fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Bedah Buku #MO: Kolaborasi Musik dan Buku di Langit Musik

Bedah Buku #MO: Kolaborasi Musik dan Buku di Langit Musik

Ada yang berbeda pada acara Langit Musik di Telkom Indonesia, Kamis, 29 Agustus 2019. Tidak hanya menghadirkan suara emas dari Anji tapi disertai juga dengan Bedah Buku #MO karya Rhenald Kasali.

#MO karya terbaru dari Rhenald Kasali yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan ini menjelaskan tentang dampak dari perkembangan teknologi dalam kehidupan, yang tidak hanya menyentuh keseharian manusia, namun juga pada dunia bisnis.

Rhenald Kasali menyebutkan salah satu hal yang melatarbelakangi penulisan buku ini adalah bahwa saat ini  banyak orang #gagalpaham yang menimbulkan “keributan”. Terjadi pertarungan antara Old Power dengan para milenial sebagai the New Power”.

Pada era #MO (Mobilisasi dan Orkestrasi) ini, banyak terobosan milenial yang membuat Old Power gagal paham. Ketika milenial membuat suatu usaha, misalnya, mereka tidak menggunakan aset layaknya bisnis lama yang bisa terlihat, dihitung, dan dijaminkan ke bank. Saat membuka usaha hotel, mereka tidak membeli tanah dan membangun hotel, namun mereka mengajak hotel ataupun rumah pribadi untuk berkolaborasi menjadi bagian dari usaha hotel mereka, seperti yang dilakukan oleh Airbnb dan Red Doorz. Dalam waktu dua tahun di Indonesia saja, Airbnb berhasil menyediakan 8 ribu kamar dengan 880 ribu tamu, sehingga membukukan pendapatan Rp1 triliun. Mereka hanya mengorkestrasi pemilik hotel dan penginapan.The power of orchestration.

Aset tangible tidak lagi menjadi penting untuk bisnis di era #MO, yang terpenting adalah mengorkestrasi aset-aset intangible menjadi sumber daya dan mampu menghasilkan uang. Aset Intangible tidak bisa dihitung dalam perbukuan akutansi karena melekat pada manusia, seperti brand image, ketrampilan (skills),  pengetahuan, kerja sama jejaring, dan budaya perusahaan.

Oleh karena itu, valuasi Gojek bisa lebih besar dari Garuda Indonesia karena Gojek memiliki aset-aset intangible yang membuat mereka mengungguli Garuda Indonesia.

Dalam buku ini, Rhenald Kasali juga memperkenalkan Online Mobilization Mix, yaitu suatu metode untuk menguasai prinsip dasar dari mobilisasi dan orkestrasi. Seperti halnya Marketing Mix, dalam mobilisasi ada bauran untuk melakukan mobilisasi online positif yang bisa dimanfaatkan untuk membuat isu positif maupun membangun brand, yang disingkat dengan SHARE (Story, Hype, Actionable, Relevant dan Emotional).

Salah satu pesan yang disampaikan oleh Rhenald Kasali dalam kesempatan ini kepada para milenial dan Old Power adalah dalam era #MO kita harus mampu beradaptasi dan memiliki explorative mindset sehingga kita tidak akan terkejut saat melihat hal baru dan tidak gagal paham.

Senada dengan Rhenald, Anji yang tampil menutup acara memberikan kiatnya tetap bertahan dalam industri musik di saat penjualan album offline tidak lagi menjadi sumber pendapatan utama musisi, “Sejak tahun 2007, saya sudah beradaptasi dengan dunia digital, saya aktif dalam sosial media  dan menghasilkan karya-karya yang dijual melalui berbagai platform digital. Musisi saat ini harus bisa tanggap terhadap teknologi bila tidak mau ketinggalan,” ujar Anji.

Keberhasilan Anji dalam beradaptasi dengan era #MO membuatnya menjadi musisi dengan penghasilan tertinggi pada tahun 2017 dalam dunia digital.

Acara bedah buku ini selain dihadiri oleh karyawan Telkom Indonesia dan pendengar Langit Musik, juga dihadiri oleh Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah dan Deputi Infrastruktur Bisnis Kementrian BUMN Hambra.

Buku #MO saat ini sudah bisa didapatkan di toko-toko  buku terdekat di kota Anda.