadap doktrin wahdat alwujud Ibn ‘Arabi karena mereka menekankan hanya sifat tanzih (sifat transenden atau tidak bisa dibandingkan dengan alam) Tuhan, dan mengabaikan sifat tasybih (sifat imanen atau ada keserupaan dengan alam) Tuhan “…jika hanya itu (sifat tanzih atau transenden) yang ditekankan, maka itu salah paham tentang wahdat al-wujud – karena menggunakan penalaran akal dan itu tidak sampai pada pemahaman yang benar,papar Kautsar.

Menjelaskan wahdat alwujud ini, Kautsar mengajak untuk melihat Tuhan dari dua sisi. Pertama, melihat Tuhan dari segi Tuhan itu sendiri atau God in Him self (Tuhan sebagaimana adanya, sebagai diri-Nya sendiri). Tuhan dari segi ini tidak bisa dilukiskan; Dia adalah transenden, sama sekali berbeda dengan alam . Kedua, melihat Tuhan dari segi tajalli-Nya, penampakan diri-Nya, nama-nama-Nya, relasi-Nya dengan alam. Tuhan dari segi ini serupa dengan alam; Dia adalah imanen, dekat dengan dan di dalam alam, serupa dengan alam. Tuhan dapat diketahui dari segi nama-nama-Nya, bukan dari segi zat-Nya.

Tuhan, jelas Kautsar, bukan hanya munazzah tapi juga musyabbah. Kenapa ada keserupaan antara Tuhan dengan alam, karena alam adalah tempat penampakkan diri Tuhan, karena alam adalah gambar Tuhan, karena alam ini adalah cermin Tuhan. Tetapi jika dilihat dari segi dzat-Nya, Tuhan sama sekali berbeda dengan alam.

Alam semesta beserta isinya, termasuk manusia, adalah tempat tajalli, teofani, ekspresi, atau penampakan diri Tuhan. Sebagian sufi menyebut alam sebagai dzilullah  atau bayangan Allah. Maka, jika demikian hanya ada satu wujud hakiki, yakni Tuhan. Segala sesuatu selain Tuhan tidak ‘memiliki’ wujud. Dalam bahasa Ibn ‘Arabi, segala sesuatu selain Tuhan hanya memiliki wujud pinjaman (wujud musta‘ar). Menurut Kautsar, doktrin Ibn ‘Arabi tentang wahdat alwujud ini adalah semurni-murninya Tauhid, karena  tidak ada sesuatu pun yang mempunyai wujud kecuali Tuhan. Wujud hanya satu, yaitu wujud Tuhan.

 

Seperti inilah Kautsar menjelaskan tentang wujud yang satu “Wujud hanya satu, jangan dikatakan ada dua wujud lalu bersatu, bukan (seperti itu). Wujud hakiki hanya satu, yaitu Tuhan; selain dari Tuhan tidak mempunyai wujud kecuali dalam arti metafor.” Meyakini ada dua wujud yang berbeda, wujud Tuhan dan wujud alam, bisa berarti ketidaksempurnaan tauhid secara ontologis.

Manusia sebagai Cermin Tuhan

Alam dan semua yang terjadi di alam ini adalah tajalli Tuhan, alam semesta dan isinya adalah tempat tajalli Tuhan, tidak lebih dari itu. Tajalli Tuhan yang paling sempurna terlihat pada manusia. Manusia adalah cermin Tuhan paling sempurna.  Pada setiap ciptaan ada tajalli atau manifestasi Tuhan, pun pada binatang, tumbuhan, mineral, dan lainnya. Namun, sekali lagi menurut Kautsar, tajalli Tuhan yang paling sempurna ada pada manusia. Semua nama Tuhan ada pada manusia, namun dengan catatan: manusia yang bisa menjadi cermin Tuhan yang sempurna adalah manusia yang memiliki kesiapan atau isti’dad yang sempurna. Dalam hal ini, kita bisa mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah  ciptaan yang mencerminkan pada dirinya nama-nama Tuhan secara penuh dan seimbang; beliau adalah  Manusia Sempurna (insan kamil), manusia yang berakhlak dengan nama-nama Allah.

Tuhan melimpahkan tajalli-Nya pada manusia sesuai dengan kesiapan yang dimilikinya. Contoh yang diambil oleh Kautsar tentang kesiapan ini adalah sebuah gelas yang dialiri air. Jika gelas itu berada pada posisi miring, atau berisi benda-benda lain, maka air yang dapat ditampung takkan sebanyak gelas yang berada posisi tegak, atau gelas yang kosong. Begitu pula dengan alam semesta dan manusia, masing-masing menerima penampakan diri (tajalli) Tuhan sesuai dengan kesiapannya. Termasuk juga limpahan pengetahuan kepada manusia hanya diberikan sesuai dengan kesiapan si penerima atau qabil. Bagi yang memiliki hanya sedikit kesiapan, maka ia menerima hanya sedikit limpahan pengetahuan dari Tuhan.

Ibn ‘Arabi sendiri, menurut Kautsar, memiliki doa untuk meminta kesiapan menerima manisfestasi Tuhan. Berikut adalah potongan doa Ibn ‘Arabi yang dituturkan oleh Kautsar: Rabī hablī isti‘dādan kāmilan liqabūli faydlika alaqdas” (Ya Tuhan, berilah aku kesiapan yang sempurna untuk menerima limpahan-Mu yang paling suci).

(Mungkin) Dipilihkan oleh Tuhan

Kalau ditanya mengapa atau karena apa saya menulis disertasi tentang wahdat al-wujud Ibn’Arabi? Saya susah menjawabnya. Kadang-kadang pertanyaan kenapa itu tidak relevan. Kalau ada pertanyaan kenapa harus Nabi Muhammad yang dipilih Tuhan untuk menjadi nabi dan rasul-Nya? Pertanyaan itu tidak relevan, karena Tuhan yang memilih (kok), dan kenapa tidak saya (yang dipilih?).  Saya tidak (sedang) menyebut ini fatalisme,papar Kautsar. Pertanyaan kenapa dan mengapa pada kasus-kasus tertentu baginya adalah pertanyaan yang tidak relevan dan tidak bisa dijelaskan.

Awal mulanya, sebelum mengkaji Ibn ‘Arabi secara serius, Kautsar mengajukan dua proposal disertasi, tetapi kedua-duanya ditolak oleh Prof. Harun Nasution, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pascasarjan IAIN Jakarta. Proposal pertamanya membahas penjajahan Spanyol dan Islam di Filipina. Proposal keduanya membahas tentang konsep manusia menurut Ali Syariati. Dua proposal itu ditolak karena referensi utama kajian itu dalam bahasa  Spanyol (untuk penelitian pertama) dan dalam bahasa Persia (untuk penelitian kedua) tak dikuasi oleh Kautsar. Proposal ketiga yang diajukan oleh Kautsar adalah tentang tasawuf dan panteisme: sebuah kajian atas pemikiran al-Hallaj, Abu Yazid al-Bustami, Ibn ‘Arabi, ‘Abd al-Karim al-Jili, dan Hamzah Fansuri. Namun, oleh Prof. Harun Nasution, disarankan agar Kautsar memilih salah satu dari lima tokoh ini, dan beliau merekomendasikan agar ia memilih Ibn ‘Arabi.

Akhirnya Kautsar berketetapan hati menulis disertasi yang berjudul “Wahdat al-Wujūd Ibn al-‘Arabi dan Panteisme,” untuk memperoleh gelar Doktor Ilmu Agama Islam. Mungkin pertanyaan “mengapa memilih” menulis disertasi tentang doktrin wahdat al-wujud Ibn ‘Arabi tidak relevan. Mengapa tidak relevan? Kautsar meyakini bahwa perjalanan hidupnya, sebagaimana juga perjalanan hidup semua manusia lain, diatur oleh Yang Maha Pengatur, atau dirancang oleh Yang Maha Perancang. Ia mengatakan, “Mungkin saya dipilihkan oleh Tuhan agar menulis disertasi tentang wahdat al-wujud Ibn ‘Arabi.”

Kautsar bukan hanya tertarik mengkaji tasawuf Ibn ‘Arabi, tetapi juga belajar menjadikannya sebagai jalan hidup spiritual. Baginya, menekuni kajian perbandingan agama sebagai bidang studi akademik formalnya sampai hari ini, dan juga gemar belajar filsafat dan ilmu kalam, harus diimbangi dengan kajian tasawuf. Pengetahuan konseptual harus diimbagi dengan pengetahuan spiritual, itulah yang pas baginya.

Penulisan disertasi Pak Kausar ternyata membutuhkan waktu cukup lama karena kurangnya bahan-bahan yang dibutuhkan. Atas rekomendasi Prof. Harun Nasution, Kautsar akhirnya diberangkatkan ke McGill University di Kanada untuk mencari sumber-sumber yang dibutuhkan untuk penulisan disertasinya dan mengkaji lebih dalam tasawuf bersama dengan Prof. Hermann Landolt, seorang sarjana Kajian Islam asal Swiss. Sebelum berangkat ke Kanada, Prof. Charles Adams, seorang sarjana Kajian Islam dan pernah menjabat Direktur The Institute of Islamic Studies di McGill University, merekomendasikan agar Kautsar membaca buku Toshihiko Izutsu yang berjudul Sufism and Taoism untuk memahami Ibn ‘Arabi.

 

Toshihiko Membantu Memahami Ibn ‘Arabi

Saya mengikuti rekomendasi itu, dan ternyata benar. Dan itu (buku Sufism dan Taoism) sangat membantu saya dalam memahami Ibn ‘Arabi,” tegas Kautsar saat ditanya seberapa penting karya Toshihiko Izutsu itu dalam memahami Ibn ‘Arabi. Kautsar mengakui bahwa dua karya yang memberikan kontribusi sangat besar baginya dalam memhami Ibn ‘Arabi sehingga ia bisa menyelesaikan tugas akhirnya, yaitu Sufism and Taoism oleh Toshihiko Izutsu dan The Sufi Path of Knowledge oleh William C Chittick.

Memahami teks-teks Ibn ‘Arabi tidaklah mudah, butuh waktu panjang dan kejernihan hati dalam memahami makna setiap kata yang tertuang dalam teks-teks itu. Ada satu cerita ketika Kautsar mendengarkan pengakuan yang jujur tentang betapa sulitnya memahami teks Ibn ‘Arabi dari seorang mahasiswa doktoral (S-3) di The Institute of Islamic Studies di McGill University yang berkebangsaan Sudan. Mahasiswa itu menceritakan pada Kautsar seraya berkata: “Bahasa ibu saya adalah bahasa Arab, tapi saya tidak paham Fushush al-Hikam.”

Toshihiko Izutsu dalam kacamata Kautsar adalah sarjana yang hebat yang mampu memahami Ibn ‘Arabi. Meskipun bahasa Arab bukan bahasa kesehariannya, ia mampu memahami dengan baik teks-teks Ibn ‘Arabi yang sangat sulit. Bahkan mampu menuliskan ulang dan menjelaskan pemikiran Ibn ‘Arabi. Toshihiko sendiri adalah professor Emiritus Universitas Keio di Jepang yang mengusai setidaknya tiga puluh bahasa mulai dari Arab, Persia, Pali, Cina, Jepang, Rusia, sampai Yunani.

Bagi Kautsar, saat ini, buku Sufism and Taoism karya Toshihiko telah menjadi karya klasik, dalam arti bahwa karya itu telah menjadi rujukan dalam mengkaji Ibn ‘Arabi dan sering didiskusikan. Sufism dan Taoism, menurut Kautsar, sangat menarik dan membantu memahami tasawuf Ibn ‘Arabi, karena disusun dengan sangat sistematis, pada setiap permulaan pembahasan, kecuali pembahasan pertama, selalu diawali dengan rangkuman penjelasan pembahasan sebelumnya, sehingga memudahkan pemahaman bagi para pembacanya. Sebuah fakta yang menarik perhatian adalah Sufism and Taoism ditulis oleh Toshihiko dengan merujuk Fushush alHikam Ibn ‘Arabi melalui syarah  Qasyani, yang di dalamnya terkandung syarah Bali Affandi.

Meski Toshihiko tidak merujuk pada al-Futuhat alMakkiyah dalam penulisan Sufism and Taoism, menurut Kautsar, Toshihiko telah melahirkan karya yang luar biasa. Hal ini ditegaskan Kautsar hanya sedikit orang yang mampu memahami Fushush alHikam.Toshihiko tidak pernah mengutip al-Futuhat. Meski hanya merujuk pada Fushush , karya Toshihiko itu luar biasa. Mengapa? (Maaf) banyak orang yang baca Fushush tapi tidak memahaminya, sedangkan Toshihiko bisa memahami Fushush  dengan baik,ujar Kautsar.

“Saya juga termasuk orang yang merekomendasikan bagi siapa pun yang mau mengkaji Ibn ‘Arabi untuk membaca karya Toshihiko Izutsu itu, karena karya itu sangat baik dan sangat membantu,” saran Kautsar. Saat ini buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Musa Kazhim dan diterbitkan oleh Penerbit Mizan menjadi dua buku. Buku pertama berjudul Sufisme: Samudera Makrifat Ibn ‘Arabi, sedangkan buku kedua berjudul Toisme: Konsep-konsep Filosofis Lao-Tzu dan Chuang Tzu serta Perbandingannya dengan Sufisme Ibn ‘Arabi.  (Nur Hayati Aida)

Post Scriptum: Tulisan di atas diolah dari transkrip wawancara dengan Prof. Kautsar Azhari Noer.