fbpx

Enter your keyword

Andrea Hirata dan Kisah dibalik “Orang-Orang Biasa”

Andrea Hirata dan Kisah dibalik “Orang-Orang Biasa”

Karya ke-11 Andrea Hirata resmi diluncurkan dengan judul “Orang-Orang Biasa”. Selama 15 tahun persahabatan Andrea Hirata dengan penerbit Bentang Pustaka, selalu lahir karya-karya yang menjadi suara dari kaum marjinal Indonesia.

“Kawan, saya enggak bisa keluar dari tema orang-orang marjinal, orang terpinggirkan. Karena saya berasal dari budaya seperti itu,” kata Andrea dalam jumpa pers peluncuran novel “Orang-orang Biasa” di Diskusi Kopi, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (28/3/2019).

Novel “Orang-Orang Biasa” memang masih bertemakan kisah orang-orang marjinal. Namun kali ini Andrea mengemasnya secara berbeda dengan membawa latar belakang cerita kriminal. Dikisahkan bahwa seorang anak miskin bernama Aini, diterima di fakultas kedokteran PTN. Akan tetapi, mimpi besarnya terhalang biaya pendaftaran kuliah yang tinggi. Orang-orang terdekat Aini pun berempati dan ingin melakukan sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sama sekali, yaitu merampok bank untuk membiayai kuliah Aini.

“Semua uang di dunia ini ada di Bank! Anakmu harus masuk Fakultas Kedokteran itu! Apa pun yang akan terjadi! Hapus air matamu, Dinah! Siapkan dirimu! Siapkan dirimu baik-baik! Karena kita akan merampok bank itu!” dan dari sinilah cerita di mulai.

Kisah “Orang-Orang Biasa” ini sebenarnya terinspirasi dari sosok bernama Putri Berlianti. Seorang anak tetangga Andrea Hirata di Belitong yang diterima di fakultas kedokteran Universitas Bengkulu namun harus pupus harapannya karena ia tidak mampu membayar biaya masuk kuliahnya.

Andrea bercerita bahwa ia mengetahui kisah ini pada tahun 2017, ketika itu ia diceritakan oleh ibunya Putri Berlianti bahwa tahun 2015 lalu Putri diterima di fakultas kedokteran Universitas Bengkulu namun keluarganya kesulitan membayar biaya masuk kuliah sebesar 13 juta rupiah. Putri pun berupaya meminta keringanan dari kampus namun hanya diringankan 1 juta. Akhirnya Putri pun mengubur cita-citanya untuk menjadi dokter.

Setelah mengetahui hal ini, Andrea pun berupaya menyurati kampus tersebut agar Putri bisa diterima kembali kuliah dan akan menanggung biaya perkuliahannya. Namun dari pihak kampus tidak bisa mengabulkan hal tersebut karena terlambat 2 tahun dari diterimanya Putri di universitas tersebut.

Andrea menjelaskan bahwa tujuannya mengangkat sosok Putri Berlianti bukanlah untuk bahan komersil. Ia hanya ingin berjuang bersama Putri melalui novel ini.

“Saya melawan anggapan kalau anak miskin itu tidak bisa menjadi dokter. Kita hidup di negara merdeka. Akses untuk bisa meraih cita-cita itu dari kecerdasannya bukan dari materinya,” ucap Andrea lagi.