Masukkan kata kunci Anda

Alquran dan Bahasa Arkaik

Alquran dan Bahasa Arkaik

Penulis: Salman Faridi*

Sejak diwahyukan 14salman faridi100 tahun lalu, kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. ini seiring waktu terus mengalami uji ilmiah baik bersifat teks maupun konteks. Posisinya sebagai bagian besar teks kitab suci dalam tradisi Abrahamik, misalnya, mula-mula dianggap sebagai bagian atau kombinasi dari dua tradisi sebelumnya yaitu Judeo-christian. Secara linear, karena Al Quran disusun setelah Injil dan Torah, apa yang ada di dalam Al Quran memuat pula, meskipun tidak semua, kisah-kisah yang sama dalam tradisi Yahudi dan Kristen.

Yang paling menarik, setidaknya, dari sisi perkembangan bahasa, kemunculan Bahasa Arab, yang berasal dari rumpun bahasa Nabatea dan Aramaic memiliki keluarga bahasa yang sama dengan Ibrani kuno (Hebrew), lalu belakangan bahasa Yunani Romawi yang melahirkan alphabet modern, yang bermuasal kepada bahasa sekaligus bangsa Phoenicia yang diperkirakan dikenali mulai 2300-500 tahun SM, dan mendiami sebuah daratan bernama Canaan di dekat kebudayaan Mesir kuno. Bapak para bangsa, Ibrahim, dan kemudian Yakub (Israel) dan anak keturunannya pernah bermukim di wilayah ini. Bahkan salah satu anaknya, Yusuf (Joseph) pernah menjadi wazir terhormat dalam masa kerajaan mesir kuno.

Salah satu pengaruh penting bangsa Phoenicia terhadap peradaban modern adalah penciptaan huruf-huruf berjumlah 22 yang kesemuanya konsonan. Empat huruf pertama dalam bahasa Phoenicia yaitu Aleph, Beth, Gimel dan Daleth adalah basis alphabet modern yang dipopulerkan oleh bangsa Yunani, yang darinya nama alphabet dilahirkan, yaitu gabungan dua huruf pertama dalam bahasa Yunani alpha dan beta. Dengan pengecualian bahasa Ibrani kuno yang tetap mempertahankan bentuk arkaik huruf-huruf ini sampai sekarang dan menyebutnya Alephbeth, bahasa Arab sedikit memodifikasi suara dan kemudian bentuk hurufnya. Maka huruf-huruf yang awalnya Aleph menjadi Alif, Beth menjadi Ba/Be, Gimel menjadi Jim, dan daleth menjadi dal. Modifikasi huruf Phoenicia ke dalam bahasa Arab ini kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi Abjad. Tak lain gabungan dari huruf-huruf Alif Ba Jim dan Dal (A-B-J-D).

Al Quran setidaknya memuat 29 surat yang diawali dengan huruf-huruf ini, dan jika kita menghilangkan huruf-huruf yang terulang ada sekitar 14 huruf arkaik atau arketip (archetype) yaitu Alif, Lam, Mim, Shad, Ra, Kaf, Ha (besar), Ya, ‘Ain, Tha, Sin, Ha (kecil), Qaf dan Nun. Sebagian besar ulama menyebut huruf-huruf yang berdiri sendiri (muqatta’at) ini sebagai bagian dari ayat-ayat mutasyabihat, yang diyakini hanya Allah sendiri yang tahu pasti arti dan makna ayatnya (tanda/simbol). Namun, sebagian lagi berpendapat bahwa ulama atau cendekia lainnya yang diberikan kelebihan pengetahuan, semisal pengetahuan esoterik, memiliki kemampuan menangkap makna huruf-huruf ini. Di antara ulama yang mencoba mengartikannya adalah Syaikh akbar Ibn Arabi dalam salah satu magnum opus-nya, alFutuhat al-Makkiyyah.

Perlu juga diketahui bahwa karena faktor kedekatan dengan kebudayaan Mesir kuno, perkembangan huruf Phoenicia sedikit banyak dipengaruhi oleh cara bangsa mesir menyusun sistem tulisan mereka yang dikenal dengan Hieroglyph. Simbol Aleph misalnya adalah huruf “A” modern yang diputar 90 derajat ke kanan dengan garis tengah yang lebih panjang sehingga menabrak dua garis lurus berbentuk tenda atau segitiga, adalah tanda yang berarti sapi dengan penanda berbentuk tanduk sapi yang digunakan oleh bangsa mesir kuno. Jumlah Hieroglyph tak kurang dari 800 pada masa kerajaan kuno, pertengahan dan kerajaan baru, namun diperkirakan berkembang menjadi 5000 simbol pada masa Yunani Romawi.

Dari sisi pengetahuan arkaik ini tampak menarik bahwa permulaan surat Al Baqarah yang berarti sapi (betina) diawali dengan tiga huruf yaitu Alif Lam Mim, dan kini kita mendapat cukup informasi bahwa bentuk atau simbol Alif mula-mula juga berarti sama yaitu sapi. Sebuah kedekatan yang bisa jadi bukan kebetulan untuk memulai surat pertama dalam Al Quran yang menceritakan kisah Musa dan anak keturunan Israel yang menjadikan sapi sebagai simbol tuhan semasa Musa menerima wahyu di gunung Sinai. Selain itu, kisah lain tentang sapi ditemukan juga sebagai bagian dari mukjizat menghidupkan orang mati yang dibunuh oleh sesama orang Israel.

Ibn Katsir salah seorang penulis tafsir klasik ketika menjelaskan huruf muqatta’at mengutip pandangan banyak ulama pada saat itu menekankan pada aspek kemukjizatan Al Quran, yang berupaya menundukkan kesombongan kaum musyrik Makkah dan para penyair terbaik Arab pada zamannya untuk menghasilkan surat, ayat dan keindahan serupa Al Quran. Arketip itu ada di sana sebagai sebuah mukjizat dan bukan sebuah kesalahan, atau diletakkan begitu saja tanpa makna. Namun, kalaupun tidak mendapatkan sama sekali petunjuk tentang makna huruf itu, para ahli tafsir biasanya akan berhenti dan mengimani saja tanpa syarat dengan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah: kami beriman kepadanya, semua berasal dari tuhan kami (QS Ali Imran [3]: 7).

Barangkali cuma ibn Arabi yang mengambil jalan sedikit mendaki, dengan berupaya memecahkan sandi dalam huruf hijaiyah yang terpisah-pisah itu. Dalam karya yang ditulis sang guru besar semasa di Makkah, al Futuhat al Makkiyyah, ke-28 abjad dalam huruf hijaiyah disusun berdasarkan 7 tingkatan berbeda yang melambangkan keseluruhan proses bagaimana semesta ini berawal dari huruf Alif yang berarti pena sebagai gagasan tuhan yang murni dan diakhiri dengan huruf Waw yang berarti pengungkit derajat yang bertindak sebagai alat mencapai tujuan besar manusia untuk bergerak secara vertikal menapaki tingkatan spiritual. Semua proses ini tersembunyi dalam makna setiap huruf.

Melihat rangkaian arketip itu pada masa kini, sesungguhnya mengingatkan kita pada bahasa enkripsi dalam ilmu komputer modern yang digunakan untuk melindungi data supaya tidak dijebol lalu dicuri. Dalam bahasa wahyu teks Al Quran dilindungi supaya tidak diubah, dipalsukan, sehingga mengacaukan pesan aslinya. Dengan pendekatan enkripsi ini huruf-huruf itu seakan ada di sana ribuan tahun lamanya menunggu untuk dipecahkan. Misterius dan menantang akal!

Penulis adalah CEO Penerbit Bentang